Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Nasya Tahu Pernikahan Itu


__ADS_3

Satu Bulan Kemudian.


Mendapatkan libur pertamanya, Ana memutuskan untuk jalan-jalan ke taman hiburan. Bekerja di rumah orang kaya sebagai perawat pribadi kakek tua cukup melelahkan apalagi saat orang tua itu kambuh rewelnya. Apa-apa harus dituruti, harus bisa mengambil hati agar apa yang Ana mau diikuti si kakek. Kalau tidak maka Ana sendiri yang akan kesulitan. Contohnya larangan soal kopi. Si kakek begitu sulit dikasih tahu. Padahal Ana melakukan itu juga demi kesehatan orang itu sendiri.


Ana menghela panjang, lalu melihat awan di langit yang mulai menampakkan warna jingga. Itu buatnya sedikit lega dan melupakan rasa lelah.


"Argh, gini amat cari duit," gumam gadis itu lagi, lalu senyumnya merekah saat dirinya telah tiba di taman hiburan di mana sudah ramai orang.


"Baiklah, aku hanya harus bersenang-senang agar bisa bekerja dengan baik. Semangat, Ana!" gumam gadis itu pelan, lalu melangkah masuk ke taman hiburan.


Saat ini dia memang membutuhkan relaksasi berupa jalan-jalan. Tubuh dan jiwanya lumayan layu dan butuh amunisi yang bernama bersenang-senang.


Ana yang asyik jalan-jalan di taman hiburan sama sekali tidak menyadari kalau ada yang mengintai sedari tadi. Jordi, ya, Jordi. Mata lelaki itu laksana elang, tajam, sama sekali tak mengedip. Dia menatap Ana begitu sengit sambil mencari celah saat ada kesempatan.


"Hari ini aku harus bisa membuat perempuan ini lumpuh. Harus bisa," geramnya sambil mencengkeram setir mobil.


"Kalau tidak bisa maka Nasya akan mengamuk. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi," lanjutnya kemudian. Rahang lelaki itu terlihat mengetat, menandakan kalau tekat telah bulat. Dia berniat membuat Ana lumpuh.


Di sana Ana benar-benar menikmati masa libur, dari membeli permen kapas, naik wahana atau sekadar mengabadikan momen itu dengan berfoto. Dia tak masalah sendirian, bahkan masa bodoh saat ada beberapa orang menatap heran.


Bagaimana tidak, saat wanita seusai dirinya datang dengan teman atau kekasih, dia malah datang sendirian.


Selama membuntuti Ana, Jordi tak hentinya menggeram. Dia terus mendekati Ana dan sialnya Ana sama sekali tidak sadar. Jaket hitam dan master yang dipakai Jordi membuat gadis itu sama sekali tidak tahu kalau nyawanya sedang terancam.


Hingga akhirnya kesempatan Jordi datang. Ana sedang berdiri di tepi jalan hendak jajan es tebu. Kebetulan yang tidak akan disia-siakan oleh Jordi.


"Baiklah, teruslah di sana gadis kecil. Kita akhiri ini dengan cepat," geram Jordi lalu menuju mobil yang sengaja dia parkir tepi jalan.


Di kesempatan itu Jordi injak pedal gas. Tak peduli kalau mungkin saja menabrak orang lain mengingat situasi masih agak ramai. Di otaknya hanya ada Nasya dan keinginan untuk mengikuti mau Nasya. Nasya inginkan Ana lumpuh. Jadi, dia akan mengabulkan itu.


Jordan injak terus pedal gas. Tangannya menggenggam setir kuat kuat. Jarak antara dirinya dan Ana makin tipis dari detik ke detik.


Lima puluh meter.

__ADS_1


Tiga pukul meter.


Lima meter.


Tiba-tiba satu tangan panjang dan kekar menarik Ana hingga naik ke trotoar. Sedetik kemudian suara desau angin yang diciptakan oleh mobil Jordan buat Ana terperanjat luar biasa. Begitu tipis. Sedikit saja, atau terlambat beberapa detik saja mungkin tubuh Ana sudah membentur trotoar dan bergesekan dengan aspal.


"O-om?" Ana terbata. Otaknya masih loading mencari sebenarnya apa yang terjadi saat ini.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Adam, dia lantas melihat mobil yang tadi berniat menabrak Ana. Mobil itu telah melaju dan hilang dalam beberapa detik saja.


