Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Drama Apa Lagi Ya?


__ADS_3

Di saat Naki belajar untuk menerima kehadiram Ana sebagai calon iparnya, lain hal nya dengan Nasya. Wanita itu merasa hidupnya terabaikan sejak kedatangan Ana. 


Malam hari, dia memutuskan untuk membuat sebuah pertunjukkan kecil. Dia ingin membuat Naki menyesal karena seharian ini telah mengabaikan perempuan itu.


Nasya mengamasi barang-barangnya dan juga menggendong Vanilla yang sudah tidur. Naki sangat terkejut saat masuk kamar. Dia berniat mengajak Nasya makan malam, tapi perempuan itu sudah menggendong Vanilla sambil menyeret sebuah koper besar.


"Apa yang kamu lakukan, Nasya? Kamu mau ke mana malam-malam begini?"


"Aku mau pergi. Toh kamu sudah tidak peduli lagi padaku. Sebelum aku dan Vanilla tersingkir karena kehadiran Ana, lebih baik aku pergi duluan saja."


"Nasya, jangan seperti itu." Dengan lembut Naki menarik koper Nasya. Tapi perempuan itu terus meronta hingga membuat Vanilla merasa terusik.


"Vanilla baru saja sembuh dari demam. Apa kamu tega membiarkan Vanilla kedinginan di luar sana? Tolong jangan seperti ini, aku sangat mencintai kalian, aku mana bisa hidup kalau kalian tidak ada."


Bola mata Nasya memicing sinis. "Omonganmu tidak ada gunanya sama sekali Naki. Aku hanya membuang-buang waktu di sini."


Nasya menghempaskan tangan Naki yang sejak tadi memeganginya. 


"Aku harus bagaimana supaya kamu tidak marah lagi? Bukankah aku sudah minta maaf berkali-kali? Selain itu kamu juga salah, kamu pergi meninggalkan aku dan Vanilla dari pagi sampai ke pagi lagi," ucap Naki.


Tatapan Nasya pun menajam. "Karena aku salah, maka dari itu aku pergi. Tolong jangan halangi aku."


Nasya kembali menyeret kopernya. Naki terus mengejar sampai tak sengaja mereka berpapasan dengan Adam yang baru pulang kerja.


"Drama apa lagi ini?" Adam berdiri tepat di hadapan Nasya hingga mau tak mau perempuan itu menghentikan langkahnya.


"Jika kamu mau kabur, kabur saja sendiri! Jangan bawa-bawa Vanilla." Adam langsung merebut gadis kecil yang ada di gendongan Nasya. Tentunya gadis kecil itu langsung menangis karena menjadi bahan rebutan orang dewasa. 


"Selesaikan masalah kalian berdua. Malam ini aku akan mengamankan Vanilla dari pertengkaran kalian yang menyebalkan."


"Adam!" Nasya berseru tidak terima. Dia hendak menyusul Tapi Adam terus berjalan sambil membawa Vanilla yang menangis makin gila di gendongannya. Naki pun mencegan Nasya untuk menyusul pria itu.


"Biarkan Vanilla bersama Adam," ujarnya.


Nasya makin tidak terima. Dia kembali melangkah menuju pintu keluar.


***


Ceklek …

__ADS_1


Adam membuka pintu perlahan. Suara tangis Vanilla langsung memenuhi seisi ruangan. Ana yang sudah tidak terlalu pusing langsung berdiri begitu melihat Adam membawa Vanilla masuk.


"Vanilla kenapa lagi?"


"Ayah ibunya sedang bertengkar. Aku tidak mau anak yang engga berdosa ini terkena imbas dari mereka," ujar Adam.


"Ya ampun! Sini biar aku tenangin."


Ana langsung membawa Vanilla dalam gendongannya. Badan gadis itu kembali panas.


"Bisakah Om mencari obat milik Vanilla di kamar sebelah? Sepertinya dia demam lagi," ucap Ana sembari mengecek pada bagian dahi.


"Siap Nona!" Adam mengangguk diikuti dengan senyuman.


Saat Adam masuk ke kamar, Naki dan Nasya tak ada di sana. Entah di mana dua manusia itu melakukan gonjang-ganjing rumah tangga, yang jelas Adam langsung pergi dari kamar itu setelah berhasil menemukan obat untuk Vanilla.


***


Ana dan Adam memutuskan untuk fokus terhadap Vanilla ketimbang mengurusi hidup Naki dan si medusa. Malam itu Ana menidurkan Vanilla di kamarnya. Entah kemana perginya Naki dan istrinya. Mereka tak menunjukkan tanda-tanda kembali sampai detik ini.


"Kamu nggak tidur?" tanya Adam. Ana hanya menggeleng sebagai jawaban. Ana terlihat galau, dan ia menyadari ada yang beda dalam diri Ana.


