Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Masih Muda


__ADS_3

"Oh ya, ngomong-ngomong di mana Kakekmu? Kok aku tidak melihat?" .


Ana kembali celingak-celinguk saat mereka sampai di ruang tamu. Kalau Naki dan Nasya sudah pulang, harusnya Kakek mereka juga ikut pulang bukan?


Bagaimanapun juga Ana sedikit penasaran dengan sosok kakek tua itu. Dia agak takut juga Kakek Naki tidak menyukainya setelah mereka bertemu.


"Kakekku belum pulang. Dia sedang ada acara main golf di bukit bersama teman-temannya."


Refleks Ana menoleh. "Wah, sepertinya dia masih sehat sekali sampai bisa main golf. Padahal dibayanganku Kakek kalian sedikit rapuh," ucap Ana.


"Ya, dia lumayan sehat. Hanya saja susah jika bersangkutan dengan obat. Itu sebabnya aku butuh kamu tinggal di sini," ujar Adam. Dia kemudian mendekat ke telinga Ana. "Selain itu, aku juga ingin kamu mengawasi Nasya, aku takut perempuan itu berbuat macam-macam pada Kakek," lanjutnya kemudian.


Ana hanya diam tanpa jawaban, dia paham apa yang dimaksud Adam. Dia kemudian segera mengambil koper dan tasnya ketika tiba di ruang pertama tadi.


"Oh ya, ngomong-ngomong di mana kamarku?"


Mendengar itu Adam tersenyum. Ia pun segera mempersilakan Ana berjalan mengikutinya. Awalnya Ana biasa saja, tapi saat ia menyadari ada sesuatu yang mengganjal di pikiran, gadis itu langsung menoleh heran.


"Kenapa Om taruh kamar aku di samping kamar Naki dan istrinya? Bagaimana jika aku dikira sedang menguntit mereka lagi?" kesal Ana seraya mencebik. Bibirnya sudah manyun dua centi. Hal itu membuat Adam tersenyum sambil menarik tangannya lembut.


"Masuk ke kamar dulu, nanti aku jelasin," ucap Adam. Ana terpaksa diam sambil terus melangkah mengikuti Adam.


Kamar luas dengan nuansa indah tersaji di depan mata. Ana tak mengedip begitu melihat kamar impian hampir semua gadis-gadis termasuk dirinya itu akan segera menjadi miliknta. Nuansa kamar bergaya klasik itu sangat pas dengan selera Ana.


"Kamarnya bagus banget," decak Ana begitu kagum. Ia lupa dengan pertanyaannya sesaat sebelum memasuki kamar dan sibuk mengamati sekeliling.


"Dia langsung mendudukkan dirinya di kasur. " Empuk banget kasurnya. Kalau begini caranya aku betah disuruh tidur terus tanpa keluar kamar. Hahaha."


Dia mulai asik sendiri. Tak ia hiraukan Adam yang mendengkus sambil melipat tangannya di depan dada.


"Nanti lagi ngomongin kamarnya. Sekarang ada hal penting yang mau aku omongin. Ini menyangkut rencana kita."


"Ok, rencana apa?" Ana kembali menfokuskan pandangannya pada Adam. Dia meringis geli dengan tingkahnya sendiri. Benar-bener tidak tahu malu, pikirnya. Untung Adam cukup pengertian orangnya.


"Nanti malam aku bakalan pura-pura ngenalin kamu sama Kakek. Terus, setiap pagi aku akan mendatangi kamarmu. Jadi usahakan jam 6 pagi kamar tidak dikunci," ucap lelaki itu bicara lagi.


"Memangnya mau apa datang ke kamarku?" tanya Ana heran.

__ADS_1


Adam pun tersenyum jahat. "Aku sengaja ingin merusak pikiran Naki. Kalau dia tahu aku sering keluar masuk ke kamar ini, pasti rasa kepo lelaki itu semakin jadi. Dan hal ini bisa membuat kita selangkah lebih mudah menyingkirkan Nasya."


"Wah, maksudnya bikin dia cemburu? Om Adam hebat sekali."


Adam tersenyum. "Kalau begitu silakan istirahat. Nanti akan ada orang yang membawakanmu makanan. Kamu bisa makan di sini," ucap Adam.


Setelah mengatakan itu, dia meninggalkan Ana seorang diri di kamar. Ana langsung merebahkan tubuhnya. Tanpa sadar matanya mulai terpejam dan tidak bisa ditahan lagi.