"Om," gumam Ana lagi. Tubuhnya membeku dan dingin.


Adam sama sekali tidak menjawab. Dia lebih tertarik pada keadaan Ana. Bahkan, memastikan dengan cara membalik badan Ana ke kiri dan kanan. Takut kalau ada lecet atau sebagainya.


"Aku … aku …." Ana tak bisa melanjutkan kata, terlalu kaget dan takut. Momen beberapa detik tadi terlalu mengerikan untuk diingat. Telat sedetik mungkin dirinya akan pindah alam.


"Kamu harus hati-hati," lanjut Adam, lalu menuntun Ana duduk di kursi bawah pohon.


"Kamu harus hati-hati. Ada yang berniat mencelakai kamu," ujarnya.


Ana yang mendengar itu tentu shock berat. Bibirnya sampai bergetar dan pucat.


"T-tapi, Om …."


"Orang itu berniat mencelakai kamu. Aku melihatnya sejak awal. Dia ngikutin kamu," terang Adam lagi.


"Tapi kenapa? Siapa?" tanya Ana, dia mulai paham sekarang kenapa mobil tadi begitu dekat dengan badannya, tapi masih tidak mengerti alasan orang melakukan itu.


Adam diam tak menjawab.


Sementara Ana, dia hanya mampu diam mencoba mencerna. Seingatnya tak punya musuh. Tidak pernah terlibat dengan siapa-siapa hingga sampai membuat orang itu dendam dan nekat mencelakai.


***

__ADS_1


Sementara itu, Nasya, wanita yang menyuruh Jordi untuk menabrak Ana sangat kesal. Matanya menatap nyalang Jordi. Ketidakpastian dan kemarahan menggumpal di netranya itu.


Nasya menyuruh Jordi memberikan pelajaran karena ia merasa dibohongi. Sebenarnya Nasya sudah tahu kalau Naki dan Ana menikah diam-diam. Dia tidak menyangka seisi rumah itu membohonginya.


"Kenapa bisa gagal?" teriaknya lantang. Tidak cuma itu, Nasya juga membanting barang yang ada di hadapan hingga membuat tempat di mana mereka selalu menghabiskan waktu bersama menjadi berantakan. Pecahan beling, air, bahkan bunga pun sudah tak beraturan di lantai. Nasya memperlihatkan kekesalannya.


"Kenapa bisa gagal, Jordi!" teriaknya lagi lalu membalik diri menatap Jordi yang ada di belakang.


"Kamu tenang dulu, Nasya," pinta Jordi.


"Bagaimana aku bisa tenang, Jordi. Kamu bilang akan mengatasi ini tapi apa, kamu pulang dengan tangan kosong. Lalu sekarang kamu ingin aku tenang. Apa kamu waras?" umpat Nasya.


Jordi yang mendengar umpatan Nasya sedikit menggeram, harga dirinya terluka, tapi karena cinta dia kesampingkan juga kemarahan itu dan mencoba mendekati Nasya. Dia dia pegang tangan wanita itu, wanita yang dicintainya setengah mati.


"Tenanglah dulu, kalau gagal hari ini kita bisa melakukannya besok. Lagi pun ini juga di luar kehendakku. Tiba-tiba saja Adam menyelamatkannya, lalu apa kamu berharap aku turun dari mobil dan menarik gadis itu?" cecar Jordi.


Nasya dia menatapnya dalam Jordi.


"Aku bisa mati, dan kamu juga. Jadi tolonglah tenang. Oke?"


Melihat Nasya yang sudah lumayan tenang Jordi pun melakukan sentuhan terakhir. Dia pegang dan genggam tangan Nasya yang satunya hingga wanita itu terdiam lagi.


"Aku minta maaf untuk hari ini, tapi aku berjanji besok akan melakukannya dengan baik. Aku berjanji kamu akan mendapatkan kabar baik dariku besok."


"Apa aku bisa percaya itu?" tanya Nasya.


Jordi mengangguk pelan, lalu membelai pipi Nasya. Dia memberi seulas bibir. "Au berjanji."


Nasya diam menatap manik mata Jordi.


"Aku ingin. Kamu malam ini," lirih Jordi lagi.


Dan karena sudah terbawa suasana, Nasya pun mengiyakan dengan anggukan. Lalu, membalas ulasan bibir Jordi dengan senyum manis.

__ADS_1


__ADS_2