Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Jawaban


__ADS_3

"Apakah kamu ingin mendengarkan penjelasanku?" Ana tersenyum. Ia kembali bersikap lembut pada Naki supaya lelaki itu bisa diajak kompromi.


"Jika penjelasanmu bisa memberi jawaban dari pertanyaanku, aku tidak masalah," ujar Naki jutek. Dia menunduk. Tampak si monster kematian sudah mulai tidur dari sejak Ana menjauh.


"Pasti! Pasti kamu akan mendengarkan penjelasan yang akan aku ajarkan!" kata Ana.


Gadis itu kemudian bergerak menuju koper untuk mengambil sisir. Sambil membenarkan rambut dia mulau menjelaskan pada anak itu.


"Selama berdekatan denganku, punyamu pasti akan terus bereaksi seperti itu. Dan dia akan terus begitu. Ibarat api, dia baru akan berhenti setelah aku padamkan?"


"Jadi kamu bisa memadamkan ini?" Naki menunjuk pedang kegelapan yang tiba-tiba berdiri lagi karena disebut. Benda itu seperti memiliki tingkat kepekaan yang tinggi. Ana bahkan sampai terkejut saat melirik lagi.


"Aku bisa! Tapi sebelum itu kita harus mengikat sebuah tali pernikahan. Sama seperti ayah dan ibumu dulu, mereka harus menikah dulu sebelum memadamkan api yang berkobar itu!"


Naki terdiam. Dia sepertinya sedang mencermati ucapan Ana yang agak sulit untuk dipahami.Tak berapa lama kemudian Naki menyeringai. Dia hendak menarik tangan Ana tapi gadis itu sigap menyembunyikannya ke belakang badan.


"Ana, tidak bisakah kamu padamkan dulu api itu tanpa harus kita menikah. Aku tidak tahan. Rasa benar-benar aneh dan tidak nyaman."


Ana menggeleng. Dia tersenyum saat melihat raut kecewa tergambar di wajah Naki.

__ADS_1


"Yang boleh memadamkan api dalam diri hanyalah pasangan sah Naki. Jika kamu mau benda itu padam, kamu harus kembali ke dunia manusia untuk menikahiku," ucap Ana.


Dia tidak begitu serius mengatakannya. Tapi Ana berharap Naki terpengaruh dan mau pergi ke dunia manusia suatu hari nanti.


"Apa sungguh tidak ada cara lain? Aku sangat tersiksa Ana. Di sisi lain aku ingin dekat denganmu, tapi di sisi lain juga aku tidak nyaman jika dia terus-terusan bangun begitu!"


Lagi-lagi Ana menjawab dengan gelengan kepala. Sebenarnya banyak alternatif yang bisa mereka lakukan selain harus bercinta. Tapi apa iya? Ana harus mengajari Naki main solo? Selain berdosa, Ana juga tidak mau melihat Naki terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak berguna bahkan merugikan.


Ana selalu berharap dia bisa menjaga diri dan menjaga Naki. Terutama dari pengaruh hal buruk yang membuat kepolosan Naki jadi menghilang.


Dia kemudian menggenggam tangan Naki. "Sama sepertimu, aku juga terkadang tidak nyaman saat berada di dekatmu. Tapi rasa itu jauh lebih baik ketimbang aku harus kehilangan kamu. Apakah kamu paham?"


"Pelan-pelan aku pasti akan mengajarimu banyak hal. Kamu tidak perlu takut aku membohongimu. Semua yang kulakukan ini demi kebaikanmu," ujar gadis itu.


"Anaaaaaaa ...."


"Anaaaaa ...."


"Anaaaaaa ...."

__ADS_1


Tiba-tiba Ana mendengar suara panggilan yang tidak asing bagi dirinya. Suara itu adalah suara perempuan.


Apakah aku sedang berhalusinasi, pikirnya.


"Ana, apa kau mendengar suara manusia lain dari kejauhan?"


Ternyata Naki juga mendengar suara itu. Jadi jelas kalau Ana sedang tidak berhalusinasi. Buru-buru Ana bergerak keluar dari gubug.


"Naki, ayo kita cari sumber suara itu!" Ana menggandeng tangan Naki erat sekali. Dia berlari dengan semangat sampai Naki kewalahan mengikutinya.


"Nasya, apa itu kamu? Apa itu suaramu?" Ana berusaha menjawab panggilan itu dengan teriakan. Ternyata di jauh sana ikut menyahut seolah mengenali suara Ana yang cempreng.


"Nasya ... Aku di sini!"


"Nasya ... Aku ada di sini!"


Dia berteriak sekencang-kencangnya. Suara sahutan dari kejauhan itu semakin dekat dan tak lama kemudian Ana melihat sebuah kapal menepi di tepi pantai.


"Naki ... Akhirnya ada orang yang datang menyelamatkan kita!"

__ADS_1


__ADS_2