Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Dirawat Kingkong


__ADS_3

"Terima kasih," ucap Ana datar.


Naki menekuk lututnya di depan dada sambil tersenyum kepada Ana. "Sama-sama. Oh ya, saat kamu mau pergi tadi, memangnya kamu mau ke mana?" tanya Naki cukup penasaran dengan isi pikiran gadis itu.


"Aku ingin mencari pantai, aku ingin membuat SOS untuk meminta bantuan kapal atau pesawat terbang yang lewat di dekat sini," ujar Ana.


"SOS itu apa?"


Ana sedikit tergugu karena Naki tidak paham dengan SOS. Berarti pria itu benar-benar menetap di tempat ini tanpa berbuat apa pun. Buktinya SOS saja sampai tidak tahu.


"SOS adalah kode morse Internasional. Biasa digunakan untuk memberitahu bahwa kita dalam keadan bahaya dan butuh pertolongan. Memangnya kamu tidak pernah membuat SOS selama di sini?"


Naki menggeleng. Matanya menyorot teduh saat memandang Ana. "Saya tidak begitu paham dengan hal semacam itu. Berbicara denganmu saja sedikit bingung. Soalnya saya sudah lama sekali tidak mengobrol dengan manusia."


Pantas saja gaya bicaramu macam google translator gitu, batin Ana dengan ekspresi diam.


"Y sudah! Besok aku bakalan bikin SOS biar kita bisa keluar dari hutan ini sama-sama," ujar Ana. Naki hanya diam tanpa menjawab apa-apa.

__ADS_1


"Kenapa diam? Memangnya kamu tidak mau keluar dari hutan ini?"


Naki menggeleng. "Saya sudah nyaman berada di tempat ini, kalau pun mau keluar saya mau apa di luar sana? Lebih baik di sini, banyak teman-teman," kata Naki.


"Naki, tapi setiap manusia memang wajib berdampingan dengan sesama manusia. Tempat ini bukan tempat yang cocok untuk kita," ucap Ana. Raut wajah Naki berubah sedih. Ana tidak tahu pasti karena apa, tetapi ia bisa menebak kalau laki-laki berbadan tinggi besar itu memiliki trauma di masa lalu.


Itu sebabnya ia merasa hewan lebih layak dijadikan teman ketimbang manusia.


*


*


*


"Kamu harus melakukan ini ketika aku menjabat tanganmu, Naki." Ana menyalami tangan besar Naki dengan agresif. Membuat pria itu malu menyentuh tangan Ana yang mulus seperti susunya mamah muda.


"Em, maaf. Aku tidak mengerti," ujar Naki bingung.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong kamu beneran hidup di sini sendirian sejak kecil?" Ana menatap Naki penasaran. Ia ingin tahu lebih dalam tentang pulau tak berpenghuni ini. Dan tentunya Ana juga ingin tahu bagaimana caranya Naki bisa hidup di pulau asing, lengkap dengan berbagai hewan buas di dalamnya pula.


"Sebenarnya dulu saya memiliki orang tua asuh yang merawat, tapi mereka sudah mati karena termakan usia."


Ana langsung tertohok. "Jadi ada manusia lain yang tinggal di sini juga?"


"Tidak! Hanya saya manusianya."


"Gimana sih?" Gadis jutek itu memekik kesal mendengar ucapan Naki yang ambigu dan tak dia mengerti. "Katanya kamu punya orang tua asuh?" lanjutnya kemudian.


Naki bergetar takut melihat Ana marah. Bagi Naki gadis itu sangat kecil dan bukan tandingannya. Tapi kalau marah lebih seram daripada macan kelaparan.


"Ma-maksud saya bukan orang tua manusia. Saya dirawat oleh sepasang kingkong baik hati. Mereka adalah malaikat penolong saya saat saya hendak diterkam macan. Sejak saat itu dia menganggap saya sebagai anaknya karena mereka tidak memiliki anak. Ayah dan ibu kingkong begitu baik, mereka memberikan banyak makanan dan buah-buahan setiap hari sampai saya bisa tumbuh besar seperti ini," ucap Naki dengan bangganya.


Sebenarnya selain dirawat oleh kingkong, Naki juga banyak mempelajari hal-hal baru dengan cara otodidak.


Contohnya membuat senjata dengan barang bekas yang terdampar di pantai, membuat celana dari kulit hewan, memasak daging kelinci, dan juga membuat rumah untuk peristirahatan selama ini.

__ADS_1


Naki benar-benar hidup Mandiri. Bertemankan tantangan dan kejamnya alam setiap hari.


"Seriusan di rawat kingkong ni bocah?" Ana mengernyit bingung. "Kok aku kayak lagi ada di dunia halunya anak-anak ya. Apa jangan-jangan aku beneran ada di dunia Isekai?" Ana bergumam tak jelas. Membuat Naki bingung dengan ucapannya.


__ADS_2