
Tatapan hewan-hewan yang menjadi sahabat Naki tidak seperti biasanya. Ia mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Tanda tanya besar pun muncul di kepala Ana saat melihat hewan-hewan lainnya mengeliling area gubug.
Apakah semua ini karena kehadiran manusia asing, atau justru Nakilah dalang di balik semua ini?
Ana berusaha menarik napas. Dia genggam tangan Nasya yang sudah gemetar tidak karuan.
"Tutup matamu jika takut, Nasya! Tenanglah ... Mereka hanyalah hewan peliharaan."
Glek!
Nasya menelan ludahnya dengan susah payah. Bagaimana bisa gajah dan macan garang itu di sebut hewan peliharaan?
Secepat kilat gadis itu mengikuti perintah Ana. Dia tidak tahu Ana mau membawanya ke mana. Pasrah adalah jalan utama manusia saat nyawanya ada di ujung tanduk.
"Naki, jangan menjadi pengecut! Apa kamu akan terus menghadangku masuk seperti ini!" Ana bicara keras-keras. Ia yakin Naki yang ada di dalam gubug bisa mendengar dengan jelas.
"An, Naki itu siapa? Apa itu nama hewan jenis baru," bisik Nasya. Matanya masih berusaha terpejam serapat mungkin.
"Naki adalah temanku, Sya. Dia yang menyelamatkan aku saat pertama kali ke sini."
"Jadi di sini ada manusia lain juga?"
__ADS_1
"Ada. Sama seperti aku dia juga terdampar di sini. Bedanya dia terdampar karena dibuang sementara aku karena ciptaan alam," ucap Ana.
Nasya memilih diam tak menjawab. Dia mulai merasakan si gajah berulah lagi. Gajah itu kembali memainkan belalainya. Dia meniup-niup telinga Nasya seolah mengajak anak itu bercanda.
Beruntung Nasya bisa menyesuaikan diri dengan cepat. Dia pura-pura saja menganggap gajah kasat mata seperti saat dia dikejar-kejar pria yang bukan tipenya.
Alhasil Gajah ini berhenti menggoda Nasya. Dia sepertinya hanya mengamati dari belakang sana.
"Nakiiiiiiii!" Ana berteriak lagi. Kali ini teriakan itu terdengar melengking dan menyayat hati.
Tak lama kemudian pintu gugub terbuka. Beberapa hewan peliharaan Naki juga mulai menjauh seolah memberi jalan untuk Ana dan Nasya masuk.
"Benarkah? Kenapa bisa pergi," tanya Nasya heran.
"Sepertinya temanku yang mengusirnya," ucap Ana.
Nasya mulai membuka matanya. Dia baru mampu mengembuskan nalas lega setelah hewan-hewan itu bergerak mundur semakin jauh. Hanya satu hewan yang masih stay di hadapan Nasya.
Yaitu monyet yang sedari tadi memperhatikan kain bermotif pisang yang dibawa wanita itu.
Menyadari apa yang diinginkan si monyet, Nasya segera melempar kain yang ada di tangannya. Dan benar saja monyet itu segera berlari setelah mengambil kain yang dilempar Nasya.
__ADS_1
"Ini adalah tempat tinggalku selama ini, Sya. Ayo kita masuk ... aku ingin memperkenalkanmu pada Naki," ujar Ana.
Awalnya Nasya menurut saja saat Ana menuntun gadis itu masuk ke dalam. Bayangannya Naki adalah manusia biasa. Tapi sesaat kemudian ia dibuat berjingkit takut saat melihat penampakan yang ada di depannya.
"Ana, apakah dia manusia purba?" detak jantung Nasya kembali bergerak tidak wajar. Dia sudah nyaris melangkah kabur dan bersiap untuk mundur.
Kenapa di jaman modern begini masih ada manusia purba. Apakah mereka belum punah?
Sama seperti Ana saat bertemu Naki untuk pertama kali, Nasya pun juga memiliki pikiran yang sama.
Tubuh Naki sangat tinggi dan besar. Ukuran itu jelas tidak sesuai dengan standar pria normal.
"Tenang saja Nasya. Dia manusia biasa seperti kita."
"Kok gede banget?" tanya Nasya heran. Karena Naki duduk di pojokan sambil menghadap tembok, jadi Nasya tidak bisa melihat jelas wajahnya seperti apa.
"Mungkin Naki terlahir dengan perawakan bongsor. Aku juga tidak tahu, tapi yang jelas dia manusia biasa, kok."
"Ah, begitu ya?" Perempuan itu menggigit jari. Nasya pandangi lebih rinci setiap inci tubuh Naki. Dari sudut pandang manapun dia tidak tampak seperti manusia normal. Terbesit di pikiran Nasya untuk memviralkan Naki supaya akun medsosnya laris lagi.
Oh ya! Seperti yang sudah diceritakan. Nasya adalah selebgram dengan 2juta followers. Dia sangat terkenal. Memiliki jutaan penggemar dari berbagai penjuru daerah.
__ADS_1