Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Botak


__ADS_3

Tanpa menoleh kembali, Ana terus berjalan menyusuri sebuah lorong mewah yang entah ujungnya akan mengantar dia sampai ke mana. Yang jelas sekarang ia ingin menghindari Naki dulu. Ana tak mau melihat Naki karena perasaannya saat ini masih belhm terbiasa diajak kuat.


"Sudah hampir tiga tahun lamanya. Ternyata aku masih belum move on dari manusia sialan itu," gumam Ana. Langkahnya terhenti saat menyadari sudah tidak ada jalan lagi.


Ternyata lorong itu menembus pada area kolam yang sangat besar. Dan mau tak mau Ana keluar, berharap di samping kolam ada jalan, tapi nyatanya ia tak menemukan apa-apa kecual pendopo dan kursi-kursi cantik yang berjejer mengelilingi area kolam.


Kepala Ana celingak-celinguk. Dia masih terus berusaha mencari jalan keluar. Tapi sejauh mata memandang hanyalah tembok tinggi yang Ana lihat. Perempuan itu tidak mungkin mampu memanjat tembok setinggi itu.


"Om Adam sialan! Kamu ke mana, Bodoh? Harusnya di saat-saat ini kamu datang buat aku!" Ana menjerit kesal. Tak peduli ada orang yang mendengar. Yang jelas dia sudah sangat emosi karena tidak menemukan jalan keluar dan malah makin tersesat.


Ana pun segera merogoh ponselnya. Dia nyaris lupa kalau dia masih punya ponsel untuk menghubungi Adam.


"Eh, tapi 'kan aku nggak ada nomornya Om Adam. Terus gimana caranya aku telepon dia?" Gadis yang pikirannya sedang buntu itu langsung terpuruk di atas rumput. Aduh, bisa-bisanya dia asal merogoh ponselnya.


"Terus gimana ini? Mana gak ada orang sama sekali," maki Ana kesal. Andai tadi ia tidak memaksakan diri berkeliling mungkin kejadiannya tidak begini. Ini pula Adam, kenapa dia tak kunjung mencari Ana. Bukankah ia sudah berkeliling cukup lama.


Di kolam yang cukup sepi itu, Ana memeluk lututnya sambil menyembunyikan wajah. Dia terisak dan mulai teringat dirinya yang serakah.


Seharusnya aku tidak usah masuk saja ke keluarga ini. Mereka bukan tandinganku. Seharusnya aku tidak usah ikut campur sama urusan orang kaya, batinnya. Ada rasa kesal, tapi nalurinya mengajak Ana untuk tegar dan pantang menyerah.


*


*


*

__ADS_1


Sementara di sisi lain, Adam baru saja selesai mandi saat pintu kamarnya diketuk dari arah luar. Ia pikir itu Ana, tapi saat pintu terbuka, ia melihat tatapan Naki yang sangat berapi-api sekali.


"Apa kamu baru saja membawa perempuan ke rumah ini?" tanya Naki dengan suara dingin. Dia bertanya dengan tatapan mata tajam.


"Perempuan? Dimana dia sekarang?" Adam celingak-celinguk. Pura-pura panik dan kaget sekali.


"Tadi dia hampir saja dilaporkan ke polisi oleh sekretarisku setelah ketahuan menyusup ke kamarku dan Nasya. Sebaiknya kamu jangan sembarangan meninggalkan orang asing di rumah ini. Akan lebih baik lagi jika tidak sembarangan membawa orang ke rumah," ujar Naki. Kilatan marah di mata pria itu membuat Adam tersenyum. Ternyata baru hari pertama saja Naki sudah terpancing oleh kehadiran Ana.


"Namanya Diana. Dia bukan orang sembarangan Naki. Mulai saat ini Diana akan menjadi perawat kakek."


"Apa kamu bilang? Perawat Kakek?" Dua bola mata Naki terkejut. Itu artinya Ana akan tinggal di sini, dan Naki akan bertemu dengan gadis itu setiap hari.


