Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Hari Membosankan


__ADS_3

Satu hari berlalu.


Ana masih saja mengurung diri di kamar dari sejak ia datang kemarin. Semangat hidupnya mendadak hilang. Ia tatap pelan-pelan kamar tersebut. Kamar itu adalah kamar yang selama ini ia rindukan dan selalu membuatnya nyaman.


Entahlah ...


Gadis itu mendesahkan napasnya, malas. Untuk pertama kalinya Ana merasa tidur di kamarnya adalah hal yang membosankan.


Di kamar itu tidak ada Naki. Sekalipun Ana bergulang guling di kasur yang empuk, tak ada tangan besar yang biasa menangkapnya di kala malam. Tak ada Naki yang suka tiba-tiba menciumnya dari belakang.


"Gara-gara Naki, sekarang aku jadi merasa kayak tante girang yang rindu akan belaian. Emang sialan anak itu. Puas kamu bikin anak orang baper, Naki?"


Sebuah guling boba melayang ke tembok.


"Arghhhhh!" Gadis itu menjerit sekencang-kencangnya. Rasanya Ana ingin mengamuk kalau ingat perpisahannya dengan Naki kemarin.


Ana kemudian berjalan ke meja kerjanya. Moodnya bertambah buruk saat melihat surat pemecatan sepihak dari rumah sakit tempatnya bekerja tergeletak di atas meja.


Tanpa membaca Ana langsung membuang benda itu ke tempat sampah yang ada di pojokan.


Sekarang Ana bukan hanya galau karena karena tak ada Naki di sampingnya. Ia juga galau karena statusnyas berubah menjadi Janda bolong pengangguran. Apalagi kalau mengingat uang tabungan hasil bekerja sebagai perawat sudah ludes dipakai untuk liburan gagal itu. Rasanya Ana sungguh tak punya semangat untuk hidup lagi.


"Kenapa setelah kembali ke rumah semuanya tampak berbeda. Kenapa aku nggak seseneng kaya dulu?"

__ADS_1


Ia jambak rambutnya dengan kedua tangan.


"Anaaaaaa!" Suara teriakan ibunya yang tak kalah keras menggema di depan pintu.


"Keluar kamu, mau sampai kapan kamu ngurung diri dan ga mau mandi?"


"Iya, Bu! Bentar ...."


Akhirnya ana keluar. Sang ibu memicingkan matanya sinis saat melihat penampilan Ana makin hari makin buluk saja.


"Mandi Ana! Mandi! Kalau penampilanmu begitu terus mana ada laki yang mau lirik kamu. Inget umur kamu sudah 25 tahun. Ya Tuhan, Yah ini anakmu diurusin," teriak Ibu. Ayah yang sedang sibuk dengan burungnya di belakang rumah jelas tak mau menjawab.


"Ada kok yang mau! Emangnya Ibu sudah kebelet banget pengin punya mantu?" ucap Ana sambil menaikkan sebelah alisnya. Alih-alih mandi dia malah berjalan menuju meja makan. Ia ambil sepiring ayam goreng lalu ia bawa ke depan televisi.


"Pokoknya aku gak mau mandi sebelum dikasih uang sepuluh juta. Aku bete Bu. Aku pengin beli hape baru."


Bertepatan dengan itu si Ayah masuk. Dia baru selesai memandikan burung-burung.


"Anakmu tidak tahu diri lagi ini, Yah. Abis ngilang, pulang-pulang minta uang sepuluh juta. Mau ditaruh di mana otaknya coba?"


Si Ibu mendengkus kesal.


"Ya mau gimana lagi, Bu. Hapeku hanyut di laut. Uang tabunganku juga sudah abis semua."

__ADS_1


"Kalau begitu minta saja sama Naki. Pacarmu yang dari hutan itu."


"Ibu apaan, si?".


Ana berguling di sofa. Ia letakan piring ayam goreng ke meja, kemudian ia comot dua untuk dimakan sambil tiduran.


"Belikan saja, Bu. Nanti lama-lama tingkahnya makin banyak kalau kemauannya tidak dituruti."


"Betul itu," sahut Ana masih di posisi yang sama.


"Lagian anak jaman sekarang masa gak punya hape. Aku kan juga butuh hape itu buat ngelamar kerja, Bu."


"Ya Sudah nanti Ibu belikan hape xiaomi!"


"Ya ellah, Bu. Iphone aku maunya."


"Mahal Anaaaa. Terima apa adanya dulu."


"Dih, pelit!" Gadis itu mencibir. Padahal penghasilan ayahnya satu bulan lebih dari cukup untuk gonta-ganti iphone setiap bulan.


Meskipun keluarga Ana bukan orang kaya, tapi sang ayah memiliki bengkel mobil yang cukup ramai pengunjung. Jelas penghasilan dari bengkel cukup untuk menuruti gaya hidup Ana yang sangat banyak.


Namun, ibu adalah penghalang. Dia selalu menyuruh Ana berusaha sendiri agar anak itu tidak terlalu manja ke depannya.

__ADS_1


Maklumlah, Ana ini anak tunggal. Jadi kalau tidak dididik sejak kecil dia tak akan bisa berjalan sendiri suatu hari nanti.


__ADS_2