
Puncak kekesalan Naki semakin tidak terbendung lagi. Semalam Nasya tidak pulang, dan kali ini ia benar-benar marah terhadap perempuan itu.
Bisa-bisanya ia melupakan anak dan suaminya begitu saja. Iya, Naki tahu dirinya dalam keadaan salah, tapi tidak seharusnya Nasya mengambil sikap begitu sementara di rumah ada tanggung jawabnya besar yang wajib ia lakukan.
Vanilla terus menangis karena pagi ini badannya panas. Pagi-pagi sekali Naki sudah membuat seisi rumah ribut. Dia memang manusia paling rempong saat anaknya mengalami masalah meski itu hanya sedikit.
"An, coba kamu bantu tenangkan Vanilla. Ini kesempatan emas untuk mencuri DNA Vanilla. Untuk masalah Nasya, nanti biar aku yang melakukannya," ucap Adam.
Ana mengangguk. Ia yang sudah dalam keadaan rapi keluar diikuti Adam dari belakang.
Bertepatan dengan itu Naki sedang berdiri di luar kamar. Ia sibuk menimang Vanilla yang sepertinya nyaris tertidur karena kelelahan menangis.
"Bagaimana keadaan Vanilla, apa dokternya sudah ke sini?" tanya Adam seraya mendekat.
"Dokternya sedang di luar kota. Aku juga bingung. Biasanya Vanilla tidak cocok dengan dokter mana pun."
"Kalau begitu minta resep saja. Nanti aku akan periksa keadaan Vanilla, dan kamu bisa mencari obat itu di apotik," sergah Ana dari belakang.
"Memangnya tidak apa jika kamu yang periksa?" Naki tampak tidak setuju. Ia takut Ana melakukan hal buruk kepada Vanilla.
"Aku memang benci kalian, tapi aku tidak benci anak kecil. Lagi pula aku juga sudah melakukan sumpah perawat, aku tidak mungkin menggunakan ilmu medis untuk mencelakai orang," balas Ana penuh telak.
Naki pun terpaksa memberikan Vanilla pada ada. Gadis itu segera di bawa ke kamar. Ana mengganti baju Vanilla, memeriksa tubuhnya, lalu menuliskan beberapa keluhan yang ada di anak itu.
"Aku sudah menuliskan semua keluhan sakit Vanilla dalam kertas ini." Ana memberikan selembar kertas itu pada Naki. "Sepertinya dia mengalami radang pada bagian tenggorokan. Katakan saja pada Dokternya kalau kurang jelas," ujar Ana lagi.
Setelah itu Naki langsung menghubungi dokter pribadi Vanilla. Dia langsung pergi ke apotik setelah mendapatkan kiriman resep dari si dokter.
Adam membuka pintu kamar, dia tersenyum saat Ana memberikan sampel rambut Vanilla dan juga milik Nasya.
"Dari mana kamu mendapatkan ini?" tanya Adam.
"Aku mengambil dari baju Nasya yang tergantung. Warna rambutnya identik kemerahan, seratus persen itu adalah rambutnya," ujar Ana. Adam mengangguk dan menaruh sampel yang dibungkus plastik itu ke saku jasnya.
"Lakukan dengan baik, Om." Ana mengacungkan jempol yang juga dibalas anggukan oleh Adam.
"Bagaimana dengan keadaan Vanilla. Aku sepertinya harus bekerja, apa tidak masalah jika aku tinggalkan kalian berdua?" tanya Adam.
"Tidak masalah. Demam Vanilla sedikit turun setelah dikompres. Sebentar lagi mungkin Naki akan datang membawa obat, jadi aku bisa lebih santai. Oh ya, Kakek mana? Kok aku tidak melihatnya?"
Mendengar itu Adam langsung melipat bibirnya.
"Semalam dia berangkat ke Singapur. Bilangnya ada acara pertemuan khusus. Tapi aku rasa Kakek sedang menghindarimu."
"Menghindariku?" Ana mengernyit bingung. "Memangnya menghindariku untuk apa?" tanya gadis itu kemudian.
"Biasalah, Kakek itu paling tidak bisa memimum kopi. Karena kamu melarang dia minum kopi, jadi Kakek sengaja kabur. Dia takut padamu, Ana."
