Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Tidak Mengerti


__ADS_3

Pagi hari Ana terbangun dengan perasaan yang cukup bahagia. Di samping gadis itu ada Vanilla. Entah kenapa Ana seperti memiliki chemisry dengan gadis kecil itu.


"Padahal kita bukan siapa-siapa, tapi kenapa aku merasa kita sangat dekat?" gumam Ana diserta senyuman.


Vanilla terlihat menggeliat kecil. Tak berapa lama kemudian, kelopak matanya yang lucu mengerjam pertanda gadis kecil itu akan segera bangun. Ana pun membiarkan Vanilla membuka matanya perlahan, anehnya, gadis kecit itu langsung tersenyum begitu melihat wajah Ana yang berseri-seri.


"Selamat pagi, Vanilla!"


Ana menggendong gadis itu menuju kamar mandi. Mereka mandi bersama, kemudian keluar untuk mencari makanan. Ternyata setelah Ana keluar semuanya sudah kumpul di meja makan. Gadis itu mengernyit saat melihat Naki dan Nasya sudah kembali akur. Mereka bahkan sudah kembali akur.


Melihat anaknya ada di gendongan Vanilla, Nasya langsung merebut gadis kecil itu dari tangan Ana. Ana berusaha tidak peduli. Ia menarik kursi lalu mengambil sepotong roti yanga ada di tengah meja.


"Oh, ya An. Hari ini kamu ada acara? Kalau tidak aku ingin mengajakmu ke puncak," ucap Adam.


Dari nada bicaranya, sepertinya Adam akan mengajak Ana menemui istrinya lagi.


"Tidak, aku agak trauma sama yang namanya puncak-puncak," tolak Ana cepat. Adam sedikit terkekeh, Dia paham apa yang dimaksud gadis itu.


"Ya, sudah, kalau kamu mau pergi ke mana-mana jangan lupa bilang sama aku." Adam bangkit berdiri, lantas mengecup dahi anak itu tanpa memedulikan ada dua pasang mata yang melirik mereka penuh arti.


"Hati-hati, Sayangku." Ana melambaikan tangan. Ia kembali melanjutkan makannya tanpa memedulikan Naki dan Nasya.


Setelah selesai dengan sarapannya, Naki mengajak Vanilla untuk jalan-jalan ke taman samping rumah. Sekarang tinggalah Ana dan Nasya yang ada di meja makan itu.


"Di sini tidak ada siapa-siapa lagi. Sekarang sebaiknya kamu jujur. Kamu dan Adam sebenarnya tidak memilki hubungan apa-apa, 'kan?"


Mendengar itu Ana hanya melirik sinis, dia sama sekali tidak menjawab sepatah kata pun. Dia memilih pura-pura sibuk dengan ponselnya ketimbang meladeni ocehan Nasya yang tidak bermutu.


"Hei, kalau ada orang ngomong itu dijawab. Aku bukan anak kemarin sore, aku bisa bedain yang mana pacar sungguhan dan yang mana pacar sewaan," tandas Nasya lagi.


Dua tangan Ana sudah mengepal kuat dibawah sana. Dia menatap Nasya, memutar bola mata, lalu tersenyum sinis.


"Aku rasa itu bukan urusanmu. Dasar wanita licik."


"Hahaha." Nasya tertawa renyah. "Ternyata dugaanku benar, kedatanganmu ke sini hanya ingin menghancurkan rumah tanggaku dengan Naki. Kamu pikir kamu bisa melawan aku?"


Tatapan Nasya menjurus tajam, yang artinya jangan coba-coba menggangguku atau kamu akan kena batunya sendiri.


Ana menarik napas panjang. Mungkin ini saat yang tepat untuk membuat Naki dan Nasya kembali bersatu.


"Awalnya aku memang ingin merebut Naki kembali. Tidak salahnya aku mengambil apa yang sudah menjadi hakku, bukan?"


"Cih!" Rasanya Nasya ingin meludah ke wajah Ana saat ini juga. Tapi iya masih ingin bicara panjang lebar tanpa harus ada adegan baku hantam. Nasya ingin tahu sepenuhnya apa motif di balik semua yang Ana lakukan.


"Tapi kamu tenang saja. Melihat Naki sangat bahagia dan mencintaimu, aku rasa aku akan mengurungkan rencana itu."


"Sebaiknya kamu mundur sebelum kamu menyesal," tandas Nasya secepatnya menyergah.


