
Surat perceraian sudah ada di tangan. Naki tersenyum cukup puas. Apalagi sekarang Nasya sudah dipenjara bersama selingkuhannya, jadi ia bisa hidup tenang bersama kedamaian.
Sayang masih ada hal yang mengganjal di hati. Sudah tiga bulan berlalu, Ana masih dalam keadaan koma.
"Naki, kau harus buru-buru ke rumah sakit! Sesuatu terjadi pada Ana." Suara Adam terdengar antusias dari balik telepon.
"Apa yang terjadi? Apa ini kabar buruk?" sergah Naki.
"Bukan-bukan. Ini bukan kabar buruk. Tapi kamu harus ke sini supaya bisa mendengarnya langsung," ujar Adam. Kalimat itu semaki membuat Naki dirundungi rasa penasaran.
"Apa dia sudah sadar? Aku sedang ada di parkiran rumah sakit," ucap Naki sambil berlari tergesa-gesa.
"Ah, di parkiran. Cepat ke sini," ucap Adam.
Naki langsung mengantungi ponselnya tanpa dimatikan. Sambil menenteng surat perceraian dia terus berlari menuju ruangan di mana Ana dirawat selama ini.
"Apa yang terjadi?" Lelaki itu membuka pintu lebar-lebar. Ia lekas berlari, dan ternyata Ana masih berbaring di tempat tidurnya, sama sekali tidak ada tanda-tanda kalau dia sudah siuman.
"Apa yang terjadi dengan Ana?" Naki menoleh kepada Adam dan Tania yang sejak pagi berkunjung di ruangan Ana.
__ADS_1
Oh ya, sekarang Adam dan Tania sudah tidak lagi menyembunyikan hubungannya. Mereka memutuskan untuk terbuka kepada Kakek Buranaphan dan yang lain. Sempat terjadi adu mulut dan berakhir saling diam di antara Adam dan Kakek, tapi semua itu sudah berlalu.
Berkat bujukan dari Naki sekarang Adam dan Tania tidak perlu lagi menyembunyikan hubungan mereka. Meskipun agak lama, tapi sekarang Kakek Buranaphan sudah menyetujui hubungan mereka.
"Dokter bilang ...." Tania menutup bibirnya rapat-rapat. Dia menoleh pada Adam supaya lelaki itu saja yang menjelaskan.
"Dokter bilang apa? Apa ada perkembangan soal Ana?"
Adam pun menggaruk kepalanya bingung. "Ini bukan perkembangan. Tapi ada kabar terbaru soal Ana."
"Apa itu?" tanya Naki sambil menatap wajah damai Ana. Dia menarik kursi besi lantas duduk tepat di samping perempuan itu.
"Apa? Hamil?" Naki benar-benar terkejut bukan main. Ana koma sekitar 3 bulan, tapi dia sudah hamil 4 bulanan.
"Iya, hamil. Katanya dokter sudah mengecek beberapa kali, dan hasilnya Ana hamil dalam keadaan koma."
"Ya Tuhan!" Naki menarik napas panjang. "Apakah hamil dalam keadaan koma tidak masalah? Apakah bayi kami bisa bertahan?" sergah Naki bingung.
Dokter bilang sangatlah mungkin untuk mempertahankan seorang bayi dalam perut ibunya yang koma selama aliran darah masih tetap ada. Bila tekanan darah dapat terus dipertahankan, dan jantung masih terus bekerja, placental perfusi akan tetap berjalan dengan baik. Sehingga janin tetap akan berkembang optimal hingga dokter menyatakan bahwa bayi siap dilahirkan."
__ADS_1
"Ah, syukurlah. Sekarang aku hanya berharap Ana cepat sadar!" lirihnya.
Dia bingung apakah harus merasa bahagia atau justru sebaliknya. Naki bahagia akan segera punya anak kandung, tapi dia sedih karena si ibu tidak kunjung bangun juga.
Selama menikahi Ana, dia hanya pernah sekali melakukan hubungan badan. itu pun dilakukan saat malam pertama di rumah orang tua Ana.
Naki tidak pernah menyangka kalau kejadian semalam itu berhasil menghadirkan setitik nyawa di perut Ana.
"Aku nggak tahu harus ngomong apa. Saat ini aku bener-bener pengin Ana bangun. Aku pengin ngomong secara langsung kalau janin yang aku tanam udah tumbuh dengan subur," ucapnya lagi.
Tania dan Adam saling pandang. Mereka merasa sangat kasihan, tapi mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa.
Naki sedikit memajukan wajahnya. Dia mengecup pipi Ana hingga pipi yang semula kering ikutan basah karena air mata Naki.
Jangan mengharapkan adegan tiba-tiba sadar, ini kehidupan nyata, bukan novel!
Nyatanya, sekeras apa pun Naki menangis. Ana masih setia terpejam dalam tidurnya.
***
__ADS_1