"Oh, ya ampun! Menggemaskan sekali tingkah kakekmu. Masa iya hanya demi kopi Kakek rela pergi ke luar negeri."
"Jika itu sudah menyangkut soal kopi, apa pun akan kakek lakukan. Itulah yang membuat kami sebagai cucunya kadang merasa sebal dengan tingkahnya yang kekanakan."
"Ya sudah tidak masalah. Nanti setelah pulang Kakek bisa memulai dietnya lagi," ucap Ana.
Adam menganggukkan kepala. "Kalau begitu aku pergi dulu. Jika Nasya datang dan memarahi, kamu lawan saja. Aku yakin kamu bukan gadis lemah."
Senyum Adam mengembang. Pria yang ternyata sudah memiliki istri itu pergi meninggalkan Ana dan Vanilla di kamar horor si ratu Medusa.
***
Keadaan yang cukup tenang dengan pakaian tipis yang nyaman membuat Vanilla mulai tenang. Tadi dia sempat mengigau atau menangis dalam tidur, tapi sekarang dia mulai mendengkur.
"Huh, kenapa lama sekali?" Ana mulai merasa tidak nyaman berada di kamar itu. Pikirannya agak jorok saat matanya tidak sengaja melihat baju haram warna merah yang tergantung di dekat lemari.
Itu jelas milik Nasya. Dan pertanyaan Ana, apakah baju haram itu adalah baju yang digunakan untuk melakukan hubungan badan dengan Naki?
__ADS_1
Rasanya Ana nyaris gila memikirkan pertanyaan yang sejak tadi berputar-putar di kepala. Ana penasaran apakah selama tiga tahun mereka menikah pernah melakukan hubungan badan atau tidak.
Naki terlalu polos, dan Nasya bisa saja mengelabui Naki dengan cara apa pun. Mengingat dulu saja Ana pernah membodohi Naki dengan berbagai hal. Tidak menutup kemungkinan bukan, kalau Nasya juga melakukan hal yang sama?
Akan tetapi, pikiran Ana kembali berbalik ke arah lain. Jika dilihat dari tubuh Naki yang tinggi besar, wajahnya yang tampan membahana, rasanya mustahil kalau Nasya tidak ada hasrat untuk mencicipi tubuh itu.
Mereka juga sudah nikah tiga tahunan. Masa iya tidak pernah melakukan itu.
Arrghhh, Ana menjerit gelisah.
Tiba-tiba pintu terbuka, Ana pikir Naki datang membawa obat, ternyata manusia yang datang itu adalah Nasya. Wajah perempuan itu merah padam saat melihat Ana sedang duduk di kasurnya. Tanpa melihat keadaan dia langsung melayangkan tatapan yang begitu tajam.
"Ngapain kamu di sini?" teriak Nasya.
Vanilla sedikit berjingkat kaget.
Karena tidak mau kenyamanan tidur anak itu terganggu, Ana langsung menarik Nasya keluar dari ruangan itu.
"Anakmu sakit. Bicaranya di luar saja," ucap Ana berusaha bicara sepelan mungkin. Pintu pun tertutup kembali. "Sekarang kamu boleh bicara."
"Ngapain kamu di kamarku?"
Ekor mata Ana memicing sinis. "Harusnya aku yang tanya. Kemana saja kamu sampai anak sakit saja harus dirawat oleh orang lain. Dasar ibu tidak bertanggung jawab."
"Kurang ajar kamu ya!" Nasya hendak melayangkan tamparan kepada Ana. Namun, dari arah belakang sebuah tangan mencegahnya. Itu adalah Naki yang baru saja datang membawa obat.
"Hentikan Nasya. Yang Ana katakan benar. Harusnya kamu ada di saat anak kamu sedang sakit," ucap Naki.
Nasya segera memutar tubuhnya. Ia menata Naki dengan mata berkaca-kaca. Wajahny pun dibuat semendrama mungkin.
"Jadi kamu udah mulai belain perempuan itu? Kamu sudah tidak sayang lagi sama aku?"
"Ini bukan masalah sayang, tapi masalah tanggung jawabmu sebagai ibu. Lagi pula aku nggak salah Nasya, aku nggak butuh pembelaan apa pun dari suami kamu!" tegas Ana ikut menimpali.
