Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Siapa Pria Itu?


__ADS_3

Sementara itu, Nasya baru saja tiba di sebuah apartemen. Dia masuk ke apartemen itu sambil membanting tasnya ke atas sofa. Matanya mengindahkan sekeliling ruangan sambil mencari-cari objek yang ingin dia temui.


"Jordi …" Nasya berteriak cukup kencang.


"Jordi …" 


"Di mana kamu?" 


Napas perempuan itu naik turun tidak jelas menahan emosi yang sejak kemarin ia tahan-tahan. Dia lalu mengempaskan tubuhnya ke sofa.  Tak lama kemudian seorang laki-laki keluar dari arah dapur. Dia adalah terduga Jordi yang dicari-cari oleh Nasya sedari tadi.


"Ada apa? Kamu sudah Satu Minggu lebih tidak ke sini. Datang-datang langsung marah."


"Aku sangat kesal Jordi. Sangat kesal."


"Oh, jadi kalau kamu sudah kesal baru sudi nyariin aku. Enak sekali ya. Memangnya aku pria apaan yang hanya didatangi saat kamu butuh?" ketusnya dengan kalimat penuh sindiran.


"Jangan membuat aku tambah kesal Jordi. Aku sedang emosi berat karena Ana kembali muncul ke permukaan. Sekarang dia tinggal di rumah kami dengan status kekasih Adam. Bisa kamu bayangkan betapa kesalnya aku?"


"Maksudmu Ana yang dulu pernah menjadi sahabatmu? Yang pernah kamu tolong saat di hutan dulu?" Jordi mengerjapkan matanya kaget.


"Ya iyalah, siapa lagi kalau bukan dia? Sejak Ana datang Naki jadi berubah. Dia sering memusatkan perhatiannya pada anak itu."


"Jadi kamu cemburu? Cih, katanya tidak punya perasaan apa-apa pada monster bertubuh besar itu. Pantas kamu tidak datang satu Minggu lebih. Sialan, lama-kelamaan kamu semakin lupa padaku, Nasya." Jordi menggeram.


"Hei, ayolah Jordi! Berpikir yang matang. Siapa yang cemburu? Aku cuma tidak mau Naki berpaling dariku. Ana itu terlalu berbahaya. Aku takut dia menyadari selama ini kalau aku hanya memperdaya Naki. Lalu dia akan mempengaruhi otak Naki supaya berpaling dariku. Dia ancaman bagiku!" pungkasnya.


Jordi melengos tidak peduli. Nasya kemudian berpindah tempat, tepatnya ke pangkuan Jordi yang sejak tadi terbuka lebar.


"Buka matamu lebar-lebar. Aku melakukan semua ini untuk siapa kalau bukan untuk kamu dan kehidupan kita?" Dia menunduk, mencium leher Jordi dengan gerakan buas.


Jordi mendorong pelan wajah Nasya. "Mau sampai kapan seperti itu? Kemewahan saja tak akan berarti apa-apa kalau kamu tidak ada di sampingku Nasya. Apa kamu tidak merasa kalau yang di bawah sana sudah nyaris karatan karena terlalu lama merindukanmu."


"Biar aku sembuhkan, tapi setelah ini kamu harus mendengarkan curhatan hatiku," ucap Nasya. Kali ini tangannya bergerak liar. Dia memajukan bibirnya hingga terjadilah adegan sedot menyedot.


Tak perlu menceritakan sedetail apa percuumbuan mereka hari ini. Yang jelas ruang tamu serta kamar menjadi saksi bisu dua manusia yang sedang mencapai puncak bersama-sama itu. Keduanya terengah-engah secara bersamaan.


Di atas kasur yang empuk, Naki dan Nasya saling berpelukan dengan selimut yang menutupi tubuh mereka hingga sebatas dada.


"Jadi kamu mau aku melakukan apa untukmu?"


Mendengar itu Nasya tersenyum. 


Jordi adalah pacar Nasya sejak lima tahun silam. Tapi karena dia pengangguran, jadi hidupnya sangat bergantung sekali pada Nasya. Selama ini baik Nasya maupun Jordi selalu hidup dengan memanfaatkan harta kekayaan Naki.


Adam atau Kakek mungkin menyadari kalau Nasya selalu menghabiskan uang. Namun kekayaan mereka yang tidak habisnya, serta balas budi karena Nasya berhasil membawakan Naki ke kediaman buranaphan, mereka sungkan untuk membuat perhitungan. Terlebih semua orang tahu kalau Naki sangat memanjakan Nasya.