"Tidak semudah itu Nasya. Aku tahu semua kelakuan busukmu. Aku tahu Vanilla bukan anak dari Naki. Aku tahu kamu masih berhubungan dengan Jordi."


"Oh, jadi kamu mau mengancam aku dengan modal itu. Kamu pikir aku manusia lemah yang mudah ditindas dengan ancaman murahan model begitu?" Nasya menyilangkan tangannya di depan dada. "Ingat Ana. Naki itu sangat mencintaiku. Apa pun akan dia lakukan asalkan aku bahagia."


"Kamu salah Nasya." Ana melempar senyum kecut. "Justru sebaliknya, aku ingin memberi kamu kesempatan untuk memperbaiki hubungan kalian."


"Maksudnya?" Kelopak mata Nasya mengerjap tidak paham. Dia agak bingung dengan penjelasan Ana barusan."


"Demi bisa melihat Naki bahagia, aku akan memberikan kamu kesempatan untuk berubah. Tinggalkan Jordi, sayangi Naki, urus Vanilla dengan baik, maka setelah itu aku akan pergi. Bagaimana, mudah bukan?" Ana tersenyum meski hatinya sangat sesak saat mengatakan semua itu.


Untuk masalah Jordi, Ana tahu kalau selingkuhan Nasya adalah Jordi dari foto yang diberikan Adam. Foto itu adalah foto yang membuat Naki dan Adam beradu mulut sekitar beberapa waktu lalu. Ana mengenal Jordi sudah lama sekali. Dia tahu Nasya menjalin hubungan dengan Jordi dan sangat mencintai lelaki matre itu, tapi Ana tak menyangka bahwa hubungan itu akan terus berlanjut sampai ia sudah menikah dengan Naki.


Nasya sendiri masih tidak menyangka kalau Ana akan melakukan hal itu.


"Kamu jangan salah paham. Aku melakukan ini atas dasar kemauanku sendiri. Tidak ada suatu hal yang lebih membahagiakan dari melihat orang yang kita sayangi hidup bahagia. Dan aku ingin melihat Naki bahagia bersamamu."


Glek ...


Nasya tertegun. Entah otak Ana ini terbuat dari apa. Yang jelas Nasya sangat heran kenapa Ana bisa sebaik itu.


"Baiklah kalau itu mau kamu. Tapi apa kata-kata kamu bisa dipercaya? Aku rasa kamu bohong. Takutnya kamu sengaja menjebak aku dengan pura-pura baik."


"Sudah aku bilang bukan? Apa yang aku lakukan tidak ada hubungannya sama kamu. Aku adalah orang yang membuat Naki mau kembali ke dunia manusia, dan aku ingin memastikan dia hidup bahagia setelah memilih keputusan terbesarnya," tandas Ana. Setelah mengatakan itu Ana pergi meninggalkan Nasya di meja makan.


"Lagi-lagi Naki mendengar semua percakapan Ana dan Nasya. Dia benar-benar menyesal telah menghabiskan waktu tiga tahun dengan orang yang salah.

__ADS_1


Lantas, apakah yang harus ia lakukan?


Ekor mata Naki tertuju pada Ana yang berjalan menuju pintu keluar perempuan itu sepertinya hendak pergi, Naki pun tak sadar mengikuti.


Karena tidak ada kerjaan, dan sumpeknya berada di rumah besar itu, Ana memutuskan untuk jalan-jalan keluar.


Dia pergi ke sebuah festival jajanan yang katanya sedang diselenggaran di dekat rumah ini. Sepanjang perjalanan Ana tidak menyadari kalau Naki terus mengikutinya. Entahlah, Naki juga tidak tahu kenapa kakinya refleks mengikuti Ana.


***


Kembali lagi ke rumah, Nasya berusaha mencari keberadaan Naki karena dia hanya menemukan Vanilla yang sedang bermain dengan pengasuhnya.


"Ayah Vanilla kemana? Bukannya tadi dia bersama Vanilla?" tanya Nasya pada si pengasuh.


"Tuan Muda pergi, katanya mau ke kebun binatang," ucap si pengasuh.


"Kok dia tidak izin padaku. Tumben sekali."


"Saya tidak tahu, Nona."


"Hmm. Kalau begitu kalian urus Vanilla. Hari ini aku ada acara penting. Kalau Nanti Naki pulang dan mencariku, bilang kalau ada sedang menghadiri acara pameran tas di pusat kota."


