Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Pura-Pura Lagi


__ADS_3

Pagi harinya Nasya pulang setelah menghabiskan waktu semalaman dengan Jordi. Senyumnya merekah bahagia saat ingat kegiatan mereka semalam. Kegiatan panas di ranjang. Jordi benar-benar bisa membuatnya melayang dan jatuh cinta lagi dan lagi. Dia bahkan abai saat melihat Naki telah berdiri di teras menunggu dengan wajah masam.


Dengan santai dia keluar dari mobil dan mendekat ke Naki yang sudah berdiri dengan bersedekap. Dia balas muka masam Naki dengan wajah datar. Seolah tidak bersalah sama sekali.


"Darimana kamu?" tanya Naki. Suaranya terdengar keras dan tegas. Bagaimana tidak, Nasya telah menginap di luar tanpa memberi kabar dan ini sudah dia lakukan begitu sering.


Bukannya menjawab Nasya malah melengos begitu saja. Wanita itu masuk ke rumah dan duduk di ruang tamu sambil melepas heels begitu saja tanpa memedulikan kalau Naki telah begitu murka. Terlihat dari tonjolan urat di kepala lelaki itu.


"Nasya, jawab! Sebenarnya kamu darimana? Kenapa baru pulang sekarang?" tanya Naki lagi. Kali ini tidak senyaring tadi karena dia pikir akan menakuti anak mereka yang masih kecil.


Meski begitu kemarahan tak pudar. Dia masih menatap sengit Nasya. Istri yang dinilai lalai dan kurang ajar. Tega meninggalkan anak dan suami tanpa kabar.


"Nasya!'


"Apa itu penting? Bukankah yang penting aku sudah pulang sekarang?" balas Nasya tanpa melihat muka Naki.


"Jangan kurang ajar, aku suamimu."


Nasya tiba-tiba tertawa hambar, lalu berdiri dan bersedekap di depan Naki.


"Lalu kenapa kalau suami? Apa suami berhak melarang istrinya? Apa suami berhak mengurung dan mengekang? Apa seorang istrinya harus selalu ada di rumah? Aku manusia bukan binatang peliharaan!" balas Nasya, menohok. Tatapannya tak kalah sengit saat melihat Naki.


"Bukan begitu maksudku. Kamu tahu bukan itu yang aku ingin katakan. Aku hanya bertanya kamu ke mana dan apa yang kamu lakukan semalaman ini? Kenapa tidak pulang dan tidak memberi kabar?" cecar Naki lagi. Lelaki itu berusaha sabar meski sebenarnya kemarahan telah menyelimuti secara keseluruhan. Terlihat dari manik matanya yang menggelap.


"Ya karena aku ingin saja. Aku ingin menginap di luar?" Nasya menyeringai. "Kenapa? Kamu ingin mengekangku, apa hakmu?"


'Aku suamimu. Anak kita butuh kamu."


"Aku tidak suka dikekang."


"Nasya!"


"Kalau kamu terus begini aku berjanji akan melakukan apa yang kamu benci," tekan Nasya lagi. Tak takut sama sekali. Bahkan terlihat menantang.


Naki menggeram. Matanya menatap nyalang Nasya.


"Aku akan kabur, aku akan kabur yang jauh. Akan aku pastikan kamu tidak akan bisa melihatku lagi. Apa itu yang kamu mau?" geram Nasya. Tak main-main.


Naki yang melihat itu diam seribu kata. Sebenarnya ingin mengumpat, tapi ditahan mengingat betapa keras kepala Nasya. Dan jika dia nekat maka anak mereka yang masih kecil akan jadi korban. Anak mereka masih membutuhkan sosok ibu.


"Sudahlah, aku lelah. Mau istirahat." Nasya melengos lagi, dia masuk ke kamar dengan sedikit membanting pintu.


Sementara Naki yang masih ada di ruang tamu hanya bisa mengembuskan napas kasar sambil mengusap wajah dengan sebelah tangan. Dia kesal, amat kesal karena tingkah Nasya ini. Akan tetapi saat mengingat wajah kecil mungil anak mereka, kemarahan itu pun memudar dan dia putuskan memaafkan Nasya kali ini.


