
Tidak seharusnya Ana melakukan hal seperti itu kepada Naki. Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi dan tidak bisa ditarik kembali.
"Iya, aneh! Aku heran kenapa manusia mau melakukan hal menjijikan seperti itu!" balas Naki dengan kalimat menohok.
Ana nyaris tak bisa berkata-kata mendengarnya. Rasa malu jelas menghampiri diri meski biasanya perempuan itu tak tahu malu.
Lah kok kesannya aku kayak cewek gak bener yang hobi nyosor cowok duluan ya, batin gadis geli sendiri.
Ah, persetan dengan semua itu! Ana bukanlah gadis menye-menye. Meski kesabarannya setipis tisu kondangan dibagi empat, dia tidak punya gengsi yang lebih tinggi dari menara Monas.
Catet!
"Sebenarnya tidak aneh! Hanya saja kamu tidak punya rasa cinta, Naki. Maka dari itu kamu menganggap ciuman itu aneh dan menjijikan," ucap Ana. Tanpa sengaja ucapan gadis itu berhasil menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
"Berarti kamu cinta aku? Itu sebabnya kamu mau melakukan ciuman yang aneh itu?" Naki melempar kalimat menohok untuk kesekian kali.
"Eh, iya kah?" Ana sedang bertanya pada diri sendiri saat ini. Apakah ciuman tadi menandakan bahwa dia cinta kepada si monster hutan ini? Rasanya agak aneh jika dugaan itu benar.
Ana terdiam bengong. Tadi ia dan Naki baru saja resmi mengikat diri dengan tali pacaran. Tapi, apakah ia yakin ada cinta di antara keduanya?
Sementara Ana sendiri lebih menganggap pacaran itu sebagai bentuk penghiburan diri agar mereka lebih leluasa untuk bergantung satu sama lain. Lebih tepatnya Ana yang bergantung pada Naki karena ia tidak bisa hidup tanpa lelaki itu.
__ADS_1
"Tentu saja aku cinta. Kita 'kan sudah pacaran!" Ana memilih jawaban simpel supaya Naki tidak bertanya lebih dalam.
"Tapi--" Naki termenung sejenak. Ana diam memperhatikan sambil sesekali melirik kelinci panggang di atas daun. Laper, pikirnya. "Tapi kenapa aku merasa jijik saat melakukan itu. Apa itu artinya aku tidak cinta kepadamu?" tanya Naki.
Gadis yang tengah dilanda kelaparan itu mengerjap sedetik. Matanya sempat berputar-putar juga sebelum akhirnya memusatkan pandangannya kepada Naki.
"Emm, Naki! Mungkin kamu bukan jijik, tapi belum terbiasa melakukan hal seperti itu dengan wanita. Selama ini kamu selalu sendiri. Jadi wajar bukan kalau masih ada perasaan aneh dan canggung?"
"Hemmm. Aku paham! Tapi apa itu artinya kamu sudah terbiasa melakukan hal seperti itu dengan lelaki lain?"
"Eh, kok jadi aku yang kena lagi?"
"Kamu tidak canggung dan tidak aneh! Berarti kamu sudah terbiasa dan sering melakukannya dengan laki-laki lain, bukan!" Naki memperjelas ucapannya kembali.
"Engga sering, sih! Tapi aku pernah," ucap Ana lebih memilih jujur. Membohongi pun tak ada gunanya karena kepintaran Naki sudah banyak kemajuan. Yang ada Ana malah akan terperosok pada kebohongan itu sendiri jika terus diikuti.
Lelaki itu tiba-tiba menggenggam tangan Ana. Membuat Ana sedikit tersentak, tapi tetap diam tak bereaksi.
"Pertanyaan itu tidak usah dijawab Ana! Aku tidak ingin mendengarnya jawabannya. Dadaku tiba-tiba sesak." Naki tiba-tiba saja marah sendiri.
Kontan Ana menyeringai bodoh. Memang sudah sepatutnya pertanyaan begitu di skip saja. Siapa pula yang ingin menjawab, pikirnya. Sepertinya lelaki itu benar-benar cemburu.
__ADS_1
"Naki ... Aku kapan boleh makan kelincinya? Aku laper," lirih Ana sambil memegangi perut.
"Setelah ini kita makan ... Aku masih ada satu pertanyaan lagi."
"Ya sudah tanya saja!" Ana menowel daging kelinci yang gemoy itu dengan telunjuknya. Tatapannya sekarang lebih fokus ke arah situ.
"Karena sekarang kita sudah pacaran, jadi maukah kamu mengajari melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang yang berpacaran?"
"Eh?" Dari posisi menunduk. Kepala Ana langsung mendongak.
"Aku ingin kita melakukan semua yang dilakukan oleh seorang pacar. Tidak hanya ciuman ... Aku juga ingin mempelajari hal lain."
"Hah?"
Ana nyaris tak bisa bernapas saat mendengarnya.
Apakah ini artinya aku akan segera punya bayi dari monster hutan ini?
Aaaaa. Tidak!
Siapa saja tolong selamatkan Ana. Pikiran dan hatinya saling bertabrakan tidak jelas. Dia benar-benar butuh tambahan oksigen saat ini.
__ADS_1
-
-