
Masalah Naki dan Kakek Buranaphan sudah clear. Sekarang, lelaki itu sudah kembali ke kediaman Buranaphan tanpa paksaan.
Dalam satu bulan ini Naki belajar banyak hal. Terutama soal kehidupan manusia.
Karena sejatinya