
Menjelang waktu tidur, Naki merasa ada yang lain dari perasaanya. Ia terus memikirkan ciuman menjijikan yang tejadi di antara mereka, dan secara tidak sengaja hal itu membuat Naki gelisah tak menentu.
"Naki ... Apa kamu baik-baik saja?" Ana membalikkan tubuhnya ke arah Naki. Sejak tadi lelaki itu bertingkah sangat aneh. Gulang-guling tidak jelas. Bahkan enggan memeluk Ana seperti biasa.
"Aku ... Aku tidak bisa tidur Ana."
"Kenapa? Apa kamu sakit?" Ana menempelkan tangannya di dahi lelaki itu, dan itu membuat Naki panas dingin tidak karuan. Buru-buru Naki menyingkirkan tangan Ana sebelum jantungnya melompat keluar.
"Kenapa Naki?" Lelaki itu makin menjauh. Setiap kali Ana mendekat tubuhnya bereaksi aneh. Dan itu benar-benar tidak nyaman untuk dirinya.
"Sebenarnya aku masih kepikiran ciuman itu, Ana. Entah kenapa sejak kita ciuman aku merasa ada yang beda dalam diriku."
"Maksudnya terbayang-bayang ciuman itu?" tanya Ana memastikan.
Lelaki itu mengangguk dengan polosnya. Ia menunjuk dada bagian kiri dengan jari telunjuk. "Bagian sini. Dia terus berdetak tidak teratur. Dan hal ini sangat mengganggu."
Naki kemudian menunjuk bagian kepalanya. "Bagian kepala ini juga sangat aneh. Dia selalu berdenyut setiap kali aku terbayang wajahmu."
"Pufttt!" Ana menahan tawa dengan satu tangan. Sepertinya perasaan cinta itu mulai tumbuh, pikirnya.
"Itu adalah reaksi alamiah dari tubuhmu jika sedang jatuh cinta. Selamat Naki, perlahan kamu sudah mulai menjadi manusia normal."
"Benarkah itu?"
__ADS_1
"Hmmm."
Anggukan kepala Ana tak lantas membuat lelaki itu tenang. Ia justru merasa heran kenapa jatuh cinta membuat dirinya tidak nyaman. Bukankah jatuh cinta itu menyenangkan. Lalu kenapa Naki malah seperti ini?
"Tapi kenapa rasanya seperti ini Ana? Bukannya jatuh cinta itu membahagiakan?"
"Jatuh cinta tidak selamanya membahagiakan. Ada kalanya kamu tertawa, sedih, dan gelisah seperti saat ini."
Gadis itu kemudian mendekati Naki secara perlahan. Ia peluk dan ia elus rambutnya penuh kasih sayang.
"Coba kamu pejamkan mata. Siapa tahu hati kamu sedikit tenang."
Naki berusaha menurut. Ia peluk tubuh Ana sambil berusaha memejamkan matanya. Sejenak lelaki itu tak bereaksi seperti sedang menikmati.
"Sedikit," lirih Naki.
"Kalau begitu pejamkan matamu terus, Naki! Rasakan dan nikmati setiap kebersamaan ini."
"Apa kamu juga melakukan itu?"
"Hmmm." Ana menganggukan kepalanya ringan. Ia peluk tubuh itu seerat mungkin. "Peluklah aku, dan bayangkan bahwa kita tidak akan pisah selamanya.
_
__ADS_1
_
_
Esok harinya, Ana dibuat terkejut saat menyadari Naki tak tidur di sampingnya. Ia melihat Naki sedang duduk di pojokan dengan posisi menghadap ke tembok.
Apa yang terjadi?
Perasaan semalam mereka sudah baikan, batin Ana. Buru-buru gadis itu menghampiri Naki yang sedang termenung sambil menunduk.
"Naki ...."
Dia tak menjawab.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Naki masih saja tidak menjawab. Pandangannya menunduk sedih. Dan itu jelas membuat Ana khawatir saat melihatnya.
Gadis itu berusaha memutar otaknya. Ia mengingat-ingat apakah semalam melakukan kesalahan tidak disengaja hingga membuat hati pria polos itu terluka. Namun, sepertinya ia tidak melakukan apa-apa.
"Sepertinya aku tahu apa yang membuat aku gelisah dan kesulitan tidur di dekatmu," ucap Naki tiba-tiba. Lebih tiba-tiba lagi dia menarik tangan Ana. Dengan polosnya Naki memaksa Ana untuk menyentuh pedang kegelapan miliknya.
"Lihatlah, dia langsung bangun saat kamu menyentunya!"
__ADS_1