***


Sementara itu di kediaman Adam.


Ana yang melihat kakek uring-uringan tiba-tiba mendapat ide gila. Dia mendekati Kakek sambil menoelnya.


"Apa Kakek bosan?" tanyanya sambil mengedip jail.


"Ya."


"Kalau begitu apa mau jalan-jalan ke taman dekat sini?" lanjut Ana.


Kakek yang memang bosan pun menatap lama Ana, lalu mengangguk mengiyakan.


"Baiklah, kita pergi sekarang," sambung Ana.


Dan kakek tampak antusias sekali.


Sebenarnya Adam sudah mengingatkan Ana untuk jangan pergi jauh. Namun, Ana tidak memedulikan dan tetap mengajak kakek pergi. Dia pikir Adam hanya salah mengartikan kejadian kemarin, makanya tetap berani keluar rumah. Dia pikir jika lebih hati-hati maka hal mengerikan seperti kemarin tidak akan terjadi.


Tanpa Ana tau ternyata Jordi telah menunggu momen ini sedari tadi. Dia menyeringai licik saat melihat Ana dan kakek keluar rumah. Diam diam membuntuti dari belakang.


Saat ini lelaki itu telah lengkap dengan semua atribut demi melancarkan niat jahat. Pakai jaket kulit hitam, masker, bahkan helm full face. Lantas, menunggu di tempat yang aman. Menunggu di bawah pohon sambil sesekali menatap Ana. Dia tidak ingin momen ini terlewat begitu saja. Jika terjadi kegagalan, maka Nasya pasti akan lebih murka lagi.


"Aku ingin kali ini berhasil," ujar Nasya dari seberang telepon.


"Kamu tenang saja. Akan aku lakukan yang terbaik. Aku tidak akan aku buat kamu kecewa lagi," sahut Jordi terdengar penuh sayang.


"Terima kasih. Aku pegang janji kamu. Kalau kita berhasil akan aku beri kamu hadiah yang tidak akan kamu lupakan," sahut Nasya lagi disertai suara manja.


Jordi yang mendengar itu tersenyum senang, lantas memegang bibir dengan gaya sensual. Dia tahu apa yang dimaksud Nasya dan sebenarnya dia juga menginginkan itu.


"Kita akan berpesta semalam," lanjut Nasya lalu mematikan panggilan.


Jordi melihat ke arah Ana. Gadis itu tampak asyik bercerita di sana. Terlihat bersahaja.


"Maaf, sepertinya kebahagiaan kamu aku putus hari ini. Karena apa? Karena kebahagiaan Nasya itu lebih penting bagiku," gumamnya sambil menyeringai licik.


"Baiklah, aku akan lakukan tugas ini dengan cepat aku tidak boleh mengecewakan Nasya untuk kedua kalinya," gumamnya lagi sambil mengeratkan sarung tangan berbahan kulit.


Sementara itu di taman, Ana yang tadinya asyik menemani kakek tiba-tiba menyadari satu hal. Kakek terlihat tidak nyaman, lelaki tua itu juga beberapa kali berdeham.


"Kenapa, Kek?" tanya Ana. Perhatian seperti biasa.


"Kakek haus," kata Kakek singkat.


Seketika Ana menepuk jidat. Lupa akan satu hal penting itu. Harusnya membawa bekal minimal sebotol air. Tapi lihatlah, dia dan kakek datang dengan tangan kosong. Untungnya membawa uang dan ponsel.


Taman kali ini lumayan ramai. Meski begitu tidak membuat sang kakek terganggu. Lelaki tua itu justru terlihat menikmati pemandangan. Baginya di taman lebih menyenangkan ketimbang di rumah sendirian. Membosankan. Belum lagi aturan yang dibuat oleh Adam dan Ana. Kedua manusia itu sama sekali tegas perihal apa yang harus dikonsumsi.


