Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Makan Malam Horor


__ADS_3

Di ruang makan, semuanya sudah duduk rapi. Kakek Buranaphan langsung berdiri begitu melihat Adam dan Ana tiba di meja makan. Mereka terlihat sangat mesra. Apalagi Adam tak sedikit  pun melepas genggamannya pada tangan Ana.


Naki sedikit tak berkedip melihat penampilan Ana yang jauh beda dari sejak datang tadi. Ternyata manusia jarang mandi itu tak kalah cantik dengan Nasya jika mengenakan pakaian mewah.


"Ehem!"


Buru-buru Naki menunduk saat Nasya melirik ke arahnya. Tatapan perempuan itu terlihat garang dan menakutkan.


"Semuanya, mari kita berdiri, Kakek ingin memperkenalkan calon anggota baru di rumah ini," ujarnya.


Sepasang suami istri yang duduk di sebelah kiri itu langsung berdiri. Sementara Adam dan Ana masih berdiri di samping Kakek.


Ana tersenyum serata mencium tangan Kakek Buranaphan. "Senang bertemu dengan Kakek."


"Kakek juga senang bertemu dengan kamu. Mulai sekarang anggaplah rumah ini seperti rumahmu sendiri. Apa pun yang kamu inginkan katakan saja pada Adam. Jangan pernah sungkan."


"Baik, Kek." Gadis itu mengangguk disertai senyuman. Pandangan Ana kemudian beralih pada Nasya. Dia tersenyum puas melihat wajah kesal Nasya yang coba disembunyikan rapat-rapat.


Ana pun tak sungkan menyalami Nasya dan Naki. Dia juga berani menggoda Vanilla yang langsung sok akrab sambil tertawa-tawa lucu kepada Ana.


"Baiklah, berhubung semuanya sudah siap. Mari kita mulai makan malamnya," ucap si Kakek. Adam langsung mempersilakan Ana duduk. Ia duduk tepat di hadapan Naki dimana mata mereka sangat mudah untuk saling bertemu. Sengaja Adam mengatur duduknya begitu supaya Naki agak salting.


"Karena malam ini adalah malam yang spesial, Kakek harus makan yang banyak," ucap Nasya.


Ia hendak membuka piring Kakek Buranaphan. Tapi dengan sigap Ana mengambil piring itu.


"Biar aku yang mengambilkan makanan untuk Kakek. Kamu layani suami dan anakmu saja."


Mendengar itu Nasya hanya diam. Ia mengambil piring milik Naki lalu mengisinya dengan lauk pauk.

__ADS_1


"Wah, apakah malam ini aku hanya makan ini saja?" Kakek Buranaphan tersenyum kecut saat melihat isi piringnya. Ana juga sudah menarik kopi hitam yang ada di depan Kakek Buranaphan jauh-jauh.


"Ana sudah membaca riwayat medis Kakek. Karena mulai sekarang dia adalah perawat Kakek, jadi Kakek harus menurut pada Ana. Itu adalah menu yang sudah diinstruksikan Ana pada bagian kepala dapur. Percayalah, semua takaran nutrisi yang ada di piring itu sudah pas sekali dengan diet Kakek."


"Jadi malam ini tidak ada kopi?" Dahi Kakek Buranaphan mengernyit tidak senang. Kopi adalah minuman kesayangan si tua itu.


"Sepertinya tidak, Kek. Karena Anda punya riwayat darah tinggi. Jadi Anda harus mengurangi konsumsi kopi," jelas Adam. Mendengar itu Kakek Buranaphan agak kecewa.Tapi ia tidak banyak bicara seperti biasa.


Kakek Buranaphan kemudian melirik ke arah Ana.


"Hmmm. Kau benar-benar perawat handal. Kau paling tahu caranya menyiksaku," balas Kakek Buranaphan sambil tertawa.


Nasya dan Naki saling pandang sejenak. Mereka begitu heran kenapa Kakek Buranaphan bisa senurut itu pada Ana. Padahal selama ini perawat Kakek tua itu selalu kewalahan karena si tua jompo itu sulit diatur. Tapi dengan Ana, kakek Buranaphan langsung luluh seketika.


