
"Kenapa Naki mau membantuku?" Kalimat itu keluar dari bibir Ana setelah beberapa saat ia terdiam.
"Aku juga tidak tahu, Ana." Adam mengedikkan bahu. "Aku tahu Naki melakukan itu karena dia sempat meminta daftar rumah sakit ternama padaku. Aku pun memberikannya, dan ternyata dia memasukkanmu ke salah satu daftar rumah sakit yang aku berikan."
Kedua alis Ana spontan mengernyit.
"Kalau Om tahu Naki yang memberikan pekerjaan itu, lantas kenapa Om susah payah mencari keberadaanku? Bukankah Om bisa mencari lewat data itu?"
"Aku menghapus semua data itu karena menurutku tidak penting Ana. Itu sebabnya aku kesulitan menemukanmu lagi."
"Oh." Kepala gadis itu mengangguk-angguk. Tatapannya beralih ke depan. Tepatnya menuju jalan raya yang mulai ramai dipadati pengendara jalan.
"Terus bagaimana Om bisa tahu kalau Nasya itu jahat?" tanya Ana tanpa menoleh.
"Sebenarnya itu ceritanya panjang. Sekitar beberapa waktu lalu aku pernah melihat Nasya bersama pria. Aku pun dengan bodohnya memberi tahu Naki, sayang lelaki itu tidak percaya. Malah dia mengolok-olokku, seolah aku tidak suka dengan Nasya. Di situ aku jadi bingung."
"Duh, kalo Om aja gak sanggup. Gimana aku? Aku tahu persis gimana Nasya. Dia itu ular yang pandai bicara. Maka dari itu Naki bisa terprofokasi."
"Nah itu dia!" Adam membanting tangannya pada stir kemudi. Perkataan Ana ini tepat sekali.
"Hubunganku dengan Naki itu tidak bisa akrab karena masa lalu kami. Kamu pasti sudah tahu soal ibuku itu. Dan itulah yang membuat Naki dan aku tidak terlalu akur."
"Terus, apa hubungannya dengan aku? Aku juga nggak akur sama dia, Om!"
"Hubungannya, kamu adalah orang dari masa lalu Naki. Mungkin kita tidak bisa menyelamatkan otak Naki yang sudah terlanjut dicuci, tapi kita masih bisa menggunakan hati. Setiap manusia punya perasaan murni yang tidak bisa diperdaya oleh siapa pun." Adam tersenyum. Ana mengangguk-anggung saja walau masih agak bingung.
__ADS_1
Cukup lama mereka berbincang-bincang sepanjang perjalanan sampai tak lama kemudian mobil yang dikendarai Adam mulai memasuki pendopo sebuah jalan sepi. Tak lama kemudian nampak sebuah rumah mewah yang tidak layak disebut rumah.
Mungkin itu terlihat seperti kastil atau bisa jadi kerajaan.
Adam kemudian membuka pintu mobil. Rumah itu terlihat sepi seperti tak berpenghuni.
"Hari ini Naki dan keluarganya sedang liburan. Dia mengajak semua karyawan di rumah ini. Jadi kecuali satpam dan beberapa bodyguard di belakang paviliun, di sini tidak ada orang."
"Oh." Mulut Ana membentuk huruf O lagi karena tidak tahu harus bicara apa. Adam lalu mengajak Ana masuk.
Gadis itu sedikit menganga melihat aneka interior yang sangat mewah dan beberapa dilapisi oleh emas.
"Sekarang tidak ada siapa pun di rumah ini kecuali kita berdua. Kakekku juga sepertinya ikut liburan," ucap Adam.
Ana menoleh sedikit. "Bolehkan aku lihat-lihat rumah ini untuk perkenalan? Mungkin jika ada Nasya dan Naki aku akan lebih canggung. Jadi lebih baik aku lihat-lihat sekarang saja," ucap Ana.
"Sendiri ... Aku mau sendiri saja," jawab Ana tanpa ragu. Dia meletakkan kopernya di sudut ruangan.
"Baiklah. Kalau begitu aku masuk kamar dulu. Aku mau mandi, nanti kita ketemu di meja makan. Takutnya kamu lapar."
Ana tak menjawab. Adam pun memilih berlalu ke kamarnya setelah itu.
Ana kemudian melangkahkan kakinya ke sembarang arah. Dia mendekat saat melihat lemari besar dengan isi piala dan piagam yang tampak mencolok di mata.
Di situ Ana baru tahu kalau Adam merupakan pria berbakat. Dia punya banyak piala dan piagam penghargaan.
__ADS_1
Mata Ana kemudian tertuju pada salah satu piagam yang terdapat Nama Naki. Dia tersenyum rada ngakak saat membaca itu adalah sebuah piagam sunat.
Mungkin itu adalah satu-satunya piagam yang dimiliki Naki. Karena Ana sudah mengecek ke segala sudut, Nama Naki hanya tertera di sebuah piagam penghargaan sunat itu.
Masih dengan tawa renyah, Ana pun mengambil bingkai itu.
"Akhirnya pedang kegelapanmu sudah disunat. Kira-kira sekarang bentuknya bagaimana?"
Bibir gadis itu terlipat dalam sepersekian detik. "Kok aku jadi bayangin yang kaya gitu?"
Setelah terkekeh sendiri Ana meletakkan bingkai itu. Kakinya kembali melangkah sambil sesekali melihat lukisan dan patung mahal yang menjadi penghias rumah itu.
Tak terasa Ana tidak sadar kalau ia sudah berjalan jauh. Sudah hampir setengah jam dia berkeliling sambil melihat-lihat.
"Loh, aku di mana ini? Kok malah balik ke ruangan ini lagi?"
Ana ingin mencari ruang pertamanya saat meletakkan koper tadi. Tapi ia tidak bisa kembali hingga detik ini. Ana pun membuka sebuah ruangan dengan harapan bisa kembali.
Sial!
Dua bola mata Ana membulat sempurna saat melihat sebuah foto keluarga yang besar terpajang di dinding kamar.
Sepertinya ini adalah kamar tidur Naki dan Nasya. Dia bisa tahu karena melihat banyak sekali susunan make up di atas meja. Dan foto keluarga kecil mereka.
Buru-buru Ana berbalik hendak pergi. Tapi belum sempat Ana keluar, seseorang tiba-tiba membuka pintu secara lebar-lebar. Ana sontak memundurkan langkahnya. Mulut gadis itu terbuka lebar saat melihat siapa yang baru saja membuka pintu.
__ADS_1
"Siapa kamu?" gertak orang itu.
Ana nyaris saja teriak Andai tidak ia tahan sebisa mungkin.