"Kakek haus?" ulang Ana sambil mengulas senyum kecil.

__ADS_1


"Ya, belikan kopi."


Tentu mata Ana menyipit. "Kakek. Itu tidak baik untuk kesehatan. Di mana-mana orang haus itu minumnya air putih bukan kopi. "


"Tapi Kakek ingin kopi."


"Tidak ada kopi," tegas Ana. Meski begitu dia tetap mengulas senyum, berharap kakek memahami apa yang dia katakan. Dia melarang karena memang itu dilarang.


"Kamu keterlaluan. Apa tidak takut durhaka?" omel kakek misuh-misuh.


"Tidak apa, aku tidak masalah jadi anak durhaka yang penting kakek selalu sehat. Jadi kakek tolong mengerti ya, ini demi kesehatan kakek sendiri."


Kakek berdengkus, lalu memalingkan muka ke arah lain. Meski begitu dia tidak terlalu marah pada Ana.


"Baiklah kalau begitu kakek tunggu di sini. Aku ke warung yang di depan beli air putih," ujar Ana lalu memegang pelan tangan kakek. Dia pamit.


Kakek cuma dia mengangguk dan menatap punggung Ana menjauh perlahan demi perlahan, hingga akhirnya sebuah sepeda motor menyambar tubuh wanita itu dengan begitu cepat diikuti suara benturan keras. Motor itu menyambar bagian kiri hingga membuat tubuh gadis itu terpental jauh dan berakhir membentur trotoar.


Suara teriakan histeris tentu menggema di sana. Semuanya panik termasuk kakek. Kakek bergegas menarik badan Ana yang sudah lunglai.


"Ana, sadarlah!" serunya panik.


Namun, Ana tidak merespon. Sebenarnya ada begitu banyak kata dalam mulutnya, hanya saja tidak punya tenaga atau apa pun untuk mengatakan itu. Semua suara tertahan di tenggorokan. Mulutnya hanya menganga bergerak sedikit dengan mata yang mengerjap dan mengeluarkan air.


"Astaga, Ana. Bertahanlah!" seru kakek lagi. Makin takut dia.


Namun, Ana tetap tidak merespon. Cuma mata saja yang terbuka tertutup.


Kakek tentu makin panik. Dia memangku kepala Ana lalu melihat sekitar. "Tolong panggilkan ambulans! Tolong bawa kami rumah sakit!"


Kini kakek melihat lagi Ana, lalu menyentuh pipi gadis muda itu. "Ana, bertahanlah, bertahanlah, kita akan ke rumah sakit. Kamu akan baik-baik saja. Jadi tolonglah bertahan. Maafkan Kakek, tolong bertahan, ya."


Suasana taman yang tadinya aman nyaman kini berubah mencekam. Darah bersimbah ke mana-mana, belum lagi teriakan histeris para pengunjung. Tidak ada yang menyangka kalau kemalangan itu akan terjadi di sana dan menimpa gadis sebaik Ana.


Sementara Ana yang sudah berdarah hanya bisa mengerang tertahan. Merasakan ngilu luar biasa dan sakit tak terkatakan. Meski begitu tadi dia sempat menatap samar pengendara yang menabraknya. Pria berhelm berhenti tidak jauh darinya, setelah itu mengebut kembali hingga akhirnya hilang ditelan belokan.


Kini mata Ana terasa berat. Napas terasa tercekat di tenggorokan. Tidak bisa fokus dengan apa pun. Ucapan kakek bahkan terdengar samar. Tidak lama mata itu pun tertutup rapat.


Ana dibawa ke rumah sakit. Dia ditangani secara intensif oleh paramedis. Keadaannya yang kritis membuat kakek yang menunggu di sana hanya bisa diam, berdoa agar Ana baik-baik saja.


"Apa dia akan baik-baik saja?" tanya Kakek dalam hati, lalu bergegas hubungi Adam dan Naki. Sia pikir mereka berdua harus tahu ini. Dia juga berharap pelaku ditemukan.