Membayangkan semua itu membuat jantung Naki berdebar, seperti ada sesuatu yang tidak bisa ia jabarkan dalam lubuk hatinya.


"Iya, sekarang dia di mana? Aku takut dia tersesat," ujarnya.


"Ok, aku susul dulu." Adam berlari dengan cepat. Naki pun tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengikuti Adam. Dia masih ingin marah-marah lagi pada Ana, dan sembilan puluh persennya lagi ingin melihat keadaan gadis itu.


Setelah berlari cukup lelah, akhirnya Adam melihat keberadaan Ana. Ternyata dia ada di pinggir kolam dengan keadaan kasihan, dan kolam itu cukup jauh dari posisi Ana saat baru datang tadi.


Pasti dia panik karena tidak bisa kembali, batin Adam iba. Tapi dia memilih kata lain supaya tidak terkesan berlebihan.


"Bisa-bisanya kamu nyasar sampai ke sini?"


Sontak Ana mendongak begitu mendengar suara Adam. Ia baru saja hendak memukul dan memaki bujang lapuk itu, tapi tak selang lama Naki muncul di balik punggung Adam. Itu membuat Ana memberanikan diri melancarkan aksinya.

__ADS_1


"Sayangg ... Aku takut sekali. Kamu ke mana saja?" Ana langsung menghambur ke pelukan Adam. Lelaki itu sedikit heran, tapi ia berusaha menjalankan peran secara pelan-pelan.


"Maafkan aku. Tidak seharusnya aku meninggalkan kamu sendiri. Rumah ini memang agak besar," ujar Adam sambil mengelus-elus pundak Ana.


Agak besar apanya! Bahkan aku rasa kawasan ini lebih besar daripada rumah sakit tempatku bekerja, batin Ana merutuki. Andai tidak ada Naki ia pasti sudah menjambak rambut Adam sampai botak.


"Apa yang kalian lakukan? Ngapain kalian berdua pelukan di sini?"


Adam tak dapat menahan tawanya saat belakang sana Naki menggemakan suaranya. Sebenarnya dia ingin sekali terbahak. Tapi ia tahan sebisa mungkin supaya Naki tidak curiga.


Adam pun berbalik dengan posisi merangkul pinggang Ana.


"Ah, aku hampir lupa. Ana adalah calon tunanganku yang sempat aku ceritakan waktu itu. Apa kamu masih ingat?"


"Aku lupa. Berita apa pun tentangmu selalu aku lupakan karena itu tidak penting," balas Naki malas. Sekarang Ana tahu seburuk apa hubungan Naki dengan Adam. Ternyata mereka tidak seakrab yang Ana bayangkan.


Naki ini seperti penjahat. Dan Adam terlihat seperti orang yang cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Ya sudah kalau begitu. Intinya aku cuma pengin ngasih tahu kalau Ana adalah kekasihku. Dan untuk masalah yang tadi, aku yakin Ana tidak sengaja masuk ke kamarmu. Katakan saja kalau ada barang yang hilang," sindir Adam.


Naki semakin mengepalkan dua tangannya kesal. Dia pun segera pergi meninggalkan mereka tanpa banyak bicara.


"Bagaimana sandiwaraku? Apa aku terlihat seperti orang yang menjalankan peranku dengan baik?" Ana menoleh pada Adam sambil melepaskan tangan lelaki itu yang masih menempel di pinggangnya.


"Ini awalan yang bagus. Tadi kamu bisa lihat 'kan. Bagaimana ekspresi Naki saat tahu kamu adalah calon tunanganku."

__ADS_1


"Hmmm. Naki memang terihat beda. Tapi Om jangan senang dulu. Ke depannya pasti Nasya akan menjadi penghalang yang kuat. Jadi kita harus lebih pintar cari momen yang pas," ujar Ana.


"Ok. Aku paham."


__ADS_2