Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Mendadak Awww


__ADS_3

"Mana KTP kamu?" Naki menatap Ana dengan mata melotot.


"Eh, tunggu dulu, ini maksudnya, apa?" Ana mengerjap gugup. Apalagi dia mendapat tatapan dari orang sekitar.


"Maksudnya kita sudah ditunggu. Jadi mana kartu identitasmu?" Naki langsung merogoh tas Ana. Mengambil dompet milik gadis itu, lalu mencari kartu identitas yang terselip di dalam lipatannya.


"Pakai ini saja bisa?" tanya Naki lagi.


"Ini calon suaminya sudah menikah?" tanya Pak ustad sambil melihat kartu identitas Naki. Ana seperti tak menapaki bumi. Kesadarannya perlahan hilang entah kemana.


"Iya. Nikah dua kali bisa, bukan?" Dengan polosnya Naki bertanya. Sontak Ana menoleh, anak ini bercandanya kelewatan, pikir Ana.


"Bisa, tapi hanya nikah siri karena belum ada izin dari istri pertama. Jika tidak masalah mari kita lanjutnya," jawab  Pak Ustad.


Mendengar kata Nikah, Ana langsung menarik kepala Naki yang di luar jangkauannya.


"Apa yang kamu lakukan? Nikah itu bukan bercandaan," bisik Ana. Dia tidak mungkin bicara keras-keras karena saat ini ada Pak Ustad di depan mereka.


"Ngomong-ngomong walinya mana?"


"Eh, wali? Wali apaan?" Ana celingak-celinguk bingung.


"Ayah kamu, mana ayah kamu?" tanya Pak Ustad pada Ana.


"Anu, Pak Ustad! Ana ma ... Masih di jalan," jawab Ana bohong. Entah kenapa dia kesulitan meluruskan kesalahanpahaman ini.


"Ya sudah cepetan di telepon lagi. Kasihan peserta lain sudah menunggu," ucap Pak Ustad.


Ana semakin terpojokan. Dia menganggguk sambil mencari cela untuk kabur.


"Tunggu apa lagi, cepat telepon sekarang!" perintah Pak Ustad. Maklumlah, tubuhnya sudah sangat lelah karena hari ini dia sudah menikahkan banyak sekali pasangan manusia.


Ana langsung merogoh ponselnya. Tanpa memberi tahu maksud dan tujuannya, dia menyuruh sang Ayah untuk segera datang ke lokasi yang sudah di tentukan.


"Cepet ke sini, Yah! Aku dalam bahaya!" lirih Ana. "Cek alamat yang aku kirimkan. Terus langsung ke sini." Ana mematikan telepon tersebut. Dia berniat meminta bantuan Ayahnya untuk meluruskan kesalahanpahaman ini.


Ayah yang berpikir Ana dalam keadaan bahaya, langsung tancap gas begitu membaca alamat tersebut.


Setengah jam berlalu. Ayah datang ke alamat tersebut. Ana dan Naki sudah duduk berdampingan di mana penghulu sudah siap-siap menjabat tangannya.


"Ada apa ini?" tanya Ayah kebingungan.


Pak Ustad langsung menuntut Ayahnya Ana. Data di depan sudah di isi semua.


"Mana Mas kawiinnya?" kata si penghulu.


Naki kemudian mengambil dua lembar uang seratus ribuan. "Segini cukup?" tanya Naki. Di dompetnya tak ada lagi uang karena Naki jarang mengeluarkan uang. Ia bahkan sudah lupa kapan dia mengisi dompetnya dengan uang 200 ribu itu.


"Ini ada apa?" tanya Ayah pada Ana.


Dengan takut-takut Ana menyerahkan selembar data yang sudah ia isi. Itu adalah data dirinya dan juga Naki.


"Kalau sudah siap mari kita mulai," ucap si penghulu.


Karena Pak Arman masih bingung, ia menyerahkan semuanya pada Pak penghulu. Lelaki tua yang tugasnya menikahkan ana manusia itu menjabat tangan Naki dan bersiap mengucapkan kalimat paling sakral sedunia.


"Saya nikahkan engkau ananda Morgan Sebastian El Buranaphan bin Almarhum Dion El Buranaphan dengan Diana Arimbi binti Arman Husadi dengan mas kawin senilai 200 ribu rupiah dibayar tunai."