"Baik Non." Pengasuh itu menjawab dengan kepala tertunduk. Nasya kemudin melajukan mobilnya menuju apartemen Jordi. Seperti biasa Jordi sedang sibuk dengan gitarnya saat perempuan itu datang.


"Jordi, apa kamu tidak punya pekerjaan lain selian mainan gitar?"


"Pekerjaanku adalah mencintaimu," jawab Jordi santai. Dia meletakkan gitar itu, lantas membawa Nasya ke pangkuannya. Perempuan itu segera berpaling saat Jordi hendak mencium bibirnya.


"Aku serius Jordi!"


Alis Jordi langsung mengkerut. "Ayolah Nasya, kenapa kamu jadi membahas soal pekerjaan? Kamu kan tahu kalau aku tidak suka bekerja," ucap Jordi.


Watak Jordi yang seperti inilah yang membuat Nasya tidak bisa menggantungkan hidupnya pada laki-laki seperti Jordi. Nasya sangat mencintai Jordi, tapi terus terang saja ia butuh uang Naki untuk bertahan hidup.


Namun lama kelamaan, Nasya jadi takut keselamatannya terancam. Sejenak ia memikirkan tawaran Ana untuk meninggalkan Jordi.


Di otaknya sekarang ada dua pilihan, meninggalkan Jordi untuk pria yang sangat mencintainya, atau kembali dengan orang yang dia cintai tapi tidak ada pengorbanannya sama sekali.


Nasya benar-benar bingung kalau memikirkan soal ini.


"Masalah Ana, kita tunda dulu rencana itu."


"Loh, kenapa? Padahal aku ingin sekali melihat dia tidak punya kaki."


"Nanti saja, tunggu intruksiku lagi," ucap Nasya. Jordi pun mengiyakan tanpa kecurigaan. Padahal Nasya sendiri sedang mempertimbangkan untuk memilih siapa di antara mereka.


***


Kembali lagi pada Ana, dia sedang asik makan sate cumi saat matanya tak sengaja melihat sosok Naki sedang mengintipnya dari arah belakang. Tubuhnya yang tinggi mencolok jelas sangat mudah ditemukan. Bahkan Naki sesekali menjadi pusat perhatian orang yang lewat.


Dalam diam Ana menggerutu. Sial, mau apalagi manusia satu ini mengikuti, pikirnya.


Ana langsung lari di antara banyaknya orang. Dia sengaja melakukan itu supaya Naki kewalahan mencari dirinya. Naki berlari ngos-ngosan sambil mengikuti Ana, gadis itu tiba-tiba saja menghilang dalam sekejap waktu.


"Ke mana dia?" Naki menggeram kesal. Dari belakang seseorang menepuk pundaknya.


"Nyariin aku?"


Naki sangat terkejut melihat Ana sudah ada di belakang. Lupakan dengan kata terkejut, sekarang dia benar-benar malu karena ketahuan membuntuti gadis itu diam-diam.


Pipi Naki merah padam seperti kepiting rebus.


"Siapa yang nyariin kamu, dasar Gr," balasnya sembari memalingkan wajah.


"Jangan sok polos! Aku tahu kalau kamu ngikutin aku dari tadi Naki. Itu sebabnya aku lari. Ngapain kamu ngikutin aku?"


Naki menggaruk kepala belakangnya. "Iseng," jawab lelaki itu.


"Iseng?" Dahi Ana membentuk tiga kerutan lurus. "Kalau begitu lupakan semua keisengan kamu itu. Pergi dari hadapanku, aku mau senang-senang sendiri."


"Aku mau ikut," jawab Naki tak tahu malu. Lekaki bertubuh jangkung itu benar-benar terlihat seperti bocah di mata Ana.


"Mau ngapain ikut aku? Aku tidak diikutin sama kamu. Hus ... hus!"

__ADS_1


"Pokoknya aku mau ikut, aku bosan di rumah," jawab Naki.


"Dan juga aku haus. Aku mau minum. Tolong carikan aku minuman, aku tidak bawah uang," perintah lelaki itu.


Ana semakin dibuat membola tidak percaya. Bisa-bisanya Naki mengatakan itu kepada Ana. Apakah dia tidak tahu siapa Ana?


Mereka kemarin bahkan sudah saling berjanji untuk melupakan masa lalu. Lantas apa artinya hari kemarin jika sekarang Naki melupakan janjinya? Ana benar-benar tidak mengerti dengan isi pikiran lelaki itu.


