Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Ada Yang Lepas


__ADS_3

Ana mendesahkan napasnya berat. Ia membiarkan Nasya berlari meninggalkannya begitu saja karena masih ada hal penting yang harus ia urus terlebih dahulu. Nasya masih terus berlari tanpa menoleh. Hanya dalam hitungan detik tubuh gadis itu menghilang di balik pepohonan.


Mata Ana kemudian tertuju ke arah gubuh yang pintunya masih terbuka. Dia mendesah. Ana menyadari ada hal lain yang harus ia bereskan sekarang juga atau kacaunya akan bertambah parah.


Naki ....


Lelaki itu pasti mendengar percakapan Ana dan Nasya barusan. Tidak menutup kemungkina Naki juga merasa tersinggung karena Nasya pergi secara tiba-tiba.


Kaki jenjang Ana melangkah santai menuju gubug. Ia pastikan pintu gubug itu tertutup rapat sebelum ia menghampiri Naki. Sesuai dugaan dalam sepersekian detik tatapan Naki berubah tidak bersahat.


"Apakah Adinasya Manila itu tidak suka padaku?" Naki menatap kecewa pada Ana.


Tak ada hal yang bisa gadis itu tutupi. Nasya memang takut sekali pada Naki karena sikapnya yang sembarangan.


"Iya, dia bilang dia takut kepadamu, Naki."


"Kenapa?" Lelaki polos itu bertanya seperti orang tidak tahu diri.


"Nasya bilang kamu tidak sopan. Seharusnya kamu tidak menatap seorang gadis secara sembarang begitu. Apalagi tatapan itu membuat dia kurang nyaman dan ketakutan," ujar Ana.


Naki makin kebingungan. Dia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun. Hanya menatap, memang apa salahnya?


"Memangnya salah jika aku menatap dia? Aku menatap dia karena dia sangat cantik!" pujinya.


Mendengar itu bola mata Ana membulat. Andai Naki adalah pacar Ana sungguhan mungkin dia sudah menamparnya sebanyak tujuh kali. Untung kali ini kesabaran Ana tidak setipis tisu kondangan dibagi lima. Dia masih bisa sabar memaklumi kepolosan otak dan hati Naki.


"Lain kali kamu tidak boleh begitu kepada orang yang belum dikenal dekat Naki. Nasya tidak sama seperti aku. Jadi kamu harus bisa menjaga sikap dan pandangan sekalipun kamu sangat menyukainya. Paham?"


Naki mengangguk walau masih kurang paham. Ia kemudian merubah ekspresi wajahnya menjadi sedih.

__ADS_1


"Aku mengerti Ana ... Tapi mengenai ikut kalian pergi aku masih belum bisa. Setelah kupikir-pikir sepertinya aku tidak bisa meninggalkan hewan peliharaanku. Mereka pasti sedih sekali jika aku tidak ada."


"Jadi kamu lebih mentingin perasaan hewan ketimbang aku, ya? Kamu memang luar biasa. Baru kali ini aku punya pacar yang tidak peduli sama pacarnya sendiri," kesal Ana sembari buang muka.


Rasanya ia dongkol karena konflik perdebatan mereka masih membulat di titik ini. Tidak ada kesudahan ... Apalagi titik terang.


"Maaf ... Ana ...."


Naki menunduk sedih. Namun, bukan Ana kalau tidak memiliki rencana segudang untuk meluluhkan hati Naki.


Sepertinya aku harus menggunakan cara terakhir.


Gadis itu tersenyum. Dia mendekati Naki dengan gerakan erotis dan ekspresi wajah yang menggoda.


Tentunya Naki agak heran melihat Ana bertingkah seperti cacing digaremin. Tapi hal itu cukup membuat Naki terpesona. Terbukti dari mata lelaki itu yang tidak mau berhenti memandangi setiap langkah Ana.


"Baiklah jika itu maumu, Naki. Sebagai orang yang menyayangimu aku hanya bisa ikhlas. Aku harap kamu bahagia dengan pilihanmu."