"Saya terima nikahnya Diana Arimbi binti Arman Husadi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


Pak Penghulu mendongakkan kepala.


"Bagaimana saksi, Sah?"


"Sah!" Semua saksi yang tidak dikenal itu berseru. Seluruh udara di sekeliling Ana serasa menghilang. Dia masih merasa pernikahan ini adalah mimpi.


Beberapa saat lalu dia masih ketawa-tawa sambil makan sate cumi, tapi sekarang statusnya sudah berubah menjadi istri orang.


Bagaimana bisa ini terjadi?


Ana masih merasa tidak menjajaki Bumi saat pak ustad menyerahkan selembar akta pernikahan sirinya dengan Naki. Statusnya sekarang adalah istri kedua.


Setelah dipersilakan undur diri, Ayah Ana langsung menarik gadis itu ke tempat yang agak sepi. Naki juga terus mengikuti Ana tanpa peduli.


"Apa yang kamu lakukan, kamu abis zina?" tanya Ayah kesal.


"Enggak gitu, Yah, ini salah paham. Aku cuma niat mau neduh karena gerimis, terus tiba-tiba dinikahin," jawab Ana berusaha menceritakan kronologi itu dengan logis.


"Enteng sekali kamu! Mana ada orang neduh dinikahin kalau kamu tidak mendaftafkan diri." Pak Arman menatap ke arah Naki yang sejak tadi diam saja seperti orang bingung.


"Aku juga nggak tahu, Yah."

__ADS_1


Ana menyikut perut Naki. Dia ingin lelaki itu menjelaskan, tapi rasanya percuma saja karena Naki mungkin tidak paham bahwa pernikahan itu bukan main-main.


"Pulang kamu, ajak suamimu sekalian, jelaskan semuanya pada ibumu, Ayah tidak mau diamuk sendirian sama ibumu! Dia bisa gila kalau tau anaknya nikah masal diam-diam," ucap Ayah dengan nada menggertak. Setelah itu dia pergi meninggalkan Ana bersama Naki.


"Ya ampun, kenapa jadi begini, si?"


Bola mata Ana berkaca-kaca. Dia menyandarkan tubuhnya di sebuah kursi yang sudah disediakan oleh penyelenggara.


Sejenak ia menatap Naki, lelaki itu tampak duduk tenang sambil main game ular-ularan.


Setelah napas Ana sedikit teratur, dan emosinya sudah agak mereda, ia mencoba mengambil ponsel Naki. Lelaki itu langsung menoleh saat benda kesenangannya diambil.


"Kenapa kamu lakuin itu? Nikah bukan bahan bercandaan Naki. Gara-gara kamu sekarang kita sudah sah menjadi suami istri," kesalnya.


Naki tersenyum. Dia benar-benar bahagia dalam hatinya.


Dia bukan manusia bodoh lagi. Tawaran nikah itu adalah kesempatan emas yang mungkin tidak bisa diulangi lagi. Kalau ditanya kenapa Naki melakukan itu? Tentu saja dia melakukan itu karena sengaja.


Naki sudah tahu kebusukan Nasya, Naki juga sudah tahu kalau hubungannya dengan Adam hanya pura-pura, jadi tunggu apalagi? Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin hanya datang satu kali itu.


"Naki, kenapa diam? Sekarang kamu mau gimana? Mau kamu apakan istri kedua kamu ini?" tanya Ana frustrasi.


Padahal tadi pagi ia sudah berkata pada Nasya bahwa dirinya akan mengalah demi kebahagiaan Naki. Siapa sangka, lelaki itu malah menikahinya di siang hari.


"Tau akh, aku capek kalau kamu diem terus. Aku gila ... ini lebih gila dari saat pertama kali aku ketemu kamu dihutan," ucap Ana.


Gadis yang statusnya sudah menjadi istri kedua itu berdiri. Dia hendak pergi, tapi seorang perempuan datang memperkenalkan diri.


"Selamat siang Ibu Ana dan Pak Morgan, mari saya antar Anda ke mobil. Mobil yang akan mengantarkan Anda ke hotel sudah siap," ucap si perempuan itu.


"HOTEL, hotel buat apaan?"


Si perempuan itu malah bingung dengan pertanyaan konyol Ana. Tidak mungkin kan, dia menjelaskan dengan detail kalo di hotel ada kamarnya, dan mereka bisa melakukan anuu anuu di kamar yang sudah disiapkan panitia itu.


"Ayo pergi." Naki menarik tangan Ana. Di saat seperti ini dia bersikap seperti pria gagah dan menuntun Ana menuju mobil yang disiapkan.


Sebenarnya Naki ingin sekali menjelaskan panjang lebar tentang apa yang ia ketahui, tapi melihat Ana kebingungan rasanya sangat menggemaskan. Naki ingin menunda semua itu supaya ia bisa melihat betapa menggemaskan ekspresi bingung Ana saat ini.


Dia ingin menjadi lelaki yang pura-pura bodoh, yang tak tahu kalau Ana sebenarnya masih mencintainya. Setelah semua drama itu selesai, baru dia akan menceraikan Nasya dan menjadikan Ana sebagai satu-satunya ratu di hati.


***


Tiba di kamar hotel, Ana semakin dibuat syok. Dia mengambil dua bebek-bebekan yang ada di atas ranjang. Dia juga mengacak-acak bunga yang ada di ranjang itu sampai berantakan tidak karuan.


"Kenapa kamu bilang? Tentu saja aku lagi gila!" jawab Ana nyolot.


Naki menarik napas panjang.


"Maaf," katanya.


"Maaf saja tidak cukup Naki. Kamu sudah nikahin aku. Sekarang status aku adalah istri kamu!" ujarnya penuh Emosi.


"Iya, aku tahu. Aku juga tidak bodoh-bodoh amat, kok."


"Terus?" Ana mendengkus.


"Ya, sudah. Kalau kamu adalah istriku, berarti aku adalah suami kamu. Begitu bukan?"


"Ahhhh!"


Ana berteriak kesal. Rasanya ia ingin menggigit kuping Naki saat ini juga.


Dia pun langsung membanting tubuhnya ke ranjang.


"Jangan mendekat, atau aku akan membunuhmu."


Ana mengeluarkan ponselnya. Dia mencoba menghubungi Adam, dan entah kenapa Adam tak mengangkat panggilannya sama sekali.


Gadis itu kembali menarik napas panjang.


"Ya Tuhan, kenapa jadi begini si! Aku nggak mau jadi istri kedua."


"Kalau nggak mau jadi yang kedua ya sudah, jadi yang ke satu saja."


Sontak Ana melotot ke arah Naki. "Diam kamu, aku nggak pengin denger ocehan kamu sama sekali," makinya.


Naki kemudian berjalan ke arah sofa. Dia memutuskan untuk tidur sejenak d sofa panjang itu.


***


Hari mulai sore. Jangan pernah bertanya apa yang Naki dan Ana lakukan di hotel itu. Sepanjang hari Ana terus saja mengoceh dan memaki-maki tidak jelas.

__ADS_1


Sementara Naki, lelaki itu cuku diam dan mendengarkan semua celotehan Ana.


Setelah bosan berdiam di hotel, Ana pun mengajak Naki pulang ke rumah.


Di depan rumah ibunya sudah bersiap-siap memegang gagang sapu. Dia hendak memukul anaknya yang kurang ajar itu.


"Bu, ampuni aku!" Ana langsung berlutut sambil memeluk kaki ibunya.


Sementara Naki yang tidak suka dengan sikap Ana itu langsung menarik Ana untuk bangun.


"Kurang ajar ya, kamu! Berani-beraninya kamu ngajak putriku nikah masal. Apa kamu tidak tahu berapa banyak biaya yang aku keluarkan untuk membesarkan Ana? Memangnya pantas dia diperlalukan seperti itu? Pantas dia dikasih mahar cuma 200 ribu."


"Maafkan saya, Bu. Besok saya akan memberikan mahar yang lebih pantas lagi untuk Ana. Tapi berhubung pernikahan ini mendadak, saya hanya bisa memberikan seadanya, dan uang 200 ribu yang ada di dompet saya itu terpaksa saya berikan," ucap Naki.


Dengan lugasnya dia berkata seolah kalimat itu sudah diatur sedemikian rupa. Ana cukup terkejut. Ternyata Naki pandai juga bicara.


"Apa yang mau kamu berikan untuk Ana? Jangan harap saya mau merestu hubungan kalian berdua kalau yang kamu berikan tidak layak," ucap si Ibu.


"Saya akan memberikan seluruh harta yang saya miliki kepada Ana. Apakah itu cukup?"


Sontak Ana dan Ibu saling pandang tidak percaya. Tentunya Ibu langsung menelan ludahnya susah payah.


"Besok saya akan memindahkan semua harta yang saya miliki atas nama Ana."


"Naki, kenapa jadi begini?" Mendengar itu rasanya Ana mau mati. Terus bagaimana dengan nasib Nasya kalau harta Naki diberikan semua kepadanya?"


"Harta saja masih tidak cukup, Anak Muda. Kamu pikir aku tertarik dengan hartamu yang banyak itu?"


"Lalu ibu mau apa?"


"Tidak mau apa-apa. Cukup kembalikan Ana padaku. Aku tidak terima melihat anakku dijadikan istri kedua olehmu. Kamu pikir dia apaan?" kesal Ibu.


Naki tersenyum. "Jika Ibu tidak terima, saya akan menceraikan istri pertamaku. Sejujurnya Ana adalah satu-satunya wanita yang aku cintai."


"Hah, bukannya kemarin kamu bilang cinta sama Nasya?" tanya Ana sambil menoleh heran.


"Sejak kapan aku bicara begitu. Kamu ini ada-ada saja," kesalnya.


Sekarang Ana makin tak mengerti dengan isi pikiran Naki.


***


Setelah beberapa saat berlalu. Perdebatan itu mulai mereda. Ayah dan Ibu Ana menyuruh Ana membawa Naki ke kamarnya.


Setelah itu Ana mendudukkan Naki di atas kasur.


"Coba jelasin ke aku. Kenapa kamu nikahin aku, Naki? Kenapa kamu mau pindahin semua harta kamu buat aku. Kenapa kamu mau ceraikan Nasya secara tiba-tiba." Ana langsung melontarkan tiga pertanyaan sekaligus.


Naki tersenyum. Dia pun mulai menjelaskan kalau dirinya sebenarnya sudah tahu tentang semua itu.


"Jadi kamu udah tahu kalau aku dan Adam cuma pura-pura?"


"Adam sudah cerita. Bahkan saat aku mau nikah tadi, aku sempat izin pada Adam dulu. Dia bilang, dia merestui hubungan kita," ujar Naki.


"Terus gimana sama Nasya?"


"Kita biarkan dulu. Aku masih mau lihat sampai mana dia berbohong kepadamu. "


"Hmmmm." Ana kemudian duduk di kasurnya. Tadi Ana sangat penasaran kenapa Naki tiba-tiba berubah dengan sangat cepat. Tapi setelah dia mendengar semuanya. Rasanya Ana jadi malu sendiri.


Dia canggung karena Naki sudah berubah menjadi sosok pria yang sangat mencintai.


Malam makin larut. Setelah menyantap menu makan malam ala kadarnya bersama keluarga, Ana dan Naki kembali ke kamar.


"Aku canggung," kata Ana tiba-tiba.


"Gimana kalau kita ngobrol dulu saja?" tanya Naki. Dengan begitu mereka bisa leluasa satu sama lain.


"Ngobrolin apa," tanya Ana.


Barang kali ada sesuatu yang pengin kamu tanyain ke aku. Aku akan menjawab semuanya," ucap Naki.


Ana menarik napas panjang.


"Itu, sebenarnya aku penasaran, apa yang kamu lakuin di dalam kamar selama sama Nasya tiga tahun?" Pertanyaan Ana mewakili seluruh netizen sedunia.


"Maksudnya bagaimana? Aku mana ingat apa saja yang aku lakukan selama tiga tahun dengan Nasya. Pasti ada banyak hal," ujar Naki.


Akhirnya Ana langsung bertanya ke intinya saja.


"Begini, aku ingin tahu apa yang kamu lakuin sama Nasya. Apakah kamu pernah berhubungan badan sama dia? Masukin itu kamu ke punya dia?" tanya Ana lebih jelas lagi.

__ADS_1


Sebenarnya Ana merasa malu. Tapi rasa penasarannya itu benar-benar sudah tidak terbendung lagi.


"


__ADS_2