Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Jus Mangga


__ADS_3

"Tapi aku nggak pengin bantuin, Om!"


"Setidaknya kamu dengarkan dulu penjelasanku. Setelah selesai cerita kamu boleh menolak," ujar Adam. Dia berusaha menahan Ana untuk tidak pergi.


Ana sekarang sudah memandang dirinya dengan tatapan risi. Di pikiran Ana sekarang Adam ini terlihat seperti lelaki pemaksa. Dan lelaki itu pun memahami gerak-gerik dari kecanggungan Ana.


"Aku tahu kamu tidak nyaman dengan kehadiranku yang asing. Tapi coba dengarkan dulu penjelasanku. Aku sudah lama mencarimu, butuh perjuangan khusus untuk aku bisa menemukan kamu di sini, Ana," ucap Adam lagi.


Ana pun pada akhirnya kembali duduk. Namun sesaat kemudian matanya tak sengaja melirik sosok Fikri yang duduk tak jauh dari mereka. Sejenak Ana saling berserobok pandang dengan Fikri.


"Itu Fikri?"


"Iya."


"Kalau begitu aku mau bicara dengan Fikri dulu. Baru nanti aku bicara sama Om lagi."


"Silakan." Adam pun terpaksa mengiyakan. Ana berpindah tempat duduk sesegera mungkin. Dia mendatangi Fikri sambil melayangkan tatapan tajam ke arahnya.

__ADS_1


"Jadi semua yang kamu katakan tentang aku bohong?" Gadis itu duduk tepat di hadapan Fikri. Lelaki itu mengerjap gugup. Dia tahu apa yang membuat Ana tiba-tiba marah kepadanya.


"Kamu bilang suka sama aku, tapi di balik itu kamu cuma lagi bantuin Om itu nyari tahu soal aku. Dasar sialan kamu!"


Byuurrr.


Segelas jus mangga yang ada di atas meja berhasil Ana tumpahkan ke wajah Fikri. Padahal jus itu belum diminum sama sekali. Adam yang melihat itu cukup terkejut. Dia meringis membayangkan betapa malunya Fikir saat disiram dengan segelas penuh jus itu. Beberapa pasang mata juga mulai memandang penasaran ke arah Fikri dan Ana.


Adam pun terpaksa ikut campur untuk melerai sebelum mode reog Ana makin parah. "Tunggu dulu Ana. Ini salah paham. Apa yang Fikri lakukan sama sekali tidak ada hubungannya dengan aku."


Sontak Ana menoleh. Dia mematung dengan tatapan yang menjurus bingung.


"Fikri adalah supir sekaligus asisten pribadiku. Dia memang selalu menemani kapan pun aku pergi termasuk saat aku hendak menemuimu ke sini. Tapi untuk pencarianmu, sama sekali tidak ada hubungannya dengan Fikri. Dia resmi tahu soal kamu lewat aplikasi pencari jodoh itu."


"Jadi?" Ana menoleh pada Fikri yang keadaannya sudah kacau. Ia meringis ngilu melihat penampilan Fikri yang sudah begitu.


"Jadi aku juga baru tahu kalau kamu adalah orang yang dicari oleh bossku," timpal Fikri. Raut wajahnya terlihat kesal sekali.

__ADS_1


"Aplikasi dating itu otomatis menyatukan kita karena jarak kita saling menjangkau. Aku mana tahu urusan pribadi bossku. Aku juga baru tahu kalau kamu adalah orang yang dia cari setelah aku minta izin untuk bertemu seseorang di sini," ujar Fikri lagi.


Ana makin merasa tak enak. Dia sudah salah paham dengan orang yang tidak seharusnya bersalah.


"Sekarang siapa yang akan mempertanggung jawabkan semua ini?" ujar Fikri lagi. Ia makin frustrasi melihat tatapan orang lain semakin menjurus kepadanya.


"Aduh, gimana ini?" Ana mati kutu. Mulut cempreng yang biasanya pandai bicara itu langsung kicep dalam satu waktu. Ia menggigit bibir bawahnya. Matanya mengindahi sekeliling yang mulai saling pandang karena kekacauan yang Ana buat.


Adam menyadari ini adalah peluang. Lelaki itu segera bergerak seperti pahlawan. "Sudahlah. Nanti aku akan memberimu gaji 2 kali lipat untuk bulan ini. Kemarikan kunci mobilnya, aku masih ada urusan sama Ana."


"Tapi benar gaji saya bulan ini dua kali lipat, Pak?"


"Iya benar! Sekarang kau pulang naik taksi. Hari ini tugasmu selesai," ucap Adam.


Tanpa melirik Ana, Fikri pun langsung memberikan kunci mobilnya pada Adam. Dia berlalu setelah itu.


Kini hanya ada Ana dan Adam berdua saja. Lengkap dengan predikat jomblo kekeringan yang baru saja gagal berkenalan dengan seorang pria karena kebodohannya sendiri.

__ADS_1


"Sebaiknya kita bicara di tempat lain saja. Aku tahu kamu tidak akan punya muka jika bicara di tempat ini."


Adam segera menarik tangan Ana sebelum dia semakin tidak punya muka. Perempuan itu menurut saja karena sudah kepalang malu.


__ADS_2