Ana kemudian berjalan menuju stand minuman. Seperti anak bocah, Naki terus mengikuti Ana. Dia menggeleng saat Ana hendak membelikan minuman boba. Lantas menunjuk sebuah stand thai tea yang harganya agak mahal.


"Dasar tidak tahu diri. Sudah minta, tapi nguras uangku."


Ada hentakan kaki setelah itu. Tapi Anehnya Ana tetap membelikan itu.


"Aku juga mau makanan yang kamu beli tadi."


"Sate cumi? Itu harganya lima puluh ribu. Kalo kamu mau nanti kamu harus ganti," ucap Ana.


"Iya aku ganti."


Ana pun membelikan minuman dan sate cumi itu dengan total harga 85 ribu. Mereka berdua sekarang duduk di pinggiran kali kecil sambil menatap orang-orang yang lalu lalang.


"Sebenarnya kamu ngapain ngikutin aku?" sergah Ana tiba-tiba. "Aku yakin bukan cuma iseng. Pasti ada tujuan lain," ucap Ana lagi.


Sejenak Naki terdiam. Tidak mungkin 'kan, dia mengikuti Ana karena ia sempat mendengar percakapan Ana dan Nasya di meja makan tadi.


Dan entah kenapa. Seluruh hati Naki sekarang berpihak kepada Ana. Cintanya kepada Nasya seolah ditarik oleh energi Ana yang sangat kuat. Naki bahkan merasakan jantungnya berdetak tidak wajar saat Ana menatapnya dengan intens.


"Kalo aku jawab kangen, kamu percaya?"


"Hahaha. Gombalanmu sangat lucu. Apa tidak ada alasan yang lain? Karena cinta misalnya," celoteh Ana.


"Mungkin itu salah satunya," jawab Naki tiba-tiba. Ana membulatkan matanya kesal. Rasanya ia ingin memukul wajah Naki saat ini juga.


"Jangan sembarangan mengatakan cinta bodoh. Kukira kamu sudah tambah pinter, ternyata tidak sama sekali. Bercanda kamu tidak lucu," kesal Ana dengan nada menggerutu.


Sejujurnya pipi gadis itu langsung merona meski kata cinta yang Naki ucapkan cuma bercanda.


"An, sebenarnya aku memang kagen sama kamu."


"Heh. Jangan ngomong sembarangan."


Satu pukulan gemas mendarat di bahu Naki.


"Aku tidak bohong. Sejujurnya kebersamaan kita di hutan adalah hal yang sangat menyenangkan untukku. Menurutku, cuma kamu satu-satunya manusia yang bisa aku percaya saat itu," ujarnya.


"Maksud kamu apa si, Naki?"


"Maksudku aku tidak suka dengan semua orang yang ada di sini kecuali kamu," jawab Naki tanpa keraguan.


"Bukankah kamu sangat mencintai Nasya?" tanya Ana heran.


"Bukankah kamu tahu kalau aku tidak pandai mengartikan cinta. Dulu saja kamu tidak yakin kalau aku mencintaimu, apalagi sekarang. Jujur aku tidak yakin siapa orang yang sebenarnya aku cintai. Entah kamu, atau Nasya.


"Naki, bicara kamu ngelantur." Ana berdiri kesal.


Tiba-tiba Angin kencang datang mengundang sebuah gerimis kecil. Ana berlari ke sebuah bangunan asing, dan Naki pun mengikuti Ana dari belakang.


"Nah, ini dia pasangan yang kita tunggu-tunggu." Seseorang berseru saat Ana dan Naki datang.


"Ayo cepat kita nikahkan mereka Pak Ustad "


"Eh, ada apa ini?" Ana dan Naki saling pandang. Sepertinya mereka baru saja masuk ke sebuah gedung di mana banyak orang sedang nikah masal.


"Mana data-data kalian!"


"Em, aku tidak punya," jawab Naki dengan polosnya.


"Bagaimana si, masa mau nikah tidak ada data-datanya. Mereka ini mempelai yang ke dua puluh sembilan, 'kan?" tanya Pak Ustad pada seseorang di belakangnya.


Ana sungguh bingung. Dia hendak menjawab bukan, tapi tiba-tiba Naki mengeluarkan sebuah dompet dan menunjukkan KTP, nya.


"Pakai ini bisa?" tanya Naki.

__ADS_1


Hal yang ingin Ana lontarkan pertama kali adalah kata kampret. Ternyata Naki membawa dompet, tapi lelaki itu malah pura-pura miskin di depan Ana.


***


__ADS_2