Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
woow


__ADS_3

"Aku pernah melakukannya, tapi cuma beberapa kali karena Nasya bilang tidak menyukainya. Demi kenyamanan Nasya, aku terpaksa mengalah, mungkin dia tidak suka dengan ukurannya yang terlalu besar," jawab Naki dengan gamblangnya.


Akhirnya rasa penasaran Ana terjawab sudah. Ada sedikit rasa kecewa, tapi setidaknya ia tahu kalau Naki adalah pria normal. Tidak mungkin juga kan, tiga tahun menikah tapi tidak melakukan apa-apa. Pria bodoh mana yang melakukan itu.


"Untuk membuat aku senang, selanjutnya Nasya melakukan itu pakai tangan seperti apa dulu pernah kamu lakukan padaku. Itu pun jarang sekali terjadi. Bisa dua atau tiga bulan sekali," kata Naki.


Lelaki itu mendekati Ana yang wajahnya agak tertunduk.


"Kamu kecewa karena aku sudah tidak perjaka?" tanya lelaki itu.


Ana mendongak. Dia menggeleng dengan mata berkaca-kaca. "Aku nggak kecewa sama kamu, aku cuma kecewa sama diriku sendiri karena engga berhasil jagain kamu. Kalau aku nggak bodoh, pasti kamu nggak bakalan direbut sama Nasya."


"Saat itu juga aku masih bodoh, Ana. Lebih tepatnya kita sama-sama bodoh. Tapi sejujurnya aku cukup bersyukur karena bisa mendapatkan kamu kembali meski dengan cara seperti ini," ucap Naki.


Ana tersenyum. Gadis yang belum sempat diapa-apain itu meringsek masuk dalam pelukan Naki. Keduanya sama-sama berbaring sambil menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Mulai sekarang aku nggak akan biarin kamu menderita Naki. Aku bakalan ngasih kamu jatah seberapa banyak yang kamu mau," ucap Ana.


Naki melipat bibirnya gemas mendengar itu.


"Terima kasih," jawabnya disertai dengan senyuman.


Naki yang sekarang bukanlah Naki yang dulu polos dan tidak bisa apa-apa.


Mendapat sinyal bagus dari  Ana, Naki pun tak segan memajukan bibirnya lebih dekat lagi. Naki mendaratkan satu kecupan lembut di mana selanjutnya Ana terdengar merintih-rinting kecil.


"Aku mencintaimu, Ana." Dia melepas ciuman itu begitu saja.


"Aku juga mencintaimu, tapi aku masih lapar, makan dulu yuk." Ana yang masih agak canggung berusaha mencari alasan. Naki terpaksa menyetujui kemauan gadis itu. Mereka kembali ke dapur mencari makanan yang bisa dimakan.


"Habis makan mau ngapain lagi?" tanya Naki. Ana sempat melirik si pedang kegelapan yang sudah kembali tidur.


"Ke kamar, tapi aku maungobrol dulu. Maaf ya, Naki, jujur aku masih merasa semua yang aku alami ini adalah mimpi. Aku tidak menyangka hubungan kita bisa berubah dalam sekejap waktu. Aku ingat kemarin kamu masih benci sama aku, dan sekarang, kamu terus-terusan ngomong cinta ke aku, bukannya itu aneh?"


"Tidak ada yang aneh, Nasya." Naki menarik dua tangan Ana lalu mencium punggung tangan gadis itu. "Jika Tuhan sudah berkehendak, apa yang kamu inginkan bisa langsung terkabul. Mungkin ini adalah jawaban dari Tuhan atas semua doa kamu. Kamu sabar saat disakiti olehku dan juga Nasya," kata lelaki itu.


Senyum Ana mengembang sempurna, keduanya saling berpelukan mesra, namu tak lama kemudian sang ibu datang sambil membawa kipas tangan.


"Ngapain kalian pelukan di sini? Mau pamer sama ibu?" kesal Bu Mia.


