Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Tekat Bulat


__ADS_3

Nasya turun dari mobil. Dia langsung disambut beberapa pelayan saat baru menginjakkan kakinya di halaman kediaman kakek Buranaphan.


Tak lama kemudian sosok laki-laki tua keluar dan menyambut kedatangan Nasya. Mata kakek tua itu berbinar dipenuhi berbagai harapan.


"Bagaimana, Nasya? Apa kau sudah berhasil membujuk Naki?"


"Belum, kek." Gadis itu menggeleng. "Tapi kedatangan saya ke sini karena ada yang perlu dibicarakan."


"Ayo masuk," ajak Kakek Buranaphan.


Beliau mengajak Nasya ke ruang tengah. Keduanya menikmati secangkir teh impor dari negara Afrika yang terkenal enak sekali.


"Jadi apa maksud dan kedatanganmu kemari Nasya. Aku harap kau membawa kabar baik."


Mendengar itu Nasya tertunduk. Dia pura-pura sedih dan memasang wajah tidak enak.


"Maafkan saya Kak. Sejujurnya saya tidak bermaksud ingin mengecewakan Kakek. Saya mau membicarakan soal Adam." Nasya sedikit mendongak. Menatap sendu wajah si Kakek.


"Lanjutkan," perintah Kakek Buranaphan.


"Maksud kedatangan saya kemari, karena saya ingin menolak tawaran perjodohan saya dengan Adam. Saya tidak bisa melakukannya karena suatu alasan."

__ADS_1


"Apa itu karena kamu sudah punya calon lain?" tanya Kakek Buranaphan dengan wajah sedikit kecewa.


"Betuk, Kek. Sekali lagi maafkan saya."


"Apa lelaki itu Naki?"


Pertanyaan Kakek Buranaphan membuat Nasya menegakkan dagunya penuh. Dia tidak kaget, tapi ekspresinya sengaja dibuat seperti itu.


"Maafkan saya, Kek. Saya tidak berniat lancang, tapi sejujurnya saya cinta sekali dengan Naki. Perasaan saya sebenarnya sudah tumbuh lama dari sejak saya belum mengenal Kakek."


"Huhh." Kakek buranapan mengempaskan napas.


"Be ... benarkah, Kek?" Sepasang mata licik Nasya berbinar bahagia.


"Iya, tapi jangan lupakan tugasmu. Atau aku tidak akan merestui hubungan kalian."


"Baik, Kek! Aku akan berusaha membujuknya. Terima kasih karena sudah merestu hubungan kami. Hati Kakek sungguh mulia sekali," ucap Nasya penuh kekaguman.


*


*

__ADS_1


*


Sementara di tempat lain, Naki memiliki kegiatan baru yang cukup mengasyikan.


Sekarang dia sedang suka-sukanya menonton drama. Dari drama yang di tonton, Naki berusaha bejalar banyak soal kehidupan manusia—terutama menyangkut urusan cinta.


Drama yang ia tonton kali ini bercerita tentang lelaki miskin tak yang berubah kaya setelah dicampakkan istrinya. Perempuan itu pun menyesal setelah beberapa tahun mengetahui mantan suaminya sukses. Dia mengemis ingin kembali, tetapi si laki-laki sudah menemukan tambatan hati baru.


"Apa sebaiknya aku kembali saja ke rumah Kakek supaya Ana menyesal?" Sejenak Naki berpikir ingin meniru adegan itu. Ia ingin Ana menyesal dan merasakan sakit karena sudah mencampakkan orang yang salah.


"Tapi apakah aku bisa membuat Ana menyesal kalau jadi orang kaya?"


Naki sedikit ragu. Tapi ia ingin melihat hasilnya. Terus terang jauh di sudut hati, Naki masih berharap bisa kembali dengan Ana.


Sayang Nasya bilang Ana sudah tidak peduli lagi padanya.


"Sepertinya hal ini harus kucoba. Jika aku kaya, aku pasti bisa melakukan hal apa saja," ucap Naki.


"Tidak hanya kaya. Aku juga ingin menjadi laki-laki pintar seperti Jimin BTS yang sangat Ana sukai itu," gumam Naki.


Tekatnya untuk berubah mulai bulat. Bagaimanapun caranya Naki ingin membuat Ana menyesal sejadi-jadinya.

__ADS_1


__ADS_2