"Aku mau kamu memberi dia pelajaran. Buat kakinya patah, atau lumpuh sekalian bila perlu. Aku sudah bener-bener gedeg sama dia. Sejak datang sampai sekarang dia selalu mengusik kenyamananku."


"Wah, ternyata kamu mengerikan sekali. Bukankah dia adalah sahabatmu." Jordi menatap Nasya dengan nada meledek.


"Soal uang tidak ada yang namanya sahabat. Dia telah mengganggu tambang emasku, jadi mau tidak mau aku harus menyingkirkan benalu itu sebelum sempat menyentuh ladang emasku," ucap Nasya. Mata sangat berapi-api sekali. Ada tatapan membunuh di dalam sana, dan itu membuat Jordi tersenyum melihat semangat jahat Nasya semakin membara. Dia bisa memanfaatkan kekesalan Nasya untuk kepentingan pribadinya.


"Melakukan hal seperti itu gampang untukku! Tapi aku ingin ganti mobil baru. Mobil yang aku pakai sudah ketinggalan jaman."


"Jordi?"


"Hmm." 


"Kamu pikir ganti mobil semudah membalikan telapak tangan?" Nasya menatap tidak setuju. Keberadaannya sekarang sedang terancam. Dan jika dia terlalu banyak menghamburkan uang, bisa-bisa Naki curiga dan menyadari kejanggalan itu.


"Mobil baru atau tidak sama sekali," ucap Jordi tak peduli. Nasya berdecak, tapi beberapa saat kemudian perempuan itu menyetujui keinginan Jordi.


"Baiklah. Oke, aku turuti keinginan kamu. Tapi pastikan dua kaki Ana patah."


"Tenang saja. Beri aku waktu satu Minggu, aku pasti akan memastikan kaki anak itu patah," ujarnya. "Tapi aku mau mobilnya hari ini. Sekalian juga aku mau jalan-jalan. Kita sudah lama tidak melakukan itu," ucapnya.


"Baiklah." Nasya mengiyakan dengan suara lemah.

__ADS_1


Sebelum mereka keluar, keduanya kembali melakukan penyatuan bersama. Kurangnya pertemuan membuat mereka ingin melakukannya lagi dan lagi.


Apalagi Nasya hobi merawat diri. Rasanya Jordi benar-benar tidak sanggup melepaskan wanita bertubuh indah dan bohay itu.


***


Setelah itu Nasya dan Adam keluar dari apartemen. Dia menuju sebuah showroom yang berisi mobil-mobil mewah. Mereka tidak menyadari kalau sejak tadi ada seorang mata-mata yang memperhatikannya.


Mata-mata itu adalah orang suruhan Adam. Sudah lama dia membuntuti Nasya. Mungkin ada setengah tahun Adam terus melakukan hal seperti itu.


Sebelum minta tolong pada Ana, Adam juga pernah menyerahkan bukti-bukti perselingkuhan Jordi dan Nasya. Tapi Naki tidak percaya. Entah cara apa yang Nasya gunakan, yang jelas hubungan mereka kembali membaik seperti semula.


Naki justru menyalahkan Adam yang katanya suka ikut campur. Dia juga berkata, dia tak senang jika ada orang yang berusaha merusak rumah tangganya. Lebih parah lagi dia menuduh Adam sengaja menjebak Nasya dengan pria yang ada di foto.


Adam sungguh tak tahu otak Naki diciptakan dari apa.


Itu sebabnya Adam membutuhkan Ana. Dia tidak suka dengan sikap Naki yang terlalu mudah diperdaya oleh cinta. Setidaknya dengan kehadiran Ana, pikiran Naki akan terpecah. Cepat atau lambat pasti Naki akan menyadari kalau Nasya bukanlah orang yang tepat.


"Aku mau yang ini." Jordi menunjuk sebuah mobil dengan harga 900 juta. Mulut Nasya langsung dibuat menganga seketika.


"Yang benar saja Jordi. Itu terlalu mahal. Naki bisa curiga kalau aku mengeluarkan uang sebanyak itu dari rekeningnya."


"Naki lagi Naki lagi. Apa di otakmu cuma ada dia?" Jordi menggeram kesal. Ia kemudian mendekat seraya berbisik.


"Mobil itu tidak sebanding dengan tugas yang kamu berikan padaku Nasya. Bagaimana jika aku ditangkap polisi?" 


