
Di sudut lain, seorang Kakek tua tiba-tiba mendatangi Nasya. Dia mulai menceritakan maksud dan tujuannya mendatangi perempuan itu.
Kakek tua bernama Buranaphan itu berkata kalau dia pernah memiliki cucu yang dibuang oleh ibu tirinya. Bertahun-tahun dia mencari tahu keberadaan Naki, tapi anak itu tidak ditemukan sama sekali. Ternyata Naki disembunyikan di sudut hutan belantara oleh almarhum ibu tirinya.
Nasya sangat kaget saat kakek Buranaphan mengaku sebagai walinya Naki. Dia juga memohon kepada Nasya untuk membantu membujuk Naki agar mau kembali pada keluarganya.
"Kalau cucu Kakek dibuang kenapa Kakek tidak lapor polisi? Tidak membuat daftar orang hilang dan memviralkannya? Ah, Kakek tidak bisa dipercaya. Saya tidak mau membantu Kakek," ujar Nasya.
"Tolonglah, Nak. Kakek tidak tahu harus meminta bantuan siapa pun selain kamu. Kamu adalah penyelamat Naki, jadi Kakek yakin Naki akan lebih percaya pada bujukan dirimu."
"Huh, merepotkan saja Kakek. Aku ini selebgram alias orang sibuk, Kek. Aku mana punya waktu meladeni masalah keluarga Kakak. Lagi pula belum ada bukti jelas kalau Naki adalah cucu Kakek, bukan?"
"Bagaimana aku bisa percaya kalau Anda adalah Kakek Naki, coba?" tanya Nasya bingung.
"Aku tahu dia adalah cucuku berkat kalung hitam yang melekat pada lehernya. Kalung itu bukan kalung sembarangan. Dia terbuat dari bulu hewan purba dan hanya ada satu di dunia," ujar si Kakek.
"Selain itu wajah Naki juga sangat mirip dengan mendiang putraku. Kamu tenang saja, untuk memastikan lebih jelas nanti aku akan mengambil tes DNA."
__ADS_1
Nasya tak menjawab. Dia bimbang dengan situasi saat ini.
"Tolong bantu aku membujuk dia untuk kembali pada keluarga buranaphan, Nak. Jika kamu berhasil, aku akan memberikan apa pun untukmu sebagai imbalannya."
Mendengar itu, Nasya sedikit mencibir. Tawanya agak pecah karena ocehan si Kakek yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Wah ... Wah. Orang memang pandai menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan yang ia mau. Memangnya Kakek ini sekaya apa sampai mau memberikan apa pun yang aku minta?" ledek Nasya.
Dia melipat tangan lalu memutar bola matanya sebanyak dua kali.
"Sebagai uang muka aku beri 5 juta dolar. Bagaimana?"
"Uhuk!" Nasya langsung terbatuk begitu mendengar lima juta dolar dipakai sebagai uang muka.
"Kakek serius?"
"Jika kamu merasa kurang Kakek bisa menambahkan. Asal kamu bisa membantu Kakek untuk meyakinkan Naki bahwa Kakek adalah keluarganya."
__ADS_1
"Oke!"
Tanpa basa-basi Nasya langsung mengambil cek itu dari tangan si Kakek. Dia juga berlutut sebagai permohohan maafnya.
"Brand tas yang kamu pakai adalah milik perusahaan kami. Jika kau tertarik Kakek bisa menjadikanmu global ambassador?"
"Apa? Jadi perusahaan Kakek adalah pemilih brand Candle?"
"Hmmm." Kakek itu mengangguk
Nasya berulang kali menggelengkan kepalanya. Dia memang sempat berpikir kalau Naki adalah anak orang kaya, tapi dia tidak menyangka kalau keluarga Naki sekaya itu.
"Maafkan saya, Kek. Saya tidak tahu kalau Kakek adalah seorang Milyuner. Mulai sekarang saya akan membantu Kakek untuk kembali dekat dengan Naki. Saya pastikan Naki pasti bersedia kembali dengan Anda," ujar Nasya.
"Bangunlah. Tidak usah terlalu hormat begitu. Kakek tunggu usahamu. Kakek ingin segera menemui Naki dalam waktu dekat," ucapnya.
Nasya mengangguk. Sekarang langkah yang harus ia lakukan adalah menyingkirkan sosok Ana dari hidup Naki. Perempuan itu pasti akan menjadi penghalang Nasya jika tidak segera disingkirkan.
__ADS_1