Acara makan berlanjut. Semuanya hening dan hanya ada celotehan riang dari Vanilla. Sesekali gadis kecil itu melirik pada Ana. Dia tersenyum setiap kali matanya berserobok dengan gadis itu.


Tidak bisa, aku segera cari cara untuk menendang Ana dari rumah ini, batin Nasya dalam dia. Tadi ia tak sengaja mendapati Naki menatap Ana dengan penuh kekaguman, dan jika itu dibiarkan, mungkin Nasya akan segera tersingkir. Apalagi kalau orang lain tahu bahwa anak itu bukanlah anak Naki.


"Sepertinya Kakek sangat cocok dengan perawat baru Kakek," celetuk Adam.


"Tentu saja. Perawat yang kau carikan kali ini adalah perawat luar biasa. Dia adalah calon menantu Kakek. Tentu saja Kakek sangat menyukainya," ucap Kakek Buranaphan. "Bahkan Vanilla yang masih kecil saja sangat menyukainya," lanjut si Kakek.


Nasya semakin kebakaran jenggot mendengar itu. Ia tidak menyangka kalau Ana akan disambut sebaik ini oleh Kakek Buranaphan. Lantas bagaimana caranya Nasya menyingkirkan Ana? Nyali perempuan itu sedikit menciut. Namun, Nasya akan berusaha meskipun kemungkinannya cukup susah.


Dia bisa memperalat Naki untuk menyingkirkan gadis itu.


-


-

__ADS_1


-


Makan malam selesai, Kakek kemudian mengajak Ana dan Adam menuju ruangan pribadinya. Suasana mencekam karena Kakek Buranaphan yang semula ramah terlihat memasang wajah dingin.


Dia menatap Adam yang tengah duduk di sofa. Lalu beralih ke samping sambil memperhatikan Ana dari ujung kaki ke atas kepala.


"Terima kasih sudah berkenan membantu Kakek dan Adam," ucap si tua itu. 


"Seperti yang kamu lihat tadi. Waktu cucuku habis digunakan untuk orang yang tidak tepat."


"Ummm. Memangnya cucuk Kakek tidak bekerja?" tanya Ana heran. 


"Naki kurang tertarik dengan perusahaan. Tapi dia kadang aktif di bidang perhutanan. Di juga punya kebun binatang pribadi yang isinya teman-temannya semua."


"Wah, benarkah?" 


Adam pun ikut menimpali. "Sebenarnya Naki sangat pandai. Tapi dia mudah sekali terhasut oleh Nasya. Itu sebabnya Naki kurang aktif dan hanya mau melakukan sesuatu yang dia atau Nasya sukai."


"Jadi keseharian dia ngapain aja?" Ana menoleh pada Adam.


"Dia menjaga anaknya Vanilla, sementara Nasya sibuk belanjar dan berkumpul dengan geng sosialitanya. Awalnya kami juga tidak tahu kalau Nasya begitu. Ternyata, setiap kali Naki diajak berkegiatan di luar rumah, dia hanya dijadikan sebagai baby sitter. Naki tidak pernah dikenalkan pada teman-temannya, bahkan Nasya cenderung hanya 


memanfaatkan kebaikan anak itu," ucap Adam.


Ana menganga tak percaya. Entah kenapa ia merasa marah ketika mendengar semua itu.


"Keterlaluan! Jujur saya merasa tidak terima karena saya mengajak Naki kembali ke dunia manusia bukan untuk diperalat."


"Kakek tahu kamu orang yang baik. Mulai saat ini kami, aku dan juga adam, akan selalu mendukungmu dari belakang."

__ADS_1


"Kalian tenang saja. Aku akan berjuang sebisa mungkin. Sekalipun nantinya aku tidak mendapatkan Naki, setidaknya aku bisa berjuang menyadarkan pria itu. Aku mau Naki hidup normal dan tidak mudah dimanfaatkan," ujar Ana.


***


__ADS_2