
Gadis itu berlari secara membabi buta tanpa memperhatikan Naki yang langsung memasang ekspresi ketakutan di belakangnya. Alih-alih mengikuti Ana, lelaki itu malah pergi semakin jauh dan menghilang.
Ana tidak menyadari bahwa Naki sudah tidak ada. Ia terlalu fokus menatap sebuah kapal yang menepi. Juga seorang wanita cantik dengan balutan baju pantai.
"Nasyaaaaaa ...."
Wanita cantik dan seksie itu menoleh. Tepatnya ke arah sumber suara yang menyita perhatiannya.
"Anaaaa ...." Dia berteriak heboh saat melihat Ana. Akhirnya usahanya untuk mendatangi pulau asing ini membuahkan hasil sesuai harapan.
Rasa rindu tak terbendung lagi. Bagai di di film India, Ana dan Nasya saling berpelukan untuk melepas rindu. Nasya langsung merangkum wajah Ana dengan kedua tangan. Memastikan bahwa itu adalah sahabatnya yang dicari selama ini.
"Aku benar tidak mimpi kan, Ana? Ini beneran kamu?"
Ana mengangguk. "Tentu saja tidak mimpi. Ini aku sungguhan."
"Syukurlah ...." Nasya memeluk Ana lagi. Rasanya dia masih tidak percaya bisa menemukan Ana dalam keadaan hidup setelah nyaris satu bulan lamanya gadis itu dinyatakan mati di laut.
Nasya berhasil menemukan Ana karena bantuan netizen. Mereka yang menunjukkan kepada Nasya bahwa ada kehidupan tak wajar di sebuah pulau tak berpenghuni.
Nasya pun mulai mengaitkan keanehan yang terjadi di pulau ini dengan menghilangnya Ana. Dia yakin sekali bahwa Ana terdampar di pulau ini.
Terbuktikan? Nasya akhirnya berhasil menemukan Ana.
"Bagaimana kamu bisa menemukan aku, Sya?" tanya Ana penasaran. Ia melihat ke arah kapal. Di sana ada tiga tim Sar yang menemani Nasya datang ke pulau ini.
__ADS_1
"Ceritanya sangat panjang, Sya. Pokoknya semua itu berkat SOS indah dari bunga mawar yang kamu buat itu. Seseorang menemukan lokasi ini lewat satelit karena SOS yang kamu buat," ujar Nasya.
Mendengar itu Ana langsung teringat pada Naki. Dia menoleh ke belakang, berusaha mencari pria itu tapi batang hidungnya tak nampak sedikit pun.
Pasti Naki tidak mau melihat orang, pikirnya. Tapi Ana tak mau menyerah, dia akan memastikan Naki ikut dengannya meski dengan cara apa pun.
"Nona ... sepertinya kita harus menginap di tempat ini satu malam." Suara salah seorang tim SAR membuat Nasya menoleh.
"Loh, kenapa?" Ekspresi Nasya berubah panik. Dia jelas tidak mau jika harus menginap di tempat asing ini.
"Perjalanan pulang malam ini terlalu beresiko, Nona. Ombak di laut menunjukkan keadaan tidak baik," ujarnya.
Wajah Nasya yang semula sumringah berubah panik. Tampak raut khawatir menghiasi wajahnya yang mulus akibat rajin melakukan detoksasi.
"Benarkah?" Nasya menatap penuh keraguan.
Ana hanya tersenyum, lalu menggenggam tangan gadis itu. Ia berusaha meyakinkan kalau pulau tak berpenghuni ini tidak seburuk yang Nasya kira.
"Ayo ikut aku ... Aku akan menunjukkan sesuatu."
"Menunjukkan apa Ana?" Gadis itu membulatkan matanya. Dia berusaha menahan diri saat Ana menariknya ke area hutan. Tapi Ana terus saja memaksa. Akhirnya Nasya kalah dan membiarkan Ana membawanya entah ke mana.
"Kalian mau ke mana?" Beruntung Nasya diselamatkan oleh teguran salah seorang tim SAR. Mereka semua masih sibuk dan berusaha menepikan kapal. Jadi belum bisa fokus apalagi mengecek kondisi Ana.
"Aku ingin membawa temanku ke tempat peristirahatanku selama di tempat ini. Itu adalah sebuah gubuk, dan tempatnya tidak jauh dari sini!" seru Ana.
__ADS_1
"Baiklah. Jaga diri baik-baik. Pastikan kalian tidak kenapa-napa."
"Terima kasih, Pak! Sepertinya Bapak yang harus menjaga diri baik-baik. Tempat ini banyak hewan buasnya," seru Ana. Tapi sepertinya para tim SAR tidak peduli dengan peringatan Ana. Mereka masih sibuk menepikan kapal.
_
_
_
Ana kemudian membawa Nasya ke gubuk di mana Naki berada. Ia yakin Naki pasti bersembunyi di sana.
"Kau mau membawaku ke mana, Ana?" Sekujur tubuh Nasya gemetar ketakutan. Pandangannya mengindahi pohon-pohon besar yang tinggi menjulang.
"Astaga!" Nasya berteriak kencang kala melihat macan menghadang di depan mereka. Tatapan macan itu terlihat garang dan mengintimidasi sekalim
"Tolong ... Tolong!"
Dengan bodohnya gadis itu berteriak panik. Hal itu malah membangkitkan gairah si macan menjadi semakin liar. Buru-buru Ana membekap mulut Nasya sebelum kepalanya putus di gigit macan.
"Tenanglah, Nasya! Dia akan memakanmu jika kamu terus berteriak."
"Lalu aku harus bagaimana?" Nasya langsung menyembunyikan tubuhnya di belakang Ana. Namun, bukannya mendapat perlindungan punggung gadis itu malah ditoel belalai gajah.
"Astaga Tuhan! Apalagi ini! Kenapa ada gajah segala?"
__ADS_1