Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Jijik


__ADS_3

"Itu artinya kita tidak bisa lagi saling memiliki Naki. Yang nama suka itu harus bisa mengerti satu sama lain. Karena kamu tidak bisa berpikir secara logis, jadi terpaksa aku harus menghentikan hubungan kita suatu hari nanti."


"Kok begitu?" Raut kecewa tergambar di wajah Naki yang polos.


"Adanya begitu!" Ana mengangkat dua bahunya pasrah. "Karena kita berdua manusia, kita tidak mungkin tinggal di sini selamanya. Jadi aku berharap kamu bisa mengerti aku dengan cara ikut aku pergi dari tempat ini."


"Apa kamu yakin tempatmu yang terbaik? Kurasa tempat tinggalmu belum tentu yang terbaik," ujar Naki.


Ana mengepalkan kedua tangannya. Kali ini ia kesal dengan pertanyaan anak itu.


"Tentu saja tempatku jauh lebih baik dari tempat ini! Di sana kita bisa berbaur dengan sesama manusia! Dan itu memang sudah menjadi kodrat kita harus seperti itu."


"Hmmm. Begitu, ya?" Ekspresi wajah Naki makin berubah datar. Dia meletakkan kelinci yang sudah matang ke atas daun, tapi tidak langsung membelahnya seperti biasa.


"Andai aku tidak dibuang ke tempat ini, mungkin aku akan berkata dunia manusia itu aman dan menyenangkan, Ana. Tapi sayangnya aku sudah terlanjur takut. Aku selalu beranggapan, manusia jauh lebih jahat dari hewan-hewan buas."


Ahh ...!


Ana benar-benar lupa soal ini. Pantas saja Naki tidak mau kembali. Ia yakin pasti Naki memiliki trauma karena perbuatan jahat yang dilakukan ibu tirinya dahulu kala.


"Naki, ada kalanya kita harus melupakan rasa sakit di masa lalu. Masa depan tidak akan selamanya buruk. Kamu belum mencoba mendatangi dunia manusia lagi, jadi kamu tidak tahu seperti apa rasanya," ucap Ana.


"Tapi aku tetap saja takut Ana. Di dunia ini hanya kamu satu-satunya manusia yang aku percaya. Aku tidak tahu apakah aku bisa hidup dengan manusia lain di luar sana."


Tiba-tiba Naki meneteskan air matanya. Ana tidak tahu seberat apa trauma Naki di masa lalu. Tapi jika dipikir-pikir hidupnya Naki selama ini adalah keajaiban.

__ADS_1


Bagaimana tidak?


Seorang bocah dibuang ke pulau tak berpenghuni seorang diri. Jika itu Ana mungkin dia sudah mati terlebih dahulu.


Naki membuktikan bahwa Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup. Tuhan juga memberikan keluarga yang baik untuk Naki meski mereka semua bukan manusia.


Ana mendekat sedikit. Ia ulurkan dua tangannya ke wajah Naki. Ia usap pelan-pelan air mata yang menetes di pipi lelaki itu.


"Sudahlah, Naki. Sepertinya pembahasan ini terlalu sensitif untuk hubungan kita. Toh belum tentu ada orang yang menemukan kita di sini. Jadi lebih baik kita fokus pada apa yang kita miliki sekarang. Hutan ini, aku, kamu, dan tentunya semua yang kita miliki. Mari kita nikmati semua itu tanpa memikirkan apa yang akan terjadi Nanti. Bisa kah?"


Naki mengangguk lalu tersenyum simpul.


Untuk pertama kalinya Ana melihat lelaki itu dengan rasa yang berbeda. Rahang Naki tampak terlihat tegas. Alisnya tebal dan hidungnya mancung sekali.


Ana juga tersenyum. Ia kemudian memperhatikan bibir Naki yang tampak menggoda sekali.


Secara tidak sadar Ana mendekatkan wajahnya ke arah bibir itu. Jarak mereka sangat dekat, dan ....


Dalam sepersekian detik bibir mereka saling bersentuhan. Naki yang merasa senang langsung merangkul pinggang Ana. Ia membiarkan bibir gadis itu berlama-lama di sana. Sampai tiba-tiba ...


" Umpp!"


Naki agak tersentak saat Ana dengan sengaja menjulurkan lidahnya. Ini adalah kali pertamanya Naki dicium dengan cara aneh begitu. Naki yang merasa tidak nyaman langsung mendorong tubuh Ana seketika itu juga.


Ana juga ikur tersentak. Bagaikan jatuh dari langit ke tujuh, ekspresi gadis itu sekarang berubah heran.

__ADS_1


"Kenapa Naki?" tanya Ana.


"Emm ... Apa yang kamu lakukan tadi? Kenapa kamu menjulurkan lidahmu begitu?"


Dia meludah ke sembarang arah. Tentunya reaksi itu membuat Ana agak tersinggung. Tapi ia harus ingat bahwa lelaki yang ada di depannya adalah Naki. Naki bukan bintang okep, dia hanyalah pria polos oon yang tidak tahu apa-apa.


"Eh, emang iya kah?" Ana berekspresi salah tingkah. Saking terbuainya Ana sampai tidak menyadari perbuatannya. Naki yang belum pernah diajari teori itu jelas merasa kaget.


"Maaf ... Tapi aku jijik dengan apa yang kamu lakukan tadi!"


"Jijik?" Aura di wajah Ana berubah menghitam. Mungkin ini akan menjadi hari terakhir mereka berciuman, pikir Ana kesal.


"Iya Ana! Aku suka dengan bibirmu yang kecil dan lucu itu. Tapi aku belum terbiasa saat kamu menjulurkan lidahmu seperti itu. Apa manusia lain di luar sana melakukan hal itu?" Naki bertanya sambil mengelap bibirnya. Ana jadi merasa seperti kuman gara-gara sikap Naki ini.


Sabar Ana, sabar! Bagaimana pun juga manusia sialan yang ada di depanmu ini adalah Naki! Dia tidak mungkin bisa bersikap romantis seperti bayanganmu, batin Ana.


"Ya, itu adalah ciuman yang sesungguhnya. Kalau yang biasa kita lakukan itu hanyalah kecupan."


"Ah, begitu!" Naki mengangguk meski ekspresinya menyiratkan ketidakpahaman. "Aneh," ujar Naki kemudian.


"Apanya yang aneh Naki?" Kini Ana mulai naik pitam. Menyesal jelas iya.


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2