Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Pesona


__ADS_3

"Kamu duduk sini dulu, Sya. Aku akan mencoba merayu Naki supaya mau berbaur denganmu juga," ucap Ana.


Tentu Nasya langsung bereaksi panik karena Ana menyuruhnya duduk di luar pintu seorang diri. Dia menahan tangan Ana kencang-kencang dengan tatapan memohon.


"Jangan gila Ana. Bagaimana kalau hewan-hewan itu datang lagi?" bisik gadis itu diikuti kepalanya yang menggeleng tidak setuju.


"Kalau hewan itu datang lagi kamu bisa gedor pintu ini. Maaf Sya ... Aku harus membujuk Naki dulu supaya mau bertemu kalian. Sepertinya dia agak sensitif dan marah karena ada manusia lain," ujar Ana.


"Dia adalah pemegang kekuasaan atas penghuni di tempat ini. Aku takutnya dia tidak terima dan menyuruh para hewan peliharaannya untu menyerang kalian. Jadi untuk cari aman aku harus rayu dia dulu. Ini semua demi keamanan kalian berdua, kok."


Mendengar itu Nasya langsung mengangguk setuju. Dia baru paham kalau Naki adalah raja dari hewan-hewan buas itu.


"Ok ... Oke ... Cepat rayu si Purba itu sebelum dia memanggil hewan peliharaannya lagi," balas Nasya cepat. Dia mendorong tubuh Ana dengan gerakan cepat. Kemudian duduk di depan pintu sambil memeluk lututnya sendiri.


"Aku tunggu sini!"


"Terima kasih, Sya."


Setelah menutup pintu dan memastikan tidak ada yang tahu keadaan di dalam, Ana perlahan menghampiri Naki.


Mula-mula ia peluk pria itu dari belakang. Ana tak mengucapkan sepatah kata pun. Dia terus memeluk dan mengembuskan napasnya di punggung Naki yang juga diam tanpa berkata apa-apa.


Tangan Ana perlahan turun ke bawah. Ia menyentuh sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dia sentuk. Naki langsung kesal dan menepis tangan itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian Naki sedikit bereaksi. Ketidaknyamanan mulai menghampiri diri dan ia putuskan untuk berbalik menghadap ke arah Ana.


"Kenapa kamu masih di sini? Bukankah kamu sudah dijemput pulang oleh para manusia itu?"


Tatapin Naki sangat marah. Terlihat wajah tidak rela di balik perkataannya yang angkuh itu.


"Pergilah! Kamu seharusnya senang bisa segera pulang!"


Tersenyum lembut, Ana meraih satu tangan Naki dan menggenggamnya erat. "Aku tidak mungkin pergi dari tempat ini tanpa kamu, Naki. Kamu harus ikut denganku karena kita sudah pacaran," kata gadis lirih.


Namun, sepertinya Naki masih belum mau digoyahkan. Dia menggeleng dan tetap bersikeras tinggal di hutan ini. Tatapannya juga berubah dingin kepada Ana.


"Aku tidak mau pergi, Ana. Sekeras apa pun kamu merayu aku tetap akan tinggal di sini. Ini adalah tempatku yang sesungguhnya," tegas Naki tetap bersikukuh.


Sederetan pertanyaan yang menyudutkan Naki terlontar dari mulut Ana. Dia sengaja mengekspresikan marahnya kepada laki-laki itu.


"Kalau kamu memang Sayang sama aku kamu harus kembali ke dunia manusia Naki. Di sana adalah tempat kita ... Kita bisa menikah dan aku bisa mengobati bagian tubuhmu yang tidak nyaman itu!" Mata Ana tertuju pada anunya Naki di balik celana. Tapi Naki abaikan rasa itu. Dia memilih tegas dan menolak ajakan Ana barusan.


"Harus berapa kali aku bicara? Aku tidak mau Ana!" Lelaki itu berseru galak. Ana sedikit kewalahan mencari akal untuk merayu anak itu.


Karena ia tahu Naki bukan tipe orang yang suka dipaksa, akhirnya Ana berusaha menemukan alternatif lain.


"Begini saja, Naki. Bagaimana kalau kamu kenalan dulu dengan mereka. Kamu tidak harus memutuskan untuk pulang. Pastikan dulu dan yakinkan hatimu. Kebetulan juga mereka akan menginap si sini semalaman."

__ADS_1


"Itu juga aku tidak mau," balas Naki cepat.


"Ya Tuhan!" Ana menjambak rambut sendiri saking kesalnya. Naki kemudian menarik tangan Ana. Membawa gadis itu kepelukan Naki.


"Maafkan aku, Ana. Aku hanya ingin kamu di sini. Tidak bisakah kamu mengalah dan tetap di sisiku?" pinta Naki. Suaranya yang lemah membuat Ana makin frustrasi.


"Aku tidak habis pikir denganmu Naki. Kenapa sesulit itu kembali ke duniamu. Padahal mereka bisa menemukan kita juga berkat SOS dari bunga mawar yang kamu buat itu," ujar Ana.


Spontan Naki terkejut. Ada rasa menyesal kenapa Naki harus membuatkan itu untuk Ana. Andai dia tidak menata bunga-bunga sialan itu pasti tidak akan ada orang yang merebut Ana darinya.


Braaakkkk!


Pintu tiba-tiba saja dibuka kuat-kuat. Hal itu membuat Ana refleks mendorong tubuh Naki. Mereka berdua menoleh kepada Nasya yang baru saja masuk ke dalam dan mengatung ketakutan.


"Sorry, An! Di luar ada rusa mau nyeruduk aku. Makannya aku buka pintu saking paniknya," ucap Nasya.


Naki yang masih terkejut tambah dibuat terkejut lagi saat melihat penampilan Nasya. Dia terpesona dengan kecantikan Nasya yang luar biasa.


Untuk pertama kalinya Naki menyadari bahwa Ana bukanlah wanita paling cantik sedunia. Nasya jauh lebih cantik dari Ana. Wajahnya bersig, kulitnya juga putih dan mulus.


"A ... Aku mau berkenalan dengan manusia itu!" tunjuk Naki dengan polosnya. Nasya terkejut dan menoleh pada Ana. Raut ketakutan jelas tercetak di wajah perempuan itu. Siapa yang tidak takut melihat pria bertubuh besar dan tinggi seperti itu coba?


"Tidak apa, Sya. Dia baik," ucapnya.

__ADS_1


Ana tahu bahwa Naki terpesona akan kecantikan Nasya. Tapi ia berusaha memaklumi karena ini adalah pertama kalinya Naki melihat wanita cantik. Secara Nasya itu model. Mau dilihat dari sudut pandang mana pun Nasya bukanlah tandingan Ana.


__ADS_2