"Apaan si, Bu? Ganggu anak muda aja." Ana lansung menarik tangan Naki menuju kamarnya lagi. sekarang keduanya sudah Ada di dalam kamar. Ana berusaha meminta izin pada  Naki.


"Semisal aku belum siap melakukannya sekarang, apakah kamu marah?" tanya gadis itu.


"Tidak, aku akan melakukannya kalo kamu siap," ujar Naki. Senyum Ana mengembang di pipi. Sekarang Naki bukan lagi pria polos. Dia adalah pria baik hati yang sangat pengertian.


Mereka pun berciuman mesra sekali.


***


Tidak ada hal lain yang terjadi setelah ciuman pertama mereka berlangsung. Mereka hanya melakukan satu kali ciuman dan selanjutnya berganti pakaian tidur. Lalu terlelap secara bersamaan sambil berpelukan.


Ana sedikit salut dengan sifat Naki yang begitu pengertian, tidak memaksa dan menuruti semua kata-katanya.


Aku sayang kamu, Naki.


Ana menatap kelopak mata Naki yang masih terpejam, dia masih sama, hobi sekali tidur di pelukan Ana. Ana yang sudah bangun sedari tadi bingung sendiri, mau keluar kamar juga tidak berani karena malu. Orang tuanya pasti bakalan mikir macam-macam tentang mereka.


Akhirnya Ana putuskan untuk kembali tidur saja. Membenamkan kepala kecilku ke dalam dada bidang Naki.


Hmmm. Nyamannya, begini ya kalau sudah punya suami. Rasanya seperti memiliki selimut alami. Hehehe.

__ADS_1


Tangan nakal Ana mulai bergerilya, masuk ke dalam piama dan meraaba isi di dalamnya. Seperti apa ya? Biarkan saja! Kalau sedang tidur Ana berani. Toh ini suaminya— tolong maklumi Ana yang hobby agresif di balik layar.


Coba kalau kau bangun, mana berani aku seperti ini.


Belum puas meraaba— Ana membuka dua kancing piama Naki, dia melirik sedikit untuk memastikan pria itu masih terpejam. Lalu menempelkan telinganya di sana, mencoba menangkap detak jantungnya. Iramanya terdengar indah seperti alunan musik. Ana suka. Kulit Naki begitu halus dan lembut. Aroma tubuhnya juga wangi, beda sekali saat Naki saat masih di hutan dulu. Baunya agak menyebalkan.


"Pagi Sayangku." Sapaan halus yang terdengar pelan itu menikam jantung hingga tembus sampai ke ulu hati. Ana terkejut bukan main, kelakuan bejadnya di pagi hari ketahuan.


"Uhukk ... uhukk ..." Ana pura-pura batuk. "Pa ... pagi juga," jawab Ana tergagap. Tangannya sudah tertarik, berhenti melakukan aksi raaba-meraaba yang sempat menghancurkan harga dirinya tadi.


"Sayangnya mana?"


"Apaan?"


"Panggil aku sayang."


"Gak!"


"Panggil aku sayang, atau—." Bicaranya terhenti, dalam sekejap ia sudah merubah posisinya, berada di atas dan mengunci tubuh kecil Ana


Tanpa melanjutkan bicaranya yang sempat terjeda, Naki langsung menjatuhkan bibirnya, mengecup bibir Ana dengan gaya yang serba keren.


Bagaimana dengan Ana, gadis mesum ini sudah terpejam, terbuai oleh kelembutan sang pangeran tampan yang sedang diselimuti gairah cinta.


Tidak seperti yang tadi malam, kali ini gerakannya lebih menuntut meski tetap lembut. Dan gilanya Ana juga mulai membalas perlakuan Naki, tubuh mereka seolah menuntun untuk melakukannya.


Tanpa sadar suara lenguuhan keluar begitu saja dari bibir Ana. Naki sedikit tersentak, mengangkat tubuhnya lalu menatapku sejenak, ia menyempatkan diri membuka piamanya sebelum menjatuhkan tubuhnya dan mulai menyatukan bibir mereka kembali.