"Kakian ke sinilah. Kakek di rumah sakit. Ana dikabarkan dan sekarang lagi dioprasi."


Dua cucunya itu tentu panik dan bergegas ke sana.


Selang dua puluh menit Adam tiba, tidak jauh darinya ada Naki. Mereka segera mendekat ke kakek dengan langkah lebar.


"Bagaimana keadaan Ana, Kakek?" tanya Adam.


"Kakek tenang saja. Ana pasti akan baik-baik saja," ujar Adam lagi, menghibur. Dia tahu sang kakek pasti shock dan akan menyalahkan diri sendiri.


Sementara itu Naki yang melihat kakek begitu terpukul hanya bisa menggeram.


"Sebenarnya siapa yang melakukan ini?" geramnya tertahan.


"Sebenarnya kemarin Ana juga hampir ditabrak," jelas Adam.


Mendengar itu Naki pun berang.


"Lalu, kenapa tidak kamu selidiki?" Teriaknya.


Adam yang sedang duduk di sebelah kakek pun menatap Naki yang masih berdiri. "Aku sedang menyelidikinya dan aku sudah memperingati Ana agar tidak kemana-mana."


"Ini salah kakek," sambar kakek dengan suara parau.


"Bukan. Ini bukan salah Kakek. Kakek tidak salah, yang salah itu pelaku dan kita harus menghukumnya," garam Naki, matanya berkobar penuh kebencian, tangannya bahkan mengepal.


"Kakek tenang saja, aku akan cari pelakunya, kita harus mengusut ini sampai tuntas,' lanjut Naki.


Naki lantas pergi tanpa mendengar jawaban Kakek atau Adam. Dia sudah kadung marah dan kesal pada pelaku. Gegas dia hubungi polisi dan meminta ini diselidiki.


Sementara itu, Kakek dan adam terdiam menatap pintu ruang operasi yang tertutup. Andai, kalau bisa dia ingin menembus dan melihat apa yang dokter lakukan di dalam. sungguh, dia sangat panik, begitu takut, sangat takut kalau hal buruk mendera Ana. Gadis bawel tapi baik hati.


"Ya tuhan, tolong selamatkan gadis itu, tolong selamatkan dia," gumam Kakek dan Adam bersamaan.


Setelah menunggu hampir tiga jam, lampu indikator di ruang operasi pun menyala, menandakan kalau operasi telah selesai. Gegas kakek mendekat.


"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Kakek, terlihat bersalah raut mukanya karena beranggapan kalau musibah ini dirinyalah yang mendalangi. Andai tidak mengaku bosan pasti dirinya dan Ana tidak akan keluar rumah, lalu kejadian ini tidak akan terjadi.


Namun, jawabnya dokter buat Kakek terdiam lesu. Ana dinyatakan koma akibat benturan keras di kepala.


***


Sementara itu, Nasya kembali berpesta dengan Jordi. Mereka merasa di atas angin lantaran Ana yang dianggap ancaman telah terkapar tidak berdaya. Mereka menghabiskan malam yang indah di sebuah apartemen.


"Aku suka cara kerjamu, Jordi," ujar Nasya sambil duduk di pangkuan Jordi dan mengalungkan lengan di leher pria itu. Sementara tangan satunya memegang gelas wine, mereka bersulang lalu terkekeh bersamaan. Terlihat berpuasa hati atas kemalangan orang lain.


"Terima kasih, aku mencintaimu," lanjut Nasya lagi.


Jordi yang gemas mengusap pipi Nasya. "Demi kamu aku bisa melakukan apa pun."


Nasya diam mengamati wajah Jordi.


"Masih tidak percaya?" lanjut Jordi. Alisnya mengernyit.

__ADS_1


Lalu, Nasya menggeleng dan mengecup dahi Jordi. "Aku percaya. Kamu yang terbaik, Jordi."


"Dan kamu pemenang. Aku mencintaimu," bisik Jordi pelan hingga buat Nasya merinding, lalu tersenyum genit setelahnya.


