
Perdebatan panas terjadi lagi di rumah Ana saat gadis itu pulang dengan menenteng satu buah ponsel mewah.
Ada sesosok mahluk penunggu rumah yang kini sangat marah saat melihat sang suami membelikan anaknya ponsel seharga 19 juta.
"Ya ampun, Yah! Ini apalagi? Kenapa beli hape yang seperti itu? Kan tadi Ibu sudah bilang beliin hape yang murahan aja!" Bu Mia berteriak murka.
Di belakang sang Ayah, ada bocah ingusan yang menyeringai kegirangan sambil memamerkan ponselnya yang baru. Dengan tidak tahu dirinya dia terus menjulurkan lidahnya pada sang ibu.
"Anakmu ngancem mau guling di tengah mall kalau tidak dibelikan yang itu. Ya sudah ayah beliin dari pada malu."
"Ya ampun anak ini!" Bu Mira mengetatkan rahangnya, kesal. " Tapi tidak harus dituruti juga dong, Yah. Masa kamu kalah lagi sama anak?"
Pak Arman yang sudah sangat kesal dan dongkol hanya melengos. Dia memilih berjalan ke arah dapur untuk mengambil air dingin.
Ana juga langsung berlari menuju kamar. Dia segera melakukan eksekusi pada ponsel barunya.
"Mau jadi apa anak itu kalau terus-terusan dimanja? Anak sama Ayah emang sama aja!"
__ADS_1
Teriakan Bu Mia sudah tak terdengar setelah pintu kamar ditutup. Hal pertama yang Ana lakukan setelah ponselnya jadi adalah mencari berita viral.
Dia mencari tahu tentang Naki. Dan benar saja, sosok dan potret wajah lelaki itu sudah ramai dilihat banyak orang. Tanpa Ana ketahui ternyata Nasya mengabadikan gambar Naki cukup banyak.
"Bagaimana ini? Ko Naki malah jadi viral banget?"
Ana melepaskan napas kesal. Dada perempuan itu mendadak panas saat melihat Naki mendapat banyak sekali komentar pujian.
Rata-rara mereka memuji Naki tampan dan memiliki tubuh yang sangat bagus.
Andaikan mereka tahu bagaimana penampilan Naki saat awal-awal ditemukan pasti mereka tak akan sudi memuji seperti itu. Tidak menjerit seperti Ana saja sudah untung, pikirnya.
*
*
*
__ADS_1
Satu Minggu berlalu.
Ana baru bisa keluar kamar karena selama satu Minggu ini dia dikurung oleh sang Ibu. Semenjak kejadian hanyut di laut itu, Bu Mia jadi makin tambah parno dan membatasi segala kegiatan Ana di luar rumah. Dia melarang Ana keluyuran tanpa didampingi orang tua. Sekalipun Ana beralasan ingin melamar kerja dia tetap tak diizinkan untuk keluar.
Selain itu Bu Mira malah mengajak Ana membuat usaha di rumah supaya tidak usah cari kerja. Ana jelas tidak terima. Dia yang notabene bergelar sarjana keperawatan tak mau bila ibunya menyuruh berjualan lotek di depan rumah.
Apa-apaan, pikir Ana.
Akhirnya hari nekat itu datang kembali. Dengan melompat lewat jendela kamar Ana berhasil kabur dari rumahnya. Perempuan itu pergi bukan karena tanpa alasan, Ana ingin memastikan sesuatu. Jadi di izinkan tak diizinkan Ana harus keluar rumah saat ini juga.
Di sebuah halte busway, Ana duduk termenung. Sejak satu jam lalu dia terus menatap foto Naki yang sedang tersenyum manis di samping Nasya.
Dari berita simpang siur yang Ana dapatkan, katanya Naki berhasil dievakuasi berkat bantuan Nasya. Sekarang lelaki itu sedang ada di dinas sosial untuk kemudian direhabilitasi.
Apakah benar Naki sudah kembali?
Dia perlu menemui Nasya untuk memastikan hal itu.
__ADS_1