Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Introgasi


__ADS_3

***


"Kenapa melamun? Ayo cepat beri tahu kami, kamu ngapain aja sama laki-laki hutan itu? Gak mungkin 'kan kalian cuma pelotot-pelototan sampe satu bulan lamanya?" timpal sang Ayah.


Posisi Ana sekarang benar-benar sangat terpojokkan oleh kecurigaan dua orang tuanya ini.


Plak!!


Tamparan kedua kali kembali melayang di bahu Ana yang satu lagi. Dia mengusap bagian itu sambil meringis kesakitan.


"Duh, sakit Bu. Aku nggak ngapa-ngapain sama dia."


"Bohong! Percaya sama kamu itu tidak jelas. Lihat saja ibu hampir kehilangan putri Ibu karena kebohongan terakhir kamu kemarin. Cuma mau beli pembalut ko sampe tersesat ke pulau antah brantah," maki Ibu.


Ana menyeringai geli. Perempuan itu jadi ingat saat dia pamit pergi ke mini market untuk membeli pembalut. Namun, setelah membeli pembalut Ana langsung tancap gas pergi ke pelabuhan.


Sebelumnya dia sudah menitipkan kopernya di apartemen Nasya. Jadi untuk kabur tidak perlu banyak-banyak menggunakan acara drama. Ana berhasil kabur, tapi gagal liburan karena kewalat dan belum meminta restu si Ibu.


"Maaf, Bu. Yang satu itu aku memang berbohong. Tapi kali ini aku tidak berbohong. Aku tidak melakukan apa-apa di sana," ujar Ana.

__ADS_1


"Kalau begitu langsung bawa ke rumah sakit saja, Bu. Kita periksa dia hamil atau tidak. Percuma pula mengintrogasi anak itu. Pasti dia gak mau ngakulah."


"Ya ampun, Yah, Bu! Aku masih waras. Aku juga masih perawan. Sumpah Demi Tuhan aku masih perawan!" kecuali tangannya, batin Ana. Tentunya kelakuan Ana yang satu itu ia simpan rapat-rapat hanya untuk dirinya dan juga Naki.


"Kita pulang saja ke rumah, Bu. Aku benar-benar lelah. Aku pengin istirahat," lirih anak itu. Ana bergelayut manja di lengan sang ibu.


"Memangnya Ibu tidak kangen sama aku?"


"Ya kangen. Tapi kami khawatir pria hutan itu ngapa-ngapain kamu?"


"Namanya Naki, Bu."


Khawatir apa menghinaku ini, Bu? Batin Ana.


Gadis itu mencoba tersenyum. Kali ini matanya berbinar saat pembahasan itu beralih kepada Naki.


"Dia adalah pria yang sangat baik dan polos, Bu. Dia tidak tahu soal begituan karena sejak kecil hidup sama hewan. Andai aku tidak diselamatkan olehnya mungkin aku tidak akan bertemu kalian lagi. Jadi berhentilah menghujat, kalian harus berterima kasih pada Naki."


Ibunya langsung merespon dengan ekspresi diam. Sang ayah terlihat mencibir dari kaca spion.

__ADS_1


"Lihat, Bu. Anak kesayangmu itu lagi-lagi jatuh cinta karena merasa bertemu dengan pria baik. Ini yang keberapa kali kamu begitu? Ditinggalin lagi baru tahu rasa," maki Ayah.


"Apaan si, Yah? Dia itu memang baik."


"Baik mana sama anak juragan bawang putih yang Ayah kenalin kamu waktu itu? Pasti baikan dialah. Sayang kamu bodoh, dijodohin sama orang bener malah pilih garangan yang taunya cuma minta uang jajan sama orang tua. Akhirnya kandas 'kan," ujar Ayah. Dia kembali mengingatkan hubungan Ana dengan mantan terakhirnya.


"Duh, jangan bahas itu dulu Yah. Aku 'kan sudah bilang tidak mau dijodohin sama siapa pun. Masalah Naki dia memang baik. Pokonya kalian harus berterima kasih sana Naki kalau suatu hari dipertemukan. Dia sudah menyelamatkan putri ayah. Paham?"


"Berarti dia maunya sama Naki itu, Yah. Keliatan dari gaya ceritanya menggebu-gebu."


"Ya ampun, Bu!"


Ana melirik kesal. Keadaan di dalam mobil itu semakin tidak bisa dikondisikan karena mereka terus saja adu debat sepanjang perjalanan.


*


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2