Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Seperti Bocah TK


__ADS_3

"Melakukan apa Naki?"


Gadis itu meninggikan nada suaranya. Naki agak bergeser takut. Ana ini kalau marah memang mirip macan lapar kena stunting, jadi wajarlah, jika Naki selalu ketakutan setiap saat.


"Melakukan hal yang waktu itu pernah kamu lakukan padaku. Tapi aku tidak tau namanya. Itu sangat menyenangkan," ujar anak itu.


Ana berpikir sejenak. Perasaan dia tidak pernah mengajari Naki hal-hal aneh. Lalu apa yang dimaksud pria itu?


"Coba kamu kasih tunjuk ke aku, aku udah lupa soalnya."


Naki kemudian mengepangkan kedua tangan. Dia kemudian merengkuh tubuh polos Ana dan memeluknya dengan erat.


"Aku ingin melakukan hal ini. Rasanya sangat menenangkan dan damai," ujar Naki.


Di saat Naki berkata seperti itu. Benda yang sudah karatan di bawah sana mulai memberontak. Naki tidak paham kenapa dia begitu. Yang jelas Naki merasa aman saat memeluk Ana.


"Oh itu. Itu namanya pelukan Naki. Pria dewasa sepertimu memang sudah sepantasnya mendapatkan pelukan dari wanita. Keinginan seperti itu wajar. Tapi--"


"Tapi apa Ana?" Naki menunggu jawaban Ana dengan sorot mata tidak sabaran.

__ADS_1


Ana sebenarnya merasa takut saat menjelaskan hal-hal aneh kepada Naki. Dia tidak mau mengotori otak Naki yang polos. Tapi pria itu tidak akan berhenti bertanya kalau belum dijawab.


"Tapi kamu hanya bisa mendapat pelukan itu dari orang yang kamu sukai saja." Ana mendorong dada Naki perlahan. Tatapan mereka sekarang saling bertemu satu sama lain.


"Ah, begitu!" Naki mengangguk paham. Sedetik kemudian ekspresi lelaki polos itu berubah sumringah. "Berarti aku boleh mendapatkan pelukan itu darimu?"


"Eh, kok aku?" Ana merasa tak paham. Dan dengan polosnya lelaki itu menjawab.


"Karena aku menyukaimu, jadi aku boleh memelukmu. Begitu bukan?"


"Eh, kok malah jadi gini?" Ana bergumam sambil mencubit ginjalnya sendiri.


Sekarang Ana jadi kewalahan menghadapi pertumbuhan otak Naki yang berkembang pesat. Salah-salah kata sedikit saja Ana bisa terjebak di dalamnya.


Contohnya saat ini. Ana jadi bingung harus menjawab apa. Kalau dia menjawab yang sebenarnya pasti Naki akan kecewa.


Tetapi rasa suka memang tidak semudah yang diucapkan Naki. Mungkin Naki bisa bisa saja langsung menyukai Ana karena hanya gadis itulah satu-satunya perempuan yang Naki temui. Namun, tidak dengan Ana yang otaknya suka ke mana-mana. Naki jelas bukan tipenya.


Ana hanya menyukai pria tampan normal seperti member BTS, EXO, Brigh, dan terakhir Tuan takur yang jadi bapaknya Tapasya.

__ADS_1


Naki sama sekali belum ada dalam daftar pria yang disukai Ana meski perempuan itu sempat berpikir ingin membuat anak yang banyak dengan si Naki.


Setelah di pikir-pikir sepertinya anunya Naki tidak akan muat masuk ke miliknya. Itu menjadi salah satu faktor utama. Faktor lainnya Naki terlalu polos seperti bocah TK. Dan yang kesekian Naki jelek menurut Ana.


"Suka kepada manusia tidak begitu juga konsepnya Naki. Kita berdua harus sama-samacsaling menyukai agar bisa melakukan pelukan dengan leluasa."


"Aku paham Ana. Tapi memangnya tidak bisakah kamu menyukai aku seperti aku menyukaimu juga?"


Duarrr ....


Bagai disambar petir, Ana melongo sejenak. "Naki ... Sepertinya pelajaran yang aku berikan kepadamu terlalu kecepetan. Kamu jadi makin pandai, aku bingung!"


"Maaf Ana. Tapi aku memang sangat berharap kamu bisa menyukaiku. Setiap hari aku selalu berusaha membuatmu senang, itu karena aku ingin kamu menyukaiku!"


"Aku juga minta maaf Naki. Tapi aku tidak bisa menyukaimu," ujar perempuan itu.


Dalam sepersekian detik wajah Naki berubah kecewa. Ana merasa tidak tega, tapi ia tidak mau membohongi pria polos itu. Apalagi memberi harapan yang terlalu berlebihan.


Dia harus berani mengatakan kebenaran yang tengah ia rasakan saat ini.

__ADS_1


__ADS_2