Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Pergi Membawa Luka


__ADS_3

"Tidak usah pura-pura bersandiwara Ana. Mulai sekarang aku tidak akan mempan dengan kebohongan yang kau ciptakan!" ucap Naki dingin. Ia bahkan tak mau menatap Ana saat mengatakan ini.


"Maksudnya apa ini? Kenapa semuanya jadi begini?" Ana menatap Nasya dan Naki secara bergantian. Dia benar-benar butuh penjelasan.


"Sya, tolong jelasin! Ada apa sebenarnya?"


Mata gadis itu mulai berkaca-kaca.


Tes.


Setitik air mata Ana keluar bersamaan dengan dadanya yang berdentam tak karuan. Hati gadis itu mulai merasakan sesuatu yang buruk akan segera terjadi.


Naki kemudian mengambil sesuatu dari dalam saku jasnya. Ia menyalakan rekaman suara Ana yang waktu itu sempat di edit oleh Nasya. Dia buang bagian tidak penting, dan hanya menyisakan bagian saat Ana mengatakan tidak serius pacaran dengan Naki.


"Sya, aku tidak menyangka kamu ...." Tatapan gadis itu beralih pada Nasya yang sejak tadi berdiri di belakang Naki. Nasya langsung melengos seolah tak peduli sama sekali.


"Tidak usah menyalahkan Nasya. Bukankah itu suaramu?"


"Naki, ini semua salah paham. Itu memang suaraku, tapi aku tidak bermaksud un--"


"Tidak usah banyak bicara, aku yakin setelah ini kamu pasti akan melakukan pembelaan seperti drama yang ada di televisi. Kamu benar-benar licik Ana. Aku benci kamu!" ucap Naki lantang.

__ADS_1


Sontak Ana menganga tak percaya. Hanya dalam hitungan hari tak bertemu, Naki sudah berubah menjadi orang asing yang tak Ana kenali sama sekali.


"Tidak usah menjelaskan apa-apa sama aku. Kedatanganku ke sini hanya ingin memberi tahu kamu kalau mulai saat ini kita sudah resmi putus. Dan ...." Naki menggandeng tangan Nasya yang ada di belakangnya.


Ana makin membeliak. Tapi dia tidak berani bicara apa-apa.


"Mulai sekarang Nasya adalah pacarku. Dia satu-satunya orang yang aku cintai, dan sebentar lagi kita akan bertunangan," ucap Naki.


Ana tak peduli. Dia terus menatap Nasya dengan sorot mata kebencian.


"Aku tidak menyangka kamu tega meracuni otak Naki yang polos itu, Sya. Kamu benar-benar kejam!" teriak Ana dibareng isak tangisnya.


"Kamu wanita murahan! Aku yakin suatu saat roda akan berputar. Aku akan tertawa saat melihatmu jatuh suatu hari nanti!"


Plakk!


Tamparan Ana berhasil mendarat di pipi Nasya. Perempuan itu terhoyong-hoyong lalu jatuh ke tempat sampah yang ada di belakangnya.


"Bagus! Orang sepertimu memang pantasnya di tempat sampah!" maki Ana.


"Dasar perempuan gila! Berani-beraninya kamu melakukan itu pada Nasya!"

__ADS_1


Naki langsung bergerak cepat membantu Nasya.


Dia memeluk Nasya tanpa memedulikan tangis Ana yang semakin deras membanjiri pipi.


"Sudahlah Naki. Jangan bicara apa-apa lagi pada Ana. Meskipun dia jahat begitu, dia adalah temanku."


"Cuih! Siapa yang sudi berteman dengan orang seperti kamu!"


Ana lalu beralih pada Naki. Ia tatap wajah itu lekat-lekat untuk terakhir kali.


Plakk!


Plakk!


Ana juga menampar pipi Naki kanan kiri. Lelaki itu membeliak, tapi Ana menyeringai sambil mengejek.


"Tamparan itu sangat pas untuk pria bodoh sepertimu, Naki. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan menyadari betapa tololnya dirimu itu. Aku tidak akan pernah menyesal dihianati oleh dua orang terdekatku. Tapi aku bisa pastikan, kalian berduapasti akan menyesal karena telah menghianatiku. Dasar manusia-manusia munafik."


"Byeee!" pungkas Ana.


Savage!

__ADS_1


Dia meninggalkan tempat itu dengan membawa keberanian luar biasa. Andai ada alat CCTV, semua orang pasti bisa melihat betapa kerennya Ana saat ini.


__ADS_2