Tanpa mereka tahu polisi telah mengepung apartemen itu. Pepatah mengatakan sepandai-pandainya tupai melompat, dia akan jatuh juga. Begitu juga dengan kejahatan mereka berdua. Walau sudah disusun sedemikian rupa jejak dan bukti tetap didapat oleh polisi.


"Aku mencintaimu," balas Nasya dengan lirih. Tatapannya juga susah mulai sayu. Menandakan dia sudah siap ke pesta puncak. Yaitu ranjang panas.


Saat mereka hendak melakukan hal lebih tiba-tiba pintu diketuk. Pertama terdengar pelan, lalu terdengar agak keras dan tidak sasaran.


"Sial, siapa itu?" geram Jordi. Kesal karena kegiatannya tertunda.


"Turunlah, Sayang. Aku harus lihat siapa yang datang," lanjut Jordi lagi.


Namun, Nasya menggeleng, dia bahkan menyentuhkan telunjuknya ke bibir Jordi. "Biar aku saja."


Jordi diam. Mengamati manik matan Nasya yang cantik dan menggoda.


"Kamu raja malam ini. Soal pintu biar aku yang membukanya," balas Nasya. Sebelum berdiri dia sempatkan membelai bibir Jordi dengan gaya sensual.


Jordi tentu senang diperlakukan begitu. Dia bahkan sudah on. Nasya benar-benar menjadikannya raja malam ini, mereka akan berpesta.


"Cepatlah, lalu kembali. Aku tidak sabar ingin dirajakan di ranjang ini," kata Jordi sambil menyeringai. Matanya melirik ranjang besar yang sudah ada di sana.


"Tenang saja. Aku milikmu malam ini," balas Nasya sensual.


Meski bersungut, Nasya buka juga pintu dan kaget bukan main saat melihat ada begitu banyak polisi. Yang buat dia lebih kaget lagi adalah polisi-polisi itu merangsek masuk dan menangkap Jordi.


Jordy tentu melakukan perlawanan. Tapi tetap saja tidak sebanding dengan jumlah polisi. Dia kalah telak.


"Apa-apaan ini?" ujar Jordi tidak terima. Lebih berang lagi saat tangannya diborgol.


Polisi pun menjelaskan alasan mereka di sana. Mereka mendapat bukti kalau yang melakukan tabrak lari adalah Jordi. Nasya yang ada di sana tentu tidak bisa lepas begitu saja. Mereka membawa Jordi dan Nasya. Nasya diiring masuk ke mobil polisi tak ubahnya seorang PSK yang ketahuan jual diri.


"Jangan sentuh!" teriak Nasya tak terima saat ada satu tangan hendak menuntunnya.


Meski begitu polisi tetap melakukan tugas. Mereka membawa Nasya dan Jordi ke kantor polisi.


Lantaran mendapat laporan itu Naki pun bergegas ke kantor polisi. Sepanjang jalan dia terus mengumpat, tidak menyangka kalau istrinya telah berselingkuh. Lebih parahnya telah mencelakai Ana.


Naki dapat kabar itu dari polisi yang bertugas. Bukti itu mereka dapatkan dari ponsel yang mereka sita, ponsel Jordan dan Nasya. Di situ menjelaskan bahwa Nasya yang menjadi otak atas kejahatan itu. Mereka digerebek saat berpesta.


Sesampainya di kantor polisi Naki segera mencari sosok wanita yang bergelar istrinya. Wanita jahat yang sialnya sudah melahirkan anaknya, anak yang dicintainya.


Mengingat sang anak murka Naki pun makin menjadi. Dia tidak tahu harus bagaimana menghadapi buah hatinya nanti dan tidak tahu cara menjelaskan apa yang telah Nasya lakukan. Wanita yang telah bersamanya sekian tahun ini ternyata tak ubah iblis yang menyamar jadi manusia.


"Nasya!" teriak Naki tak tanggung-tanggung. Suaranya menggema di kantor polisi.


Semua mata polisi tentu terarah ke Naki.