Naki tersentak. Dari sorot matanya Naki tampak penasaran menunggu adegan demi adegan.


"Izinkan aku memberimu kenangan untuk terakhir kalinya, Naki," bisik gadis itu.


Dia tersenyum hangat. Matanya yang satu terus menatap Naki hingga pandangan mereka saling terkunci.


Tangan Ana di bawah sana sudah tidak bisa tinggal diam entah sejak kapan. Dia terus bergerak ke hutan paling liar hingga berhasil menjerat peliharaan buas milik Naki.


"A ... Ana."


Lelaki itu agak tersentak saat merasakan sesuatu yang lembut mulai menaklukan daerah kekuasannya. Dia terpejam. Dua tangannya mencengkeram bahu Ana tanpa sadar.

__ADS_1


"Tutup terus matamu, Naki. Sebentar lagi kamu akan merasakan sesuatu yang indah untuk pertama kalinya," bisik Ana.


Naki terus memejamkan matanya. Suara ******* diikuti tarikan napas memburu mulai keluar dari bibir Naki. Tangan Ana di bawah sanacterus bekerja lincah.


"Ahhhhhh ...."


Dalam hitungan kurang dari dua menit Naki berhasil melepakan apa yang selama ini terkunci di tubuhnya. Lelehan putih itu tumpah sempurna di tangan Ana.


Ia tidak pernah menyangka Naki akan semudah itu.


"Bukalah matamu," bisik Ana.


Naki perlahan membuka matanya. Napas lelaki itu masih ngos-ngosan tidak karuan. Kini Naki baru menyadar bahwa dirinya masih berpijak pada bumi. Padahal, beberapa menit lalu Naki merasa pindah ke dimensi lain.


"Apa yang kau lakukan, Ana?" Naki bertanya dengan napas yang masih memburu. Ada rasa nikmat sekaligus lega ketika cairan itu keluar dari tubuhnya. Ia yakin itu bukan air seni yang biasa keluar. Rasanya juah berbeda. Panas dan gelisah yang biasanya Naki rasakan saat berdekatan dengan Ana seketika sirna saat air ajaib itu menyembur keluar.


"Itu hadiah terakhir untuk kamu sebelum kita berpisah. Itu juga bagian dari cara manusia saat meredakan pasangannya yang sedang merasa gelisah dan tidak nyaman sepertimu," terang Ana.


Gadis itu tersenyum lagi. "Untuk hal seperti itu hanya manusia yang bisa melakukannya. Sayang kamu memilih tinggal bersama hewan, mereka tidak akan mampu memberikan rasa nyaman dan hangat seperti itu," ucap Ana kemudian.


Naki termenung. Bahkan yang Ana lakukan tadi lebih dari sekadar nyaman dan hangat baginya. Itu sangat sangatlah nikmat sampai Naki sendiri tidak bisa menjabarkan perasaannya saat ini.


"Ana ...." Ada rasa sesak di dada. Ada rasa tidak rela menggerayangi jiwa. Namun, Ana terlihat tidak peduli sama sekali. Wanita itu malah bergerak mengambil koper di pojok ruangan.


"Selamat tinggal, Naki. Senang bisa mengenalmu selama ini. Terima kasih untuk semuanya ... Aku pamit!"


Setelah mengatakan itu Ana membopong kopernya. Selangkah ... Dua langkah ... Ana tersenyum. Dia yakin sekali Naki pasti akan memanggil atau bahkan menyusulnya.


Kenapa ini? Kenapa dia tidak mengejarku?

__ADS_1


Lima langkah berlalu. Ana mulai panik karena Naki tak kunjung mengejarnya. Dia pun mulai berjalan pelan dengan harapan Naki segera menyusul. Sayang lelaki itu diam di tempat.


Apa-Apaan ini? Aku sudah berkorban banyak kenapa dia tidak peka, si?


__ADS_2