Dua bahu Nasya sedikit bergetar. Benar juga yang dikatakan Jordi. Tugasnya kali ini cukup berat. Tapi ia sungguh ingin melihat Ana celaka.


"Baiklah, kalau begitu. Tapi pastikan kamu jangan membawa Namaku jika terjadi sesuatu padamu."


"Aku sangat mencintaimu, mana mungkin aku berani melakukan itu." Alis Jordi sedikit berkedip.


***


Sementara itu, Naki sangat terkejut mengetahui data pengeluaran dari rekeningnya berkurang sebanyak 900 juta. Hari ini Nasya tidak mau mengurus anak,  tapi malah menghabiskan uangnya dengan tidak tahu diri.


Tanpa basa-basi Naki langsung menghubungi Nasya setelah berhasil menidurkan Vanilla.


"Aku di rumah temanku. Sedang arisan berlian."


"Arisan berlian? Sejak kapan kamu ikutan seperti itu?" Dua alis Naki nyaris menyatu. Kali ini ia kesal pada Nasya yang hobi menghamburkan uang tanpa bilang-bilang. Uang 900 juta memang cuma recehan, tapi sikap Nasya yang seperti ini sangat tidak Naki sukai.


"Sejak aku merasa kamu menyebalkan. Aku melakukan ini untuk mencari kesenanganku sendiri. Jadi jangan usik kesenanganku kalau kamu tidak bisa mengusir Ana."


Dari balik sana Nasya menutup panggilan itu. 


Lagi-lagi Naki hanya bisa bersabar dengan sikap Nasya yang begitu. Tapi, bukankah kesabaran manusia ada batasnya.


Naki tidak tahu sampai kapan ia akan bertahan. Hatinya sedikit goyah mengingat ocehan Ana tadi pagi. Apalagi saat melihat Vanilla yang anteng di gendongan perempuan itu, rasanya hati Naki seperti disentuh besi panas. 


Lelaki itu kemudian keluar kamar. Dia berniat mencari Kakeknya untuk membicarakan soal Ana. Sang Kakek sedang sibuk membaca buku saat Naki membuka ruang kerjanya.


"Kakek, aku mau bicara."


Sang Kakek langsung meletakkan bukunya. Ia memusatkan perhatiannya pada Naki.


"Bicaralah, Naki." Lelaki bernama lengkap Morgan Sebastian itu mendekat. Dia duduk di hadapan sang Kakek.


"Aku tidak suka dengan kehadiran Ana," ucap Naki tanpa basa-basi.


"Memangnya kenapa, dia anak yang sangat baik," ujar si Kakek.


"Memangnya Kakek tidak tahu kalau Ana adalah mantanku."


"Lalu?" Sebelah alis Kakek Buranaphan meninggi satu. "Apa hubungannya jika dia adalah bekas kekasihmu? Bukannya sekarang kamu sudah punya istri yang sangat kamu cintai?" sindir si Kakek.


Naki membuang napasnya, kasar. "Aku merasa terusik."

__ADS_1


"Loh, kenapa? Apa kamu masih ada perasaan sama dia?" 


Pertanyaan si Kakek berhasil membuat Naki spontan terdiam. Lelaki itu dibuat mati kutu dengan tatapan curiga si Kakek.


"Benar masih ada rasa? Wahh?"


"Bu … bukan begitu, Kek." Naki menjawab dengan terbata-bata. "Aku hanya tidak suka dengan gaya pacaran Adam dan Ana. Apa Kakek tahu, mereka bahkan tidur bersama tadi malam?"


Naki bercerita dengan nada yang terlihat cemburu. Sebisa mungkin Kakek Buranaphan mencoba untuk menahan tawanya. Untung sebelumnya Adam sudah cerita semua soal rencananya yang satu ini.


Lelaki bertubuh besar tinggi itu menatap Kakeknya lebih intens lagi.


"Mereka belum menikah Kek. Kalau terjadi sesuatu bagaimana? Memangnya Kakek tidak malu kalau Adam menghamili anak gadis orang duluan."


"Aku yakin Adam tidak begitu. Lagi pula jaman sekarang banyak pengaman. Andai mereka melakukannya, pasti keduanya sudah memikirkan cara sendiri untuk tidak mempermalukan keluarga ini," ucap Kakek dengan entengnya.


