
Setelah mengurus masalah Ana, Nasya segera pergi ke Dinsos untuk menjenguk Naki. Kekayaan luar biasa yang Naki miliki membuat Nasya jadi sedikit punya rasa khawatir terhadap lelaki itu. Padahal tadinya ia tidak peduli sama sekali.
Ia sengaja menyelamatkan Ana dan Naki murni demi meningkatkan viuw dan subscribe pada chanel vlognya. Tapi ternyata ia mendapatkan kesempatan lain yang lebih menggiurkan.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi?"
Perempuan itu amat sangat terkejut saat melihat Naki sudah dipasung seperti orang gila. Buru-buru Nasya berlari menghampiri. Ia berjongkok sambil merangkum wajah Naki dengan kedua tangan.
"Apa yang kalian lakukan padanya? Kalian pikir Naki orang gila sampai diperlakukan seperti ini?" teriak Nasya. Wajah Naki terlihat kuyu. Tubuhnya penuh luka karena Naki sepertinya berusaha melepaskan diri dari alat pasung itu.
"Maaf, tadi Naki mengamuk dan minta dibebaskan. Jadi kami terpaksa melakukan itu padanya," ucap salah seorang petugas.
"Mana kuncinya?" tanya Nasya. Petugas itu terpaksa memberikan kunci itu terhadap Nasya.
"Tolong tinggalkan kami berdua. Biarkan aku saja yang mengurus Naki," ujar perempuan itu.
"Baik Nona. Kalau ada apa-apa boleh tekan bell itu. Kami akan segera datang." Petugas itu menunjuk salah satu bell lantas keluar setelahnya.
Nasya langsung bergerak cepat membuka pasung dan borgol yang membelenggu tangan Naki. Perempuan itu juga memberi Naki air yang tadi sudah ia sediakan untuknya.
"Naki maafkan, aku. Aku terlambat datang," ujarnya.
"Mana Ana? Aku ingin bertemu dengannya."
Mendengar nama Ana disebut, Nasya langsung memasang wajah sedih ala film India.
"Naki, maafkan Aku. Masalah itu ...." Nasya sengaja menjeda ucapannya sejenak.
Naki tak mendengarkan ucapan Nasya. Dia terus mengoceh sambil menatap marah pada perempuan itu.
__ADS_1
"Mana Ana! Kenapa kalian semua membohongiku? Bukankah kalian semua sudah berjanji akan membawaku pada Ana kalau sudah sampai di sini?"
"Naki, maafkan aku. Tadi aku sudah mendatangi rumah Ana. Tapi Ana bilang tidak ingin menemuimu," ujar Nasya dengan suara mendayu-dayu supaya terkesan sendu.
"Bohong!" Naki berteriak murka. "Aku tidak percaya. Jelas-jelas Ana berjanji akan hidup bersamaku jika aku kembali ke dunia manusia."
"Naki .... Yang bohong itu Ana. Saat dia berjanji seperti itu dia tidak serius mengatakannya."
Sontak Naki menatap Nasya makin marah.
"Kalian pikir aku percaya? Manusia itu licik. Hanya Ana yang paling baik," ucap Naki dengan keyakinan penuh.
"Sayang tidak begitu, Naki! Coba kau dengarkan ini dulu."
Nasya mulai membuka potongan rekaman yang sudah diedit tadi. Di dalam rekaman itu jelas sekali Ana mengatakan tidak serius pacaran dengan Naki. Ana hanya pura-pura pacaran supaya Naki nurut dan dia bisa hidup aman dihutan.
Mendengar semua itu Naki tercengang. Perlahan air matanya menetes.
Naki berkali-kali menggelengkan kepala. Ia tidak menyangka kata-kata jahat itu bisa keluar dari bibir Ana yang menggemaskan.
"Sayangnya manusia memang licik seperti yang kamu katakan tadi Naki. Begitu pun juga Ana. Demi memanfaatkan kamu untuk bertahan hidup di hutan dia rela pura-pura baik dan melakukan berbagai cara," ujarnya.
Nasya mengelus-elus tangan Naki supaya lelaki itu sedikit tenang.
"Karena sekarang dia sudah tidak ada di hutan, jadi dia tidak membutuhkanmu lagi. Itu sebabnya dia tidak mau datang ke sini. Dia sibuk dengan dunianya."
"Kalau begitu kembalikan aku ke hutan. Aku tidak mau di sini!" pungkas Naki tiba-tiba. Entah kenapa dadanya terasa sakit sekali.
"Loh, kenapa begitu? Kan masih ada aku?" Nasya meraih dua tangan Naki. Dia tersenyum manis sekali.
__ADS_1
"Aku tahu kamu sudah menyukaiku sejak awal? Dan aku pun juga merasakan hal yang sama walau awalnya agak takut."
"Be ... Benarkah?" Naki nyaris tak percaya mendengar itu.
"Benar Naki. Setelah mengenalmu lebih dalam aku baru tahu kalau kamu adalah pria yang sangat baik. Bagaimana kalau mulai sekarang kita pacaran? Aku akan membuat kamu lupa dengan rasa sakit yang dilakukan Ana selama ini."
Glekk ...
Naki menelan ludahnya dengan susah payah. Ia tatap wajah Nasya yang cantiknya lima kali lipat dari Ana. Naki agak tidak menyangka perempuan secantik Nasya bisa suka kepadanya.
"Apakah kalau kita pacaran aku boleh memelukmu dan menciummu?"
"Uhuk!"
Nasya tersedak ludah sendiri. Apa yang Ana ajarkan sampai pikiran Naki jadi ngeres begini, pikirnya.
Tapi yang namanya uang tetap berkuasa. Meskipun Naki agak menyebalkan Nasya tetap maju selangkah demi selangkah.
"Tentu saja boleh, Naki."
Nasya memajukan bibirnya. Ia kecup permukaan kulit bibir Naki dengan gerakan cepat.
"Kamu mau seperti ini 'kan? Jika kita pacaran kamu bisa mendapatkan semuanya setiap saat."
"Aku mau ... Aku mau kita pacaran," jawab Naki dengan polos tanpa pikir-pikir lagi.
"Yups .... Kalau begitu mulai saat ini kita pacaran. Tapi dengan satu syarat! Mulai sekarang kamu harus lupain Ana karena perempuan itu sangat jahat. Dia suka berbohong, dan mungkin nanti dia akan datang dan membohongimu lagi."
"Kali ini aku tidak akan tertipu dengan kebohongan Ana! Aku hanya percaya pada Adinasya Manila," jawab Naki mantap.
__ADS_1
"Bagus!"
Nasya tersenyum jahat. Dalam hati dia bersorak hore. Ternyata memprovokasi Naki sangatlah mudah.