Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Menangkap Ikan


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap. Ikan yang cukup banyak juga sudah selesai dipanggang. Meskipun sempat terjadi perdebatan karena tangan Ana dibolongi macan, tapi pada akhirnya mereka berbaikan setelah Naki minta maaf berkali-kali.


Perut Ana juga butuh makan, jadi ia terpaksa memaafkan. Karena bagaimanapun juga hidup Ana saat ini memang sangat bergantung pada kebaikan dan belas kasih Naki.


"Ana, ayo makan. Ikannya sudah matang." Lelaki bertubuh jangkung itu berseru. Ia tersenyum saat melihat Ana berlari kecil ke arahnya.


"Eh, itu apaan yang ada di tangan kamu Naki?"


Ana menunjuk sebuah kain yang dipegang Naki. Ia seperti mengenali benda itu.


"Oh, ini kain yang aku temukan di pinggir pantai. Tadi aku pakai buat menangkap ikan. Lumayan, dapat banyak," ujarnya. Ana mengulurkan tangan.


"Coba deh sini liat. Kayaknya aku kenal, deh."


"Nih." Dengan santainya Naki memberikan kain itu pada Ana.


"Ya Alexxxx! Ini 'kan beha aku! Bisa-bisanya kamu nangkep ikan pake beha! Punya aku lagi!"


Raut wajah Ana merah padam seketika. Ingin rasanya ia menggigit Naki hidup-hidup, tapi sudah pasti anak itu akan bertanya salah dia apa.


"Aku menemukan benda itu di pinggir pantai. Memangnya itu barang penting?"


"Ya pentinglah! Itu buat ngelindungi gunung merapiku dari marabahaya," sungut Ana. Matanya sudah melotot tajam dan itu sangat menyeramkan di mata Naki.


"Maaf, aku mana tahu." Naki yang tak paham apa maksud Ana hanya mampu menggaruk kepalanya bingung.

__ADS_1


Dengan kesal, Ana kemudian membuang benda itu ke tengah laut.


"Loh, kok dibuang? Tadi kamu bilang benda itu penting?"


"Iya penting, tapi kalo udah dipake buat nangkep ikan masa mau aku pake." Lagi-lagi Naki kena semprot oleh Ana.


Naki benar-benar penasaran bagaimana caranya membuat Ana tidak cerewet lagi.


_


_


_


Setelah bertengkar sejenak, acara kembali lanjut pada sesi makan ikan. Tentunya mereka sudah kembali berbaikan. Ana makan ikan dengan lahapnya seperti biasa. Sementara Naki lebih suka jadi penonton sambil sesekali memasukan potongan ikan ke mulut.


Perasaan apa ini?


Kadang Naki sendiri merasa aneh. Lebih tepatnya dia masih belum terbiasa berhadapan dengan lawan jenis.


"Kamu memang makannya selalu banyak seperti itu?" Nasi mulai bertanya setelah beberapa saat mereka saling diam dan menikmati ikan di tangan masing-masing.


"Ya, kebetulan aku memang suka ikan bakar. "


"Di sini banyak ikan, kalau kamu tinggal di sini kamu bisa menikmati ikan bakar seperti ini setiap hari," ujar Naki.

__ADS_1


Ana kontan menghentikan acara makannya. Dia menatap Naki dengan sorot mata yang sulit di artikan.


"Aku tahu pulau ini kaya akan sumber pangan, tapi aku punya tempat tinggal, Naki."


"Aku juga dulu punya tempat tinggal. Tapi seiring berjalannya waktu aku lebih suka di sini. Di sini memang banyak hewan buas, tapi menurutku manusia jauh lebih kejam daripada hewan ini."


"Tidak semua manusia kejam Naki! Buktinya aku ti--" Ana spontan menghentikan ucapannya. Dari sejak pertama kali bertemu dengan Naki ia selalu marah-marah. Pasti Naki berpikir bahwa Ana termasuk golongan manusia kejam itu.


"Aku bukan manusia kejam. Adapun aku marah-marah, itu karena aku terlalu frutrasi berat dengan keadaanku sekarang. Aku yakin dulu kamu saat pertama kali ke sini juga merasakan hal yang sama denganku," ujar Ana, lalu memasukan sepotong kepala ikan kriuk ke dalam mulutnya.


Naki mengangguk pertanda membenarkan ucapan gadis itu. "Iya. Tapi bagaimana kalau kamu tidak bisa keluar dari tempat ini, apa yang akan kamu lakukan?"


"Naki, tolong jangan berkata begitu!" Diletakkannya ikan yang ada di tangan ke atas daun. Mood makan Ana mendadak hilang gara-gara ucapan Naki.


"Aku masih berharap bisa pulang Naki. Jadi tolong jangan menakut-nakutiku."


"Baiklah. Maafkan aku," balas lelaki itu.


Satu hal yang Ana sukai dari Naki. Meskipun pria itu tidak mendapatkan pendidikan sosial yang layak, Naki tak pernah lupa minta maaf di kala ia merasa salah.


"Oh ya, Naki. Ngomong-ngomong di mana kamu menemukan kain yang tadi aku buang? Apa masih ada yang lain?"


"Ada. Ada kotak besar yang isinya kain semua. Apa itu milikmu juga?"


"Kamu serius? Jangan-jangan itu koperku!" Mata Ana berbinar penuh harap. "Cepat bawa aku ke tempat itu Naki. Aku yakin itu koperku.

__ADS_1


"Ah, akhirnya aku bisa ganti baju!" Ana berteriak girang meski ia belum tahu itu kopernya atau bukan. Namun, melihat dari barang yang Naki temukan, Ana yakin kotak besar yang dimaksud Naki adalah kopernya.


__ADS_2