
Siang berganti malam, Adam dan Tania sudah pamit pulang dari jam 5 sore. Sekarang hanya ada Ana dan Naki berdua saja di rumah sakit. Hampir setiap hari Naki memang selalu menghabiskan waktunya di sana. Bahkan Naki sudah lama sekali tidak pulang. Tapi seseorang yang dia tunggu sama sekali tidak mau bangun dari kedamainnya.
Rasanya Naki ingin mengamuk. Atau memarahi Ana sepuasnya karena dia memilih tidur di saat Naki dan dirinya nyaris bersatu lagi.
Sekarang Naki sudah pasrah dan nyaris menyerah. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah bedoa dan menemani Ana sepanjang waktu. Ia rela mengorbankan segalanya untuk Ana. Termasuk mengabaikan Vanilla beberapa waktu.
Kerap kali Vanilla menanyakan di mana keberadaan ayahnya itu. Kalau Vanilla mulai merajuk, mau tak mau seseorang akan mengantar gadis kecil itu ke rumah sakit sekalian mempertemukan Vanilla dengan Ana.
Hari mulai malam, perut Naki sudah terasa lapar karena tadi belum sempat makan malam. Entah kenapa hari ini Naki merasa berat saat hendak beranjak. Tubuhnya seoalah menolak ketika harus berpisah dengan Ana barang sedetik pun. Tapi mau tak mau dia harus mengisi perut supaya bisa terus menjaga Ana.
Naki pun akhirnya berdiri.
"An, aku izin keluar untuk makan dulu ya. kamu jangan nakal." Naki menyempatkan diri mengecup puncak kepala Ana sebelum berlalu. Dia memperlakukan Ana seolah perempuan itu dalam keadaan sadar.
Pintu tertutup. Dalam sepersekian detik ruangan itu kembali hening. Hanya ada suara mesin dari alat-alat yang menempel pada tubuh Ana.
__ADS_1
Setengah jam berlalu dari sepeninggalan Naki, tangan Ana di bawah sana sedikit bergerak-gerak.
Seolah mendapat sebuah keajaiban, tiba-tiba saja Ana membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berdenyut. Sekujur tubuhnya terasa kaku, dan untuk benar-benar membuka mata ia membutuhkan waktu yang lama sekali.
"Eughh ...." Gadis itu merintih. "Di mana aku?"
Ana melihat sekeliling. Tempat yang tidak terlalu asing itu membuat Ana berpikir kalau ia baru saja ketiduran di salah satu ruang tempat kerjanya dulu.
"Eh, bukannya aku udah lama gak kerja di rumah sakit lagi?" Ana menunduk sedikit. Beberapa alat yang menancap pada tubuhnya menyadarkan gadis itu, bahwa dirinya sekarang adalah seorang pasien. Dia bukan sedang bekerja di rumah sakit seperti perawat.
Alarm pendeteksi pergerakan tubuh berbunyi. Terlihat beberapa perawat masuk diikuti oleh salah seorang dokter dari belakang.
Orang-orang yang tidak dikenal itu langsung sigap memeriksa Ana. Dokter menanyakan beberapa hal termasuk nama Ana untuk memastikan gadis itu tidak amnesia. Dokter juga menjelaskan kalau Ana sudah lama koma.
"Apa, tiga bulan?" Ana membeliak tak percaya. Dia pun berusaha mengingat-ingat banyak hal.
__ADS_1
perlahan dia mulai mengingat kejadian yang membuat dirinya koma, dia mengingat ayah dan ibunya, pekerjaan terakhir, dan ...
Ya Tuhan!
Ana baru ingat kalau dirinya sudah menikah. Lalu kemana suaminya yang tinggi jangkung itu? Apakah setelah semua pengorbanan yang Ana lakukan Naki malah kembali pada Nasya?
Dalam diam Ana menggeram. Tak lama kemudian sosok Naki datang, dia langsung mendekat pada Ana sambil memegang dua tangan perempuan itu.
"Kamu sudah bangun?" sapanya dengan begitu lembut.
Bangun kepalamu! Aku 3 bulan di rumah sakit, satu pun gak ada yang nungguin aku. Novel mana yang kalo tokoh utamanya bangun dari koma tapi gak ada satu orang pun yang menunggu, batin Ana.
Lagi-lagi Ana menggeram dalam diam. Kepalanya masih terasa pusing, dan ia harus dipusingkan lagi oleh rasa kesal akibat bangun dari koma tanpa ditemani siapa-siapa.
"Kamu siapa? Aku tidak kenal kamu," ucap Ana sambil menyingkirkan tangan besar Naki.
__ADS_1
Naki spontan terkejut. "Apa yang terjadi Dokter? Kenapa istri saya bisa begini?"