*


*


*


Sementara di kamar sebelahnya lagi, Naki baru saja masuk ke kamar. Nasya yang melihat itu langsung bangkit dari duduknya.


"Bagaimana dengan Ana? Apa dia sudah dibawa ke kantor polisi?" tanya Nasya secepat kilat. Dia benar-benar kesal sekaligus kaget karena gadis itu mendatangi rumah ini secara tiba-tiba.


"Ana tidak jadi dibawa ke kantor polisi," ucap Naki dengan suara datar.


"Memangnya kenapa tidak bawa ke kantor polisi? Apa kamu kasian lalu memutuskan untuk melepaskannya? Kamu seharusnya tidak boleh bersikap sebaik itu, Naki. Bagaimana pun juga tindakan Ana sudah mengancam ketenangan keluarga kita. Bagaimana kalau nanti dia makin berani. Memangnya kamu tidak merasa terusik," ujarnya panjang lebar.


Naki menarik napas panjang. Dia memilih berjalan memutar lalu duduk di tepi ranjang yang dekat dengan posisi anaknya kini.


"Ini cuma salam. Tadi dia hanya tersesat. Dan Ana ke sini bersama Adam."


"Loh, ko bisa sama Adam?"


" Dia adalah pacar rahasia Adam yang selama ini sering diceritakan."


"Apa kamu bilang? Pacar?" Nasya nyaris tak percaya mendengar itu. Ia malah merasa telinganya salah mendengar.


"Tadi Adam bilang begitu. Parahnya lagi, Ana akan tinggal di sini sebagai perawat Kakek."


"Yang benar saja!"


Nasya makin terkejut bukan main.

__ADS_1


"Dia itu jahat Naki. Bagaimana bisa Kakak dan Kakekmu menaruh orang seperti Ana di rumah ini. Kalau ada hal-hal buruk yang terjadi gimana? Pokoknya aku tidak setuju Naki. Kamu harus bilang pada Kakekmu, segera usir Ana dari rumah ini," teriaknya dengan napas naik turun tidak karuan. Emosinya langsung meluap cepat begitu tahu Ana akan tinggal di rumah ini.


"Aku tidak bisa sembarangan bicara begitu Nasya. Bagaiamanapun juga Ana adalah pacar Kakakku. Jadi aku tidak mungkin bisa mengusirnya. Adam pun pasti akan melindungi anak itu," ujar Naki. Dua bahunya mengedik tanda tidak mampu melakukan apa-apa.


Emosi Nasya semakin tersulut. Dua tangannya mengepal kuat. Dia tidak kuasa melihat wajah Naki yang begitu pasrah dalam menerima.


"Ayolah Naki ... Kau adalah pewaris tunggal. Kau punya hak untuk menentukan sesuatu," pinta Nasya.


Naki diam. Itu membuat Nasya semakin tidak karuan. Dia pun mendekat dengan tatapan penuh ancaman.


"Kalau kamu tetap tidak bertindak. Maka jangan salahkan aku kalau kita berdua akan pergi dari rumah ini."


"Kita?"


"Yups, kita. Aku dan Anak kamu akan pergi dari sini," jelas Nasya.


Sontak Naki berdiri tidak terima. "Jangan sembarangan, aku mana bisa hidup tanpa kalian berdua."


"Kalau begitu segera singkirkan cara untuk mengusir Ana dari rumah ini."


Nasya berbalik badan. Niatnya dia ingin keluar mencari air dingin, tapi saat pintu kamarnya dibuka, Nasya melihat seorang pelayan sedang berdiri di pintu samping sambil membawa makanan.


"Mau diapakan makanan itu?" tanya Nasya heran.


"Ah, ini. Saya disuruh mengantar makanan ini untuk Nona Diana."


"Apa? Jadi dia ada di kamar dalam?"


"Iya, Non."


Tak lama kemudian Ana keluar. Dia tersenyum pada si pelayan tanpa melihat ke arah Nasya sama sekali.


"Apakah makanannya boleh ditaruh ke meja makan? Sepertinya aku ingin makan di sana saja," ujarnya.


Mendengar kata itu, Nasya membulatkan matanya lebar-lebar. Ia tarik lengan Ana dengan begitu kasar.


"Heh manusia tidak tahu diri! Lancang sekali kamu bersikap sebagai tuan rumah di sini!"

__ADS_1


__ADS_2