Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Hari Ke 25


__ADS_3

Hari ke 25


Masih di tempat yang sama dan suasana yang sama pula. Hanya saja euforia dari wajah Ana agak berbeda dari sebelum-sebelumnya.


Ana bangun pagi-pagi sekali dengan wajah yang sangat cerah. Di temani Naki, ia pergi ke pemandian air panas dengan menunggangi pundak gajah.


Hewan bertubuh besar Itu menjadi hewan favorit Ana karena fungsinya mirip kendaraan roda empat. Gajah itu membuat Ana tidak perlu capek-capek jalan kaki. Apalagi di hutan ini cukup banyak pacet atau lintah. Ana akan menjerit kalau sampai ada benda itu menempel pada tubuhnya.


Lintah kedua yang suka membuat Ana menjerit adalah Naki. Sejak Ana memeperbolehkannya memeluk, Naki selalu saja memeluk Ana tanpa permisi. Dia bagai lintah raksasa yang terus menggelayuti Ana kapan pun dia mau.


Sekarang bahkan lelaki itu sedang memeluk Ana dari belakang.


"Loh, kok kita nggak ke tempat pemandian?" Ana agak terkejut saat Naki membelokkan gajahnya ke atas bukit. Tentunya guncangan dari tubuh gajah juga semakin kentara karena jalan mereka nanjak.


"Iya, Ana. Aku mau menunjukkanmu sesuatu. Aku yakin kamu suka."


"Waah ... Apa itu?" Ana berseru penasaran.


"Nanti kamu akan tahu kalau kita sudah di atas bukit Ana. Sebaiknya sekarang kamu fokus berpegangan pada tali. Aku tidak mau kamu jatuh," ujar lelaki itu.


"Hmmm. Baiklah ...." Ana mengikuti instruksi Naki dengan patuh.


Tak lama kemudian mereka telah sampai di atas bukit gundul yang jarang ada pohonnya. Dari penampilannya yang terawat, sepertinya Naki selalu mendatangi tempat itu setiap hari.


Selama ini Naki memang selalu membawa Ana ke mana pun. Tapi ada kalanya dia pergi sendiri di saat Ana tidur siang di gubuk.

__ADS_1


Jadi Ana memang tidak tahu seratus persen apa saja yang Naki lakukan. Naki sendiri juga tidak pernah menceritakan soal ini.


"Ya ampun Naki ...?" Ana berdecak kagum melihat pemandangan yang ada di depannya.


Sebuah taman bunga mawar indah terjadi di depan mata. Hal yang lebih mengejutkan lagi taman bunga itu berbentuk SOS.


"Ini kamu yang buat Naki?" Ana lagi-lagi berdecak tak percaya. Begitu gajah yang ditumpakinya tiarap, Ana langsung turun dan berlari ke taman bunga itu.


Melihat Ana bahagia Naki tersenyum. Mungkin ini adalah kali pertamanya Ana bahagia setelah sekian lama.


Meskipun selama ini Ana berusaha untuk tidak mengumbar kesedihannya di depan Naki, lelaki itu tetap tahu bahwa Ana sangat merindukan kampung halaman. Maka dari itu ia berusaha menghibur Ana dengan membuat SOS dari tanaman bunga mawar.


"Tanda SOS yang ada di pantai lokasinya kurang strategis. Barang kali saja kalau kita buat SOS-nya di atas gunung mereka yang lewat bisa melihat tanda ini," ujar Naki.


Ana tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya. Wajahnya yang berseri-seri itu menoleh. "Ini terlalu bagus dan indah Naki. Rasanya aku ingin ke sini setiap hari."


Gadis itu tak mempedulikan kata SOS. Bersama Naki ia merasa cukup. Jadi andai kata tidak ada satu pun orang yang datang menolong mereka, Ana tidak masalah.


Dia mulai menari-nari mirip aca-aca india. Udara pagi itu kebetulan sangat sejuk. Bunga juga bermekaran seolah menyambut kedatangan mereka berdua.


"Aku senang melihatmu begitu bahagia Ana." Naki bergerak mendekati Ana. Pria itu langsung disambut dengan pelukan. "Aku harap suatu hari nant---"


"Cup!"


Ana mengecup bibir Naki dengan cara melompat. Sontak Naki terpaku dipenuh tanda tanya besar di kepala.

__ADS_1


Ia sedang menghayati perasaan aneh yang tiba-tiba menggerayangi sekujur tubuhnya dari sejak Ana mencium bibirnya.


Ada rasa merinding sekitar tiga puluh persen, dan tujuh puluh persennya adalah perasaan bahagia tak tergambarkan.


"Terima kasih Naki! Kamu adalah laki-laki paling baik yang pernah aku temui," ucap gadis itu.


Pelan, Naki merabah bibirnya. Bibir itu baru saja bersentuhan dengan bibir Ana yang ranum dan menggoda.


Apakah ini mimpi?


Pandangan Naki masih kosong.


Ups!


Ana melongo saat menyadari perbuatannya barusan. Naki pasti sangat terkejut untuk pertama kalinya.


"Naki, apa kamu baik-baik saja?" Wajah Ana berubah panik dan cemas.


"Hmmm." Dia hanya membalas dengan dehaman.


"Yang tadi itu namanya ciuman tanda sayang," ucap gadis itu kemudian. Melihat atmosfer di wajah Naki berubah tidak nyaman, Ana merasa tak enak.


Naki menelan saliva. Kata-kata Ana sukses membuat Naki melontarkan sebuah pertanyaan yang selama ini sering kali dia pikirkan.


"Apakah itu artinya kamu sudah mulai menyukaiku, Ana?"

__ADS_1


__ADS_2