Kepala Naki memanas seketika. Membayangkan Adam dan Ana sedang begituan di kamar sebelah, rasanya ia benci sekali. Naki juga tidak tahu kenapa itu bisa terjadi.


"Kakek benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya Kakek membela yang salah," sungutnya.


"Kakek hanya tidak mau berdebat untuk hal-hal yang dilakukan anak muda. Tapi kalau kamu khawatir, nanti Kakek akan suruh Adam cepat-cepat menikahi Ana. Menurutmu bagaimana?"


Sontak Naki membulatkan matanya lebar-lebar. Entah kenapa matanya menggelap dalam sepersekian detik.


"Bagaimana Naki? Apa kamu setuju?" Kakek Buranaphan sampai bertanya untuk kesekian kali. Tapi Naki masih terlarut dalam lamunannya.


"Terserah Kakek saja." Beberapa saat kemudian Naki menjawab. Kakek Buranaphan tersenyum. 


"Bagus kalau kamu setuju. Nanti Kakek akan membicarakan ini pada Ana dan Adam. Benar yang kamu pikirkan. Menikah lebih cepat lebih baik supaya tidak menimbulkan fitnah," ujar si Kakek.


Tanpa memperdulikan Kakek Buranaphan, Naki keluar dari ruangan itu. Dua tangannya yang mengepal kuat membuat Kakek tak tahan lagi menahan tawa.


"Cucuku yang satu ini benar-benar menggemaskan. Apakah aku harus ikut campur supaya masalah di keluarga ini cepat kelar? Rasanya aku tidak sanggup jika harus menunggu pergerakan Adam dan Ana," batin Kakek. Dia kembali membuka buku. Si Kakek membaca sebuah novel terbaik karya Anarita yang berjudul:


Bukan Darah Perawan.


Novel itu sangat bagus, memacu adrenalin, dan membuat jiwa kakek menjadi muda kembali.


***


Setelah melakukan transaksi mobil. Nasya dan Jordi berniat untuk pulang ke apartemen.


Mereka baru hendak membuka mobil saat Jordi menyadari ada orang yang sejak tadi mengikuti mereka. Orang itu juga terlihat mengambil gambar kebersamaannya dengan Nasya.


"Jordi mau ke mana?" Nasya berteriak saat melihat Jordi berlari secara tiba-tiba. Lelaki itu terus memburu orang berjaket hitam yang berlari menghindarinya. 


"Hei, berhenti! Mau kemana kau!" Jordi semakin mempercepat larinya. Dia berhasil menarik jaket lelaki itu hingga terjadi baku hantam. 


Kamera lelaki itu terjatuh dan berhasil diamankan oleh Jordi. Tapi dia berhasil kabur setelah membuat Jordi terjungkal ke belakang. 


"Sial, orang itu ternyata pintar bela diri juga." 


Jordi menggeram kesakitan. Dia terluka pada bagian sikunya. Namun beruntungnya ia mendapatkan apa yang ia mau. 


Dia kembali ke mobil. Di sana Nasya sudah menunggu dengan wajah cemas.


"Apa yang terjadi Jordi? Orang itu siapa?"


"Ayo masuk dulu. Sepertinya dia mata-mata. Mereka berdua langsung masuk ke mobil. Terlihat pipi Jordi mengeluarkan darah. Nasya segera mengambil tisu basah lalu menyekanya dengan hati-hati.


Jordi kemudian memberikan kamera itu pada Nasya. " Coba kau periksa. Sepertinya dia memata-matai kita sejak tadi."


Nasya pun segera membuka kamera tersebut. Dia terkejut bukan main saat kebersamaannya dengan Jordi terekspos di kamera tersebut. Si licik itu bahkan sempat mengambil beberapa sudut foto yang memperlihatkan seolah-seolah mereka sedang bermesraan.


"Sial, sepertinya Adam berulah lagi. Sudah aku tebak, kehadiran Ana di rumah itu memang sengaja dijadikan pengacau untuk menggoyahkan perasaan Naki."


"Apa kau mau aku membuat pelajaran untuk Adam juga?" tanya Jordi terlihat bersemangat.

__ADS_1


Nasya menggeleng cepat. "Jangan, aku masih bisa mengatasi Adam karena Naki sangat membenci saudara tirinya itu. Tapi kalau Ana aku tidak yakin, itu sebabnya aku butuh kamu."


Jordi pun mengangguk. Mereka melajukan mobilnya kembali.


__ADS_2