Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Syok


__ADS_3

Syok!


Gadis itu masih saja diam hingga pertanyaan sialan Naki yang berikutnya berkumandang.


"Kira-kira apa saja hal yang dilakukan oleh manusia yang berpacaran, Ana?"


Ana tambah gelagepan. Suaranya mendadak hilang ditelan Bumi.


"Ana."


"I ... Iya," balas gadis itu terbata-bata.


Terus terang saja ia bingung bagaimana cara menjelaskannya. Setiap gaya pacaran orang tentunya berbeda-beda. Ana ingin menjelaskan gaya pacaran ala dirinya, tapi sepertinya itu tidak mungkin karena setiap kali Ana pacaran nasibnya selalu apes.


Dia pernah ditinggal nikah.


Diselingkuhi dengan sesama jenis.


Dimanfaatkan uangnya.


Dan terakhir mengira pacarnya selingkuh ternyata dia yang dijadikan selingkuhan.


Apakah Ana perlu menjelaskan semua itu pada Naki?


Gadis itu menggaruk kepala belakangnya ragu. "Pengalaman pacaranku selalu buruk. Sama seperti kamu aku juga kurang berpengalaman. Jadi sebaiknya kita biarkan semua ini berjalan normal."


"Ah, begitu!" Naki kemudiam membelah daging kelinci yang sejak tadi melambai-lambai minta dimakan. Ia memberikan setengah untuk Ana, dan setengahnya lagi untuk dirinya.

__ADS_1


"Selamat makan Ana."


"Selamat makan juga, Naki!" Ana tersenyum. Dia langsung menyerbu daging itu dengan lahapnya. Beberapa saat mereka terdiam dan saling menikmati makanan masing-masing.


Posisi perapian di tengah membuat suasana semakin hangat. Ada kalanya mereka berhenti sejenak, lalu bersisatap dan saling melempar senyum satu sama lain.


"Ana. Nanti selesai makan ajari aku belajar ciuman seperti yang kamu maksud tadi, ya."


"Uhukk!" Ana tersedak partikel tulang. "Uhuk ... Uhuk." Tulang itu masuk ke dalam dan membuat dadanya sakit.


Buru-buru ia menyambar gelas bambu dan meminum air sebanyak mungkin.


"Ana, apa kamu baik-baik saja?" Si sumber masalah bertanya dengan tidak tahu dirinya.


"Kamu yang membuat aku tidak baik-baik saja Naki!"


"Kok, aku?" Dia menunjuk diri sendiri. Apa lagi-lagi dia salah bicara? Naki sungguh tidak mengerti.


"Lalu kenapa tadi kamu cium aku?"


"Emmm!" Kembali terkena sambaran bumerang, kini Ana dibuat mati kutu oleh pertanyaan itu.


"Emm ... Maksud aku yang sudah berlalu tidak usah dibahas lagi." Ana kembali menggigit daging kelinci untuk menutupi kecanggungan. Ia mengunyahnya dengan kasar bagian daging yang agak alot itu.


"Sekarang kita bisa mulai dari hal-hal yang kecil. Contohnya, saling memuji satu sama lain."


"Ah, begitu! Sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan ini."

__ADS_1


"Katakanlah ...." Ana bersiap-siap menerima pujian itu.


"Sebenarnya diam-diam aku sering sekali memperhatikan tingkahmu. Saat bicara, saat makan, bahkan saat tertawa, aku memperhatikan semua itu. Dan kupikir ... Semua tingkahmu terlihat lucu dan menggemaskan."


"Ya, aku memang memiliki sejuta pesona," ucap Ana terlalu percaya diri.


"Kau lucu ... Gerak-gerikmu yang enerjik mirip sekali dengan belalang sembah," ujar Naki.


"A ... Apa? Jadi kamu samain aku sama belalang!"


"Memang kenapa? Kamu memang lucu dan menggemaskan seperti belalang, kok!"


"OMG!" Ana menepuk jidatnya. Pujian sialan macam apa ini?


Baru pertama kali ini ada orang yang menyamakan Ana dengan belalang. Dan orang itu ... Orang itu adalah pacar Ana sendiri.


Apakah keputusan mereka untuk berpacaran terlalu cepat? Rasanya Ana ingin menarik semua kata-katanya lagi.


Dia menyesal.


"Apa kamu marah?" Naki memandang khawatir. Tampak air muka tidak enak tergambar di wajahnya.


"Tidak Naki! Aku terlalu bahagia dan meleleh. Ini adalah kali pertamanya ada orang yang memujiku mirip belalang."


"Hehehe." Euforia dia wajah Naki berkembang sempurna.


"Besok aku akan membawa belalang agar kamu bisa melihat sendiri betapa miripnya kalian berdua."

__ADS_1


-


-


__ADS_2