Deru nafas mereka mulai tidak beraturan, tangan Naki sudah menyelusuri bagian-bagian yang tertutupi, membangunkan sesuatu yang membuat tubuh Anamenggila hebat.


Tidak ada sepatah katapun keluar dari bibir mereka selain rintihan yang mulai sering terdengar. Ana sudah lupa siapa diri ini, fokusnya hanya tertuju pada sesuatu yang ingin segera dituntaskan.


Sapuan lidah Naki mulai turun ke ceruk leher, membuat pikiran Ana semakin kalut dan terbang-terbang menuju cakrawala.


Hingga tiba pada puncaknya, Ana merasakan ada benda tumpul yang mencoba menerobos mahkota berharganya.


Sakit! Akna menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Naki berhenti sejenak— dikecupnya wajah Ana hingga ia merasa sedikit lebih tenang. Perlahan ia mulai melancarkan aksinya kembali, menghentakkan sesuatu dalam sekali tekan.


"Argh!" Saat itu juga Ana menjerit— rasanya seperti ada sembilu yang menusuk bagian tubuhnya. Sakit hingga Ana tak bisa berkata-kata lagi.


Sekali lagi Naki mencoba menenangkan Ana— mengecupi wajahnya berkali-kali, namun di bawah sana mulai memacu dengan ritme yang pelan, menuntut, dan semakin cepat.


Sensasi itu belum pernah Ana rasakan sebelumnya, matanya seperti buta. Bagaimana dengan urat malu? itu sudah tidak lagi berfungsi pada mereka. Di pagi yang cerah ini, mereka hanya tahu berlomba-lomba— mencari s*etitik nikmat hingga tubuh mereka sama-sama mengetat.


Masih diam tanpa kata, Naki berguling ke samping. Di raihnya tubuh kecil Ana beserta selimut yang menutupi hingga ke bagian dada.


Akhirnya aku telah selesai menjalankan kewajiban pertamaku sebagai seorang istri. Rasanya seperti mendapat penghargaan yang luar biasa. Tidak ada hal lain yang aku pikirkan kecuali kebahagiaan yang baru saja aku rasakan, batin Ana.


Tanpa sadar lelehan bening keluar perlahan dari pelupuk mata gadis itu. Sebagai bentuk haru atas semua yang baru saja Ana dapatkan. Ana merasa seberuntung ini. Mempunya suami yang hangat dan baik seperti malaikan. Terlepas Naki masih punya Nasya, itu tidak terlalu penting sekarang, yang Ana tahu dia adalah sosok yang sangat Ana dambakan selama inim


"Maaf ... maaf ... maafkan aku." Naki memeluk Ana lebih kuat. "Maafkan aku Ana ... maaf, aku salah ... aku salah ...."


Naki merancau tidak jelas, membuat kepala Ana terpaksa mendongak untuk melihat ke adaanya.


"Maaf untuk apa?"


"Maaf untuk apa yang baru saja aku lakukan padamu. Aku telah menyakitimu." Wajahnya terlihat tertekan dan merasa sangat bersalah. Ana masih belum paham dengan isi pikirannya.


"Maafkan kebodohanku karena tidak bisa mengendalikan diri."


Ya Tuhan. Seketika hati Ana mendadak hangat. Dia suami Ana— apa pun yang ia lakukan pada Ana barusan adalah haknya. Namun diluar dugaan ia malah merasa bersalah.

__ADS_1


Ana benar-benar merasa beruntung sekarang, di saat banyak lelaki yang merasa tidak berdosa ketika mengambil kegadisan kekasihnya. Naki malah bersikap kebalikannya.


Sepertinya cintaku sudah mentok di kamu, Naki. Kamu suami terbaikku.


"Marah ya?" tanya dengan pandangan menelisik.


"Tidak. Kau layak mendapatakannya, aku milikmu, dan aku sangat rela memberikan segalanya untukmu."


"Terima kasih ... terima kasih istri terbaikku. Ana, aku sangat beruntung mendapatkanmu."


Sebuah kecupan hangat dengan sejuta kasih sayang mendarat di kening Ana. Lantas ia membalasnya dengan ciuman di kedua pipinya. Ana sudah besar. Batin Ana bangga.


***


Setelah kejadian pagi ini. Ana dan Naki melakukan ritual mandi bersama mumpung orang tuanya sedang tidak ada, meski masih agak sedikit canggung, Ana mengiyakan permintaanya yang semalam.


Jangan tanya apa kegiatan mereka selanjutnya, selama seharian Ana dan Naki tidak keluar dari kamar kecuali untuk makan.


Mereka melakukannya berkali-kali sampai tak terhitung jumlahnya. Tidak tahu waktu, tidak tahu juga sudah berapa kali Ana mendapatkan pelepasan itu.


Naki bilang begitu sangat mengagumi tubuhnya, sebaliknya juga Ana. Mereka berdua sama-sama menggila,


Siang berganti malam, tidak terasa mereka tidur selama ini. Aktifitas menyenangkan yang berakhir bahagia ini begitu melelahkan.


Mengerjap-ngerjap, Ana mulai sedikit tertasadar dari alam bawahku. Naki masih setia memeluk gadis itu dari belakang, Ana menarik tangannya agar jarak kami semakin dekat.


Tubuh Ana masih sangat lemas, rasanya seperti habis melalui perjalanan panjang di padang pasir. Ana merasakan sesuatu mulai bergerak di balik punggungnya. Naki sudah bangun, pria itu mencium pipi Ana dan menyilakan anak rambut yang menutupi wajah.


"Sudah bangun?" tanyanya dengan lembut.


"Eugh." Ana merintih dengan mata yang masih setengah terpejam, seakan enggan untuk dibuka. Hanya pikiran saja yang sudah bangun. Anggota tubuhnya tak mau digerakan sama sekali.


"Kamu lelah, ya? Tapi aku bolehkan minta lagi dan lagi?"


Ana menelan ludah dengan jantung yang bertalu-talu tidak jelas. Pikirannya kembali pada saat mereka melakukan hal itu. Iya ... Ana memang merasakan semangat Naki yang seolah tidak pernah pudar, seakan tak kenal lelah dalam berpacu.


Ana memutar tubuh polosnya perlahan, menghadap pada sang suami yang sedang mengerucutkan bibirnya lima centi.


"Aku mencintaimu, selagi aku sanggup melakukannya—akan kulayani kau dengan senang hati," ucap Ana yang sok profesional, padah tubuhnya tak sekuat itu.


Naki terperanjat tidak percaya, digenggamnya tangan Ana, matanya menatap Ana intens sambil menciumi tangannya. "Terima kasih, Sayang."


"Apa kau kecewa karena aku telah merenggut mahkota berhargamu?" tanya Naki saat melihatku diam membisu. Padahal Ana sedang menikmati wajahnya.


"Tidak!" balas Ana cepat.


"Kenapa diam begitu?"


"Aku sedang menikmati wajahmu yang tampan." Tentu saja Ana tidak bilang kalau aku sedang menyamakan wajahnya dengan bintang Korea, bisa ngamuk anak itu. Naki tidak suka jika disamakan dengan pria lain.


"Hmm." lelaki itu berdeham seolah tidak percaya. "Mandi dulu sana, habis itu kita makan malam. Kau laparkan?"


"Iya. Aku juga ingin mandi."


"Mau mandi bersama lagi? Aku gendong"


"Gak! Aku bisa mandi sendiri." Menjaga keaman lebih baik sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. Mendengarnya saja membuat Ana merinding ngeri.


"Baiklah."


Ana mencoba bangun dan untuk sekedar mendudukan tubuhnya, lalu menjuntaikan kaki lemas itu ke lantai. Saat tangannya berusaha meraih piama di atas nakas— hampir saja Ana tersungkur kalau tidak ada tangan sigap yang meraih tubuhnya ke dalam pelukkannya.

__ADS_1


"Masih lemas ya? Makannya, turuti perintah suamimu. Biarkan aku menggendongmu, kita mandi bersama."


***


__ADS_2