
Jatuh Cinta?
Apakah itu benar?
Ana termenung memikirkan perkataan Nasya tadi siang. Malam semakin larut dan mencekam. Terdengar suara hewan-hewan yang bertabrakan dengan suara ombak pantai.
Di tenda darudat itu Ana masih terjaga seorang diri. Nasya dan lainnya sudah tidur karena besok mereka akan pulang pagi-pagi sekali.
"Sebenarnya kalau aku sudah jatuh cinta sama Naki si engga masalah. Toh dia anak yang baik meski polosnya kebangetan. Ayah Ibuku juga pasti bakalan merestui dengan siapa aku akan menikah. Tapi yang jadi masalah itu---." Ana menggigit bibir bawahnya, ragu. Wajahnya terlihat sendu.
"Dia nggak mau ikut aku. Percuma juga aku jatuh cinta kalo orangnya ngga ada! Ya kali aku harus tinggal di tempat ini selamanya cuma demi Naki. Aku 'kan masih punya keluarga," gumam Ana bimbang.
Mata gadis itu menatap nanar ke arah langit-langit. Ada helaan napas yang keluar secara kasar dari hidung Ana saat ia memikirkan segala momen indah bersama Naki.
Sampai detik ini Naki masih belum juga muncul. Bahkan untuk sekadar mengucapkan salam perpisahan saja Naki tak mau.
"Kira-kira sekarang Naki lagi apa, ya? Apa dia sudah tidur?"
__ADS_1
Pikiran gadis itu makin semrawut tidak karuan. Alih-alih senang karena besok akan pulang, Ana justru merasa berat seperti ditimpa dua gunung dan selembar jalan tol.
Dia berdiri sambil memeluk tubuhnya. Tanpa sadar langkah kaki Ana terus berjalan menyusuri area hutan. Air mata gadis itu terus menetes. Dadanya sesak, dan tiba-tiba ia terkejut saat dirinya sudah berada di depan gubug tempat tinggal Naki.
Sedrama inikah jalah hidupnya? Bahkan seluruh tubuh Ana sendiri menolak pergi tanpa membawa Naki.
"Kenapa aku ke sini? Bagaimana jika Naki jadi mikir macem-macem karena hal ini?"
Dia menelan ludahnya dengan susah payah. Ia tatap pintu gubug itu untuk terakhir kali. Rindu? Tentu saja perasaan itu terus membelit perasaan Ana.
"Sepertinya Naki sudah tidur," batin gadis itu.
"Diana ...."
Suara yang tidak asing itu memanggil Ana dengan sangat lemah. Gadis itu berbalik. Ia sangat terkejut melihat Naki berdiri di balik pohon sambil menatapnya tanpa henti.
"Naki!"
__ADS_1
Tanpa basa-basi Ana langsung berbalik memeluk pria itu. Ternyata wajah Naki juga sudah dipenuhi air mata entah sejak kapan.
"Maafkan aku, Naki. Tidak seharusnya aku meninggalkan kamu dalam keadaan seperti tadi hanya karena kamu tidak mau ikut denganku. Aku salah ... Aku egois."
"Aku juga minta maaf Ana. Seharusnya aku mengantarmu ke tepi pantai. Tapi tadi aku sangat kesal. Apa yang kamu lakukan tadi membuat aku teringat akan kejadian beberapa tahun silam saat aku ditinggalkan dengan keji oleh orang-orang jahat itu. Setelah aku dibuat senang, aku ditinggalkan seorang diri."
Mereka berpelukan kembali.
"Sekali lagi maafkan aku Naki. Sekarang aku sadar kalau kita tidak bisa memaksakan kehendak seseorang. Kunci utama hubungan yang baik bukan saling memaksa, tapi saling menghargai satu sama lain. Mulai sekarang aku tidak akan memaksamu lagi."
"Apa kamu tidak marah jika aku tidak ikut?"
Ana menggeleng cepat. "Tidak. Kata Nasya pulau ini sudah terbongkar identitasnya. Kemungkinan besar pulau ini akan diselidiki oleh pihak pemerintah. Jika suatu saat aku diberikan izin untuk datang ke sini, aku pasti akan datang ke sini untuk menemuimu."
"Terima kasih Ana. Sampai kapan pun aku akan terus menunggu kedatanganmu. Aku percaya suatu hari nanti kamu akan datang."
Ana tersenyum. Akhirnya keduanya sama-sama memilih jalan perpisahan tanpa memutuskan status pacaran yang masih terjalin itu.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Ana dan rombongan pamit kepada Naki dan keluarga besarnya. Untuk memberikan salam perpisahan Naki sampai mengumpulkan hewan-hewan peliharaannya di tepi pantai.
Video itu diabadikan oleh Nasya dengan caption Tarzan baik hati dari pulau rahasia. Nasya sengaja menggunggah video itu supaya akunnya tambah viral.