Adam mendekat. Lelaki itu duduk di bibir ranjang tepatnya di samping Ana.


Ana menggeleng. Dia sengaja tidak memberi tahu Adam kalau dirinya ingin mundur dari pekerjaannya menjadi pelakor itu. Dia akan melakukan itu secara pelan-pelan, dan sedikit merubah haluan. Yang jelas dia tidak berniat lagi menjadi calon istri Naki semenjak ia tahu betapa besar rasa cinta Naki terhadap mantan sahabatnya itu.


"Kalau kamu ada masalah tolong cerita padaku saja Ana. Aku tidak mau rencana yang kita persiapkan ini sampai gagal total hanya karena kamu berpindah haluan."


Adam seperti mengetahui perasaan Ana. Namun, gadis itu masih terus bungkam.


"Aku tidak ada masalah. Om tenang saja. Sebaiknya Om tidur, aku pun sudah mengantuk sekali," ujar Ana. Gadis itu membaringkan tubuhnya di samping Vanilla, Adam pun terpaksa pergi.


***


Kembali lagi pada Nasya. Perempuan itu sudah berdiri di depan gerbang. Dia sudah ada di puncak dramanya. Nasya tidak mungkin maju selangkah lagi. Atau dia akan mendapatkan masalah besar jika pergi di malam hari begini.


"Nasya berhenti!"


Sesuai dugaan perempuan itu, Naki berteriak murka saat tangan Nasya menyentuh pintu gerbang. "Apa maumu sekarang? Jika itu memungkinkan aku akan menuruti, tapi jika itu tidak memungkinkan, aku tidak bisa berbuat lebih."

__ADS_1


"Aku mau kita pindah dari rumah ini. Aku mau rumah besar yang hanya dihunii oleh keluarga kita saja. Tidak ada Adam, Ana, dan juga Kakek.."


"Kau tahu aku tidak bisa melakukan itu," ujar Naki seraya menggelengkan kepalanya pasrah.


"Itu artinya kamu sudah tidak mencintaiku, Naki. Kamu membuat aku hidup dalam tekanan," balas Nasya dengan kesal.


Pertengkaran di antara keduanya seolah tidak ada habis-habisnya.


Nasya sangat menyebalkan, dan Naki selau saja kalah oleh perempuan itu.


"Please, jangan membuat aku bingung. aku akan segera memikirkan solusi yang baik untuk keluarga kita. Tapi aku mohon, kamu jangan pergi," ucap Naki.


Bagaimanapun juga Naki tidak mau Vanilla harus kehilangan ibunya. Selama ini dia menuruti apa pun kemauan Nasya karena ia tidak mau Vanilla hidup tanpa ibu seperti dirinya.


"Baiklah, kali ini aku akan menurut padamu." Nasya melepaskan kopernya. Dia memeluk Naki dan pura-pura menangis di pelukan lelaki itu.


"Maafkan aku untuk beberapa hari ini, Naki. Aku terlalu takut kehilangan kamu. Itu sebabnyak aku bertingkah serba salah begini," ujar Nasya.


"Aku tidak akan pergi meninggalkanmu. Ayo masuk ...."


Naki menuntun Nasya kembali ke kamarnya. Setelah semua yang terjadi malam ini, keduanya memutuskan berdamai. Naki tidur di pelukan Nasya setelah mendapat sentuhan tangan pada bagian pedang kegelapannya.


Sekitar jam 12 malam ponsel Nasya berdering. Dia mengangkap panggilan itu seraya menjauh dari Naki.


"Hallo, Jordi? Ada apa?"


"Tidak, aku hanya khawatir. Apakah kamu sudah berhasil meluluhkan hati si tolool itu? Dia tidak mencelakaimu, bukan?"


"Kamu tenang saja, dia tidak mungkin berani melakukan itu," ujar Nasya. "Kami sudah baikan seperti semula, sayang. Kau kan tahu Naki itu mudah sekali dirayu."


"Ya sudah. Kalau begitu selamat malam." Jordi menutu panggilan itu.


Tanpa Nasya sadari, Naki tidak tidur dan mendengar semua percakapan itu.


Sebenarnya Naki sudah hampir tidur, tapi dia mendengar bunyi telepon itu. Dalam diam Naki mendengarkan dengan hikmat.


Dia cukup tercengang mendengar panggilan kata sayang yang terjadi antara mereka berdua.


Ternyata selama ini aku dibohongi dan dianggap manusia bodoh. Benar yang Adam katakan. Nasya bukanlah wanita yang baik seperti yang aku lihat.

__ADS_1


Akhirnya Naki baru percaya setelah mengalami hal itu sendiri. Tetapi untuk saat ini Naki memilih diam sambil memperhatikan sejauh mana Nasya membohonginya.


***


__ADS_2