
Di Apartemen Nasya.
Duduk Ana mulai gelisah. Ia terus menghubungi Nasya dan menyuruhnya pulang sesegera.
Jangan tanya kenapa Ana bisa masuk ke dalam apartemen itu. Sebagai sahabat yang dekat Ana jelas diberi akses untuk keluar masuk. Ana juga sering menginap di apartemen Nasya.
Nasya tidak keberatan saat Ana menginap di sana. Selain butuh teman, Nasya juga butuh tukang bersih-bersih.
Inilah yang membuat persahabat Nasya dan Ana berjalan lama. Ana selalu ada untuk Nasya. Contohnya saat tinggal di rumah orang sifat pemalas Ana lenyap dalam sekejap waktu. Ia selalu membuat apartemen Nasya kinclong. Itu sebabnya Nasya memberi Ana akses keluar masuk apartemennya dengan mudah.
[Aku sudah membersihkan semua ruangan di apartemenmu. Kapan kamu akan pulang, Sya? Aku butuh penjelasan soal Naki. Kalau bisa aku juga ingin bertemu dengannya. Di mana dia?]
Ana mengirim sebuah pesan. Ia mendesah gusar sambil sesekali menggigit bibir bawahnya.
Bukan karena apa. Masalahnya Ana tahu betul kalau Naki tidak mudah beradaptasi dengan manusia. Dia takut lelaki itu mengamuk, atau lebih parahnya melakukan hal-hal yang bisa melukai dirinya.
Ceklek ....
__ADS_1
Tiba-tiba pintu terbuka. Ana langsung berdiri sambil menatap perempuan yang berjalan malas ke arahnya.
"Di mana, Naki, Sya? Kenapa kamu tidak bilang kalo mau bawa di ke sini?"
"Sebenarnya aku tidak bilang mau ngasih kamu kejutan Ana."
"Benarkah?" Kilatan marah di wajah Ana spontan meredup. Nasya mengangguk. Lantas duduk di depan Ana sambil tersenyum hangat.
"Aku tahu Naki sangat berarti untuk kamu, itu sebabnya aku sengaja bawa dia pulang dengan cara meminta bantuan pemerintah untuk mengevakuasinya."
"Ya ampun, Sya. Kamu baik sekali," decak Ana penuh kekaguman.
"Bawa aku ke sana, Sya. Aku pasti bisa menenangkannya," ujar Ana penuh semangat.
"Oh ya? Kok bisa?"
"Tentu saja bisa. Naki itu sangat penurut kalau sama aku."
__ADS_1
"Waaaah." Tatapan Nasya beralih penuh kecurigaan. "Memangnya sudah kamu kasih apa sampai dia bisa nurut sama kamu. Jangan-jangan kalian sudah?"
"Hei, jangan sembarangan! Aku masih perawan," potong Ana cepat. Mendengar itu Nasya terkekeh.
"Bukan itu yang aku maksud, An. Aku cuma mau bilang, jangan-jangan kalian sudah pacaran, itu sebabnya Naki hanya mau nurut sama kamu."
"Engga, lah, Sya. Naki itu terlalu polos, makanya dia nurut sama aku. Emang si, aku pernah ngajakin dia pacaran, tapi itu nggak serius. Aku ngomong kaya gitu supaya Naki engga ngambekkan. Dan sejak saat itu dia jadi nurut."
"Wah, parah. Jadi kamu bohongin Naki?"
"Hehehe. Kan biar dia nurut," balas Ana dengan seringai tawa.
"Lagi pula Naki belum paham soal pacaran Sya. Dia cuma tahunya rasa suka. Tapi nggak tahu caranya mengapresiasi rasa suka. Jadi sekalipun kita pacaran itu belum bisa dikategorikan serius. Tapi kalau dia udah paham aku mau kok sama dia. Dia baik," ujar Ana bangga.
"Oh gtu. Aku kira kalian udah pacaran sungguhan."
Tanpa Ana sadari Nasya tersenyum smirk.
__ADS_1
Sebenarnya sejak tadi Nasya sengaja memancing Ana untuk berkata jujur soal hubungannya dengan Naki. Dan tidak perlu susah-susah, Nasya berhasil mendapatkan fakta menguntungkan.
Ia akan mengedit video itu, memangkas bagian yang tidak penting, dan membuat Naki membenci Ana sepenuhnya.