Nasya sendiri merasa terhimpit dua manusia sekaligus. Karena kesalahannya, sekarang Naki jadi tidak mau memihak pada dirinya lagi. Malahan lelaki itu lebih memihak kepada Ana.
Mengetahu dirinya salah, Nasya pun tak dapat berkutik lagi. Sambil memijit pelipisnya, perempuan itu segera masuk ke dalam. Dia menangis tersendu-sendu. Naki pun langsug menyusul perempuan itu.
"Dasar manusia penuh drama. Drama aja terus hidup kalian. Cih!"
Ana memutuskan untuk masuk ke kamar. Karena hari ini dia tidak ada kegiatan apa-apa, Ana memilih menghabiskan waktunya untuk tidur di dalam kamar seharian.
***
Sesampainya di kamar, Naki langsung membangunkan Vanilla. Dia meminumkan beberapa obat dalam bentuk sirup yang ia bawa. Beruntung Vanilla tidak rewel, anak itu langsung tidur lagi setelah ayahnya selesai memberikan obat.
Nasya sendiri sedang menangis di sofa pojok. Naki sengaja membiarkan istrinya menangis dan malah keluar kamar lagi.
Nasya benar-benar tercengang atas sikap Naki yang tidak biasa itu. Biasanya Naki akan terus membujuk Nasya kalau sedang menangis, tapi nyatanya, Naki malah pergi meninggalkannya begitu saja?
Apakah kali ini Nasya harus mengalah dan bersikap sebagai pengemis? Rasanya Nasya tidak sudi melakukan itu jika bukan demi uang.
Kembali pada Naki lagi. Setelah keluar kamar, lelaki itu mengetuk pintu kamar Ana. Ana sangat terkejut ketika mendapati Naki berdiri di depan kamarnya.
"Bolehkah aku masuk?"
Dengan bodohnya gadis itu mengangguk. Dia membiarkan Naki masuk lalu menutup pintu. Beberapa saat mereka saling pandang tanpa bicara apa-apa. Lalu, sesaat kemudian Naki berlutut tepat di hadapan Ana.
"Apa yang kamu lakukan?"
Ana langsung mundur beberapa langkah. Matanya membeliak melihat lelaki bertubuh jangkung itu bertingkah seperti orang putus asa.
"Atas nama istriku aku minta maaf. Aku tidak tahu sebenci apa kamu kepadanya, tapi yang aku tahu istri salah dan sering menindasmu. Selain itu, aku juga mau minta maaf atas kesalahanku baik yang disengaja ataupun tidak. Aku harap kedepannya kita bisa menjalani hubungan saudara yang baik."
Tertegun, Ana meneguk ludahnya beberapa kali. Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Naki sendiri masih berlutut di hadapannya.
__ADS_1
"Bangunlah," ucap Ana pada Naki.
"Aku tidak akan bangun sebelum kamu memaafkan aku dan juga Nasya."
Ana berdecak. Rasanya ia ingin memukul Naki karena lelaki itu terlalu hidup melankolis.
"Baiklah, aku memaafkanmu. Sekarang kamu bangun dan pergi dari kamarmu. Aku tidak mau ada orang lain yang melihat lalu menyerbakan fitnah."
"Aku pastikan tidak ada orang yang akan memfitnah kita." Naki berdiri. Tubuhnya yang tinggi membuat Ana harus mendongak penuh saat menatap lelaki itu.
Beberapa kali dia menghela. Dia juga terus menatap Naki dengan perasaan yang sulit dijabarkan.
"Kenapa?" tanya Naki lagi.
Ana menggeleng. "Tidak papa. Aku hanya penasaran akan suatu hal."
"Apa?" Naki sedikit menunduk demi bisa melihat wajah Ana lebih dekat lagi.
"Apa kamu bahagia tinggal di dunia manusia? Terus terang selama tiga tahun ini hanya kata itu yang tidak pernah lepas dari pikiranku. Dulu aku adalah orang pertama yang mengajakmu kembali, pastinya aku akan merasa bersalah jika kamu tidak bahagia," ujar Ana.
Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sengaja ia simpan rapat-rapat untuk dirinya sendiri. Ana tidak menyangka dia akan menanyakan hal ini secara langsung kepada Naki.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Seperti yang kamu lihat, bukan? Aku bahagia dengan kehidupanku? Aku sama sekali tidak terlihat hidup dibawah tekanan."
