Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Aku Bukan Maling


__ADS_3

Sosok pria yang tidak Ana kenal mendekat. Tadinya ia pikir orang yang datang adalah Naki. Tetapi ekspektasi anak itu terlalu tinggi seperti para pembaca yang selalu suka menebak-nebak.


Di depan Ana kini berdiri seorang yang tak dikenal. Tubuhnya besar tegap, pakaiannya rapi, dan penampilannya cukup mencolok.


"Ka ... Kamu siapa?" tanya Ana terpatah-patah. Dia memundurkan langkah saat lelaki itu maju dan semakin mendekat.


"Harusnya aku yang tanya begitu! Kamu siapa? Kenapa masuk ke kamar orang sembarangan?"


Sosok pria bertubuh besar yang sedang membawa perlengkapan bayi itu masuk lalu meletakkan beberapa barang di tangannya ke atas meja. Ana tebak itu adalah barang perlengkapan anaknya Naki. Tapi Ana masih belum paham siapa pria itu.


"Aku ... Aku tersesat di sini," ucap Ana terbata-bata.


"Tersesat? Alasan klasih macam apa itu?"


"Sumpah demi Tuhan aku tersesat, Pak!" balas Ana cepat.


Sayangnya lelaki penuh waspada yang sudah terlanjur curiga itu jelas tak mudah percaya dengan omong kosong Ana. Sudut bibirnya tertarik membuat seringai tipis.


"Kau pikir aku bocah TK yang bisa dibohongi dengan omong kosongmu itu?"


Duh, Ana semakin panik. Harus dengan cara apalagi ia meyakinkan lelaki itu kalau dirinya bukan orang jahat.


Tak lama kemudian seorang wanita masuk sambil membawa bayi. Jangan ditanya itu siapa. Perempuan itu jelas medusa si ratu penguasa alias Nasya.

__ADS_1


"Ada apaan, si?" Dua bola mata Nasya membeliak seketika. Jantungnya nyaris melompat mengetahui sosok perempuan yang masih ia kenal jelas sedang menyelusup masuk ke kamarnya.


"Ana! Apa kamu gila? Apa yang kamu lakukan di kamar ini?" Nasya berteriak keras sekali. Teriakkannya mungkin mengundang perhatian orang yang mendengarnya.


"Tu ... Tunggu dulu. Kamu salah paham," ucap Ana berusaha membela diri. Keadaan makin keruh saat seorang pria ikut masuk ke dalam.


Itu baru Naki.


Sejenak Ana terpaku melihat penampilan pria itu yang jauh dari bayangannya. Ini adalah kedua kali Ana melihat Naki di dunia manusia. Dan pria itu jauh lebih tampan dari sebelum-sebelumnya.


Rambutnya sedikit keriting. Tingginya seatas bahu. Bagian depannya di poni, nyaris mirip Dora. Tapi Naki ini terlihat keren. Sejenak Ana terpaku melihat penampilan Naki yang nyaris mirip dengan Jengkok BTS.


"Ana, apa yang kau lakukan di kamar kami?"


"Cepat telepon polisi. Bilang ada penguntit di rumah ini," teriak Nasya tak sabar lagi. Dia menoleh marah pada asisten Naki.


Mendengar kata polisi disebut Ana langsung panik. Situasi gila ini sungguh tidak terpikirkan lagi oleh Ana.


"Tunggu dulu, jangan salah paham! Aku benar-benar tidak sengaja. Aku tersesat di sini."


"Kamu pikir aku percaya?" Nasya memutar bola matanya sinis. Asisten Naki terlihat bersiap menekan layar ponselnya.


"Cepat ke ruang Tuan Muda! Di sini ada penyusup masuk."

__ADS_1


"Eh, aku bukan penyusup!" seru Ana makin panik sejadi-jadinya. Saking paniknya dia mencoba berlari dan keluar dari kamar itu. Naki langsung sigap mencekal lengannya dengan satu tangan besar yang ia miliki.


Dalam sepersekian detik keduanya saling tatap seperti adegan di film India. Nasya yang melihat itu langsung menarik tangan Naki secepat kilat.


"Apa-apaan kamu! Ngapain pegang dia?"


Padahal Nasya tahu kalau Naki hanya refleks menangkap si penyusup. Tapi demi apa pun ia tidak rela jika Naki dan Ana saling tatap seolah meluapkan rasa rindu yang ada di dada.


Si asisten yang baru saja selesai memasukkan ponsel ke saku celana langsung menangkap Ana. Dia memutar dua tangan gadis itu ke belakang.


"Tuan dan Nona tenang saja. Semua bodyguard sudah saya suruh datang ke sini."


"Suruh saja mereka pukuli dia. Dasar penyusup tidak tahu diri," maki Nasya sewot.


Bayi kecil yang ada di gendongan perempuan itu sedikit menggeliat. Terpaksa Nasya bergerak ke arah ranjang untuk menidurkan anaknya dulu.


Ana kemudian dibawa oleh si asisten menuju ruang tengah. Dia akan diadili di sana. Para bodyguard juga akan dihukum karena mereka sampai kecolongan oleh perempuan yang diduga penysup.


"Lepas ... Lepas ... Aku bukan maling." Sekeras mungkin Ana berteriak supaya Adam mendengarnya. Sialnya pria itu tidak kunjung datang menolongnya.


Naki yang melihat Ana meronta-ronta sedikit iba. Dia merasakan darahnya yang tiba-tiba berdesir seperti popmi disiram air panas.


"Lepas, jangan pegang-pegang aku. Aku ke sini dibawa Adam. Kalian akan menyesal telah melakukan ini padaku!" teriak Ana.

__ADS_1


Entah kenapa Adam si orang yang paling ia butuhkan tak kunjung datang. Rasanya Ana ingin memaki pria itu saat ini juga.


__ADS_2