Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Tapi, An?


__ADS_3

"Tapi, An?"


Nasya tampak ragu. Dia mendekat ke arah Ana lalu bersembunyi di balik punggung gadis itu.


"Aku sungguh takut, An. Dia begitu menyeramkan," lirih gadis itu. Kakinya juga terasa berat untuk melangkah dan mendekati Naki.


Menyadari perubahan ekspresi Naki, Ana langsung menoleh ke belakang. "Ayolah, Sya. Cepat ulurkan tanganmu sedikit saja. Jangan sampai dia tersinggung," bisik Ana lirih juga.


Mau tidak mau Nasya terpaksa melakukan itu. Sambil memandang takut-takut ia ulurkan tangannya kepada Naki. "Hai," sapa perempuan itu.


"Namaku Adinasya Mahila, kamu bisa panggil aku dengan sebutan Nasya. Nama kamu siapa?" tanya Nasya kemudian.


"Namaku Naki—"


Lelaki itu tersenyum cerah. Tapi secerah apa pun di mata Nasya tetap terlihat seram. Dia terus-terusan memandangi kecantikan Nasya. Mengulitinya dengan mata bulat-bulat hingga Nasyanya sendiri merasa risi. Perempuan itu jelas takut melihat tatapan Naki yang begitu mesum.


"Senang bertemu denganmu Adinasya Manila."

__ADS_1


"Mahila Naki! Kamu tidak boleh salah sebut," celetuk Ana dari samping. Dia tersenyum melihat betapa gugupnya Naki saat menjabat tangan Nasya. Mata lelaki itu juga tidak bisa dibohongi kalau ia benar-benar terpesona pada lelaki itu.


"Kamu cantik sekali. Apa kamu itu bidadari?" tanya Naki dengan polosnya. Mata Nasya langsung tertuju pada Ana. Dia melepas paksa tangan Naki yang masih menjabat tangannya lalu bergerak ke belakang lagi seolah meminta perlindungan pada Ana. Tubuh gadis itu juga gemetar hebat dipenuhi keringat.


"Dia manusia biasa Naki. Bedanya Nasya adalah seorang selebgram dengan 2 juta followers. Derajatnya sama saja dengan artis. Jika kamu merasa dia sangat cantik itu wajar karena penampilan adalah utama untuknya," ucap Ana.


"Artis itu apa?" Naki bertanya dengan mata yang masih tertuju pada Nasya.


"Semacam manusia pilihan yang cantik-cantik dan tampan. Selain itu mereka juga punya bakat," terangnya.


"Kenapa kamu kenalin aku sama cowok mes*um itu Ana? Bagaimana jika dia melakukan hal buruk padaku?" kesal gadis itu.


Sekalipun Ana mengatakan Naki sangat baik dia tetap saja takut. Memang tidak ada yang aneh dengan wajahnya. Tapi tubuhnya itu, lho. Naki lebih pantas di juluki raksasa ketimbang manusia.


Tak ada kesan baik saat melihat Naki. Yang terbesit di otak Nasya hanyalah pikiran buruk .


Bagaiman jika lelaki itu sampai berani berbuat tidak senonoh kepadanya? Nasya tidak bisa membayangkan, tubuhnya yang kecil pasti akan hancur berantakan jika diterkam raksa segede gaban.

__ADS_1


"Naki tidak seburuk yang kamu kira Nasya. Dia itu polos. Penampilannya saja yang memang agak terlihat seram."


"Tunggu, An! Itu bukan lagi agak. Tapi sangat ... Sangat seram malahan," potong Nasya tidak setuju dengan ucapan sahabatnya barusan. Tatapan gadis itu kepada Ana berubah agak marah.


"Tapi otaknya tidak beda dengan manusia berusia tujuh tahun, Sya. Dia benar-benar polos," bantah Ana.


"Maksu kamu idiot?"


"Bukan idiot. Tapi dia masih polos!"


"Polos dari mananya, An? Dia aja bisa muji aku cantik. Ngelus-ngelus tangan aku bahkan liatin aku pake tatapan tidak sopan. Apa itu yang namanya polos?" Dia mendesahkan napas kasar.


Lagi-lagi Nasya tidak habis pikir kenapa Ana terus saja membela Naki. Padahal sudah jelas-jelas lelaki seram itu memiliki ketertarikan yang aneh kepada Nasya. Apakah gadis itu beloon dan tidak peka, pikirnya.


"Aku ke sini jauh-jauh untuk menjemput kamu An. Aku nggak mau jadi korban. Tolong pahami jasa aku yang satu itu!" pungkasnya.


Setelah itu Nasya berlari menuju area pantai. Saking kesalnya gadis itu, ia sampai mengabaikan rasa takutnya pada hewan-hewan buas yang sewaktu-waktu bisa mengancam nyawa.

__ADS_1


__ADS_2