"Kamu yakin?" Ana memiringkan sebelah kepalanya. Tatapan gadis itu menunjukkan sebuah ketidakpercayaan. Dan Naki membalas dengan senyuman kecut.
"Kamu bilang aku harus belajar menyesuaikan diri dengan manusia. Dan sekarang aku sudah melakukannya sesuai perintahmu dulu. Aku bahagia dengan hidupku yang baru."
"Benarkah?" Rasanya Ana masih belum yakin. Tapi anggukkan kepala Naki berikutnya mematahkan ketidakpercayaan gadis itu.
Gadis itu pun terpaksa mengangguk. Jika Naki bahagia, sepertinya Ana tidak perlu menjadi pelakor. Dia cukup menyadarkan sepasang manusia itu supaya kembali ke jalan yang benar.
"Kamu bahagia sama Nasya?" Mata Ana sedikit berkaca-kaca ketika pertanyaan itu dilontarkan.
"Aku bahagia," jawab Naki.
Air mata Ana langsung menetes tanpa bisa dicegah lagi. Ia membiarkan Naki melihat itu. Ia ingin tahu seperti apa reaksi Naki.
"Dan aku harap kamu juga bisa bahagia dengan Adam," lanjut Naki.
Tubuh Ana mulai gemetar karena harus menahan tangis. Dia berbalik, lalu menutupi wajahnya sembari tertunduk. Ia benar-benar tak kuasa menahan semua itu.
Sepasang tangan besar Naki tiba-tiba melingkar di tubuh Ana dari arah belakang. Lutut gadis itu tiba-tiba terasa lemas seketika. Andai tidak ditopang oleh Naki, mungkin Ana akan terjatuh saat ini juga.
"Maafkan aku, karena dulu aku pernah berjanji untuk menikahimu, dan kenyataannya aku malah menikahi sahabatmu. Aku harap kamu tidak pernah membenciku karena hal itu," ucap Naki.
Ana masih bisa merasakan pelukan Naki yang begitu erat, namun perlahan tapi pasti, bayangan lelaki itu seperti pergi sejauh mungkin darinya.
"Maafkan karena pada akhirnya aku tidak bisa menepati janjiku padamu, Ana. Dulu pikiranku terlalu polos. Aku begitu terobsesi padamu sampai aku lupa kalau jodoh sudah ditakdirkan oleh Tuhan." Naki melepas pelukan itu perlahan. Ana merasakan angin AC kembali menerpa tubuhnya.
"Dan aku percaya kalau Nasya adalah jodoh yang ditakdirkan Tuhan untukku."
Tanpa menoleh, Ana tersenyum. "Jika itu yang kamu inginkan, maka aku akan bejalar melupakanmu, Naki." Tentunya Ana menjawab itu dari dalam hati saja. Dia sama sekali tidak bicara apa-apa.
Ketika mendengar pintu ditutup, rasanya Ana tak kuasala lagi ingin menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Naki menghilang bersamaan dengan harapan Ana yang menjadi pupus dalam sekejap waktu.
Tuhan, kenapa hatiku menjadi sesakit ini?
Tangis Ana makin pecah. Di ruang yang sunyi itu, dia meringkuk sambil meratapi nasibnya yang menyedihkan.
Tak terasa hari berganti malam. Ana terbangun dan mendapati dirinya masih tidur di lantai. Dia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi.
Ternyata tadi ia terlalu banyak menangis sampai dirinya tidak sadar dan tertidur di lantai begitu saja. Dari semua memori yang Ana ingat, intinya Ana mengingat kalau Naki mengajaknya untuk berdamai dengan keadaaan. Pria itu mau Ana melupakan semua kenangan mereka di masa lalu, kemudian hidup di masa kini dengan status sebagai ipar.
"Naki sangat mencintai Nasya. Tidak seharusnya aku datang menjadi pelakor. Kamu harus segera pergi dari perbuatan penuh dosa ini," gumam Ana penuh tekad.
__ADS_1
Dia mencoba bangun dan berpindah ke tempat tidur. Ana ingin mencari Adam, tapi kepalanya sangat pusing. Akhirnya Ana merebahkan tubuhnya di ranjang dan kembali menutup mata.
****