"Naki …." Nasya memelas. Dia mendekat ke Naki. Tampilan wanita itu begitu sangat mengerikan. Ada bau alkohol dan rambut yang acak-acakan, belum lagi make up yang sudah tak beraturan.


Meski begitu apakah Naki sedih? Oh, tentu tidak. Dia bahkan terlihat sangat murka saat mengetahui kalau Nasya adalah dalang tabrak lari itu. Jika bisa dia ingin mencekiknya saat itu juga.


"Jadi ini yang kamu lakukan?" sentaknya nyaring, lalu melirik bengis ke Jordi yang susah babak belur karena sebelumnya melakukan perlawanan.


Mata Naki terpicing. Hatinya sakit melihat Nasya adalah orang yang mencelakai Ana. Saking sakitnya tidak tahu harus apa lebih dulu, apakah memaki atau menampar wanita itu lebih dulu.


Nasya yang panik hanya bisa memelas. Dia bersimpuh di kaki Naki tak peduli kalau dirinya telah dilihat banyak pasang mata.


"Tolong bantu aku. Bantu aku demi anak kita," ujarnya memelas. Dia terisak makin jadi. Itu karena sudah tidak bisa berilah. Bukti sudah ada depan mata. Dia terancam dipenjara dan dia tak ingin itu terjadi.


"Bantu aku demi anak kita," lanjut Nasya.


"Anak kita?" ulang Naki. Lalu, setelahnya Naki terkekeh hambar. Tidak cuma itu, dia juga menarik kaki yang dipegang Nasya.


"Jangan pernah sebut nama anak kita!" lanjut Naki. Ya, wajar dia kecewa. Nasya selama ini abai padanya dan sang anak, lalu saat begini malah memanfaatkan anak mereka yang jelas-jelas Anak itu hanyalah Anak yang diambil Nasya dari panti asuhan.


"Tapi aku tidak bisa begini. Tolonglah bantu aku, bantu aku sekali lagi. Aku … aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Aku berjanji akan jadi istri yang baik dan ibu yang baik untuk anak kita, tapi tolong lepaskan aku dari sini." Nasya mendongak, air matanya menganak sungai. Dia benar-benar mengiba, benar-benar sudah putus asa.


Melihat itu makin sakit hati Naki. Mulutnya sampai terkekeh hambar. Dia juga memukul dadanya sendiri. Merasa menjadi orang bodoh di sini.


"Aku bodoh karena sudah percaya kamu. Aku benar-benar bodoh. Kamu pasti menertawakan aku kan?"


Mata Naki kemudian menatap Jordi, lalu makin terkekeh hambar. Gegas dia mendekati pria selingkuhan Nasya dan tarik kerah kemejanya. Membuat lelaki itu berdiri dengan paksa.


"Binatang!" umpatnya kesal. Hampir saja bogem mentah melayang. Untungnya dia masih bisa mengendalikan diri. Merasa tidak pantas menyentuh Jordi. Jordi tak ubah kotoran di matanya. Bedebah.


Polisi yang ada di sana tentu melerai.


"Tenangkan diri anda Pak Naki," ucap salah satu polisi yang ada di sana.


Kini mata Naki menatap Nasya, lalu mendekati wanita itu lagi. Tapi, Nasya dengan tak tahunya memeluk kaki Naki lagi. Dia berdiri laku memeluk Naki kuat-kuat.


"Aku minta maaf. Aku menyesal tolong bantu aku aku tidak mau dipenjara," lirihnya di dada Naki.


Tentu Naki berang. Dia dorong dada Nasya kuat-kuat sampai wanita itu terhuyung.


"Aku tidak sudi berurusan sama kamu lagi!"


"Tapi aku istri kamu."


"Aku tidak punya istri seperti kamu. Kamu berselingkuh dan kamu mencelakai Ana. Di mana nurani kamu, Sya!"


Nasya menunduk. Air matanya menganak sungai.

__ADS_1


"Pak polisi, tolong usut ini sampai tuntas," lanjut Naki lalu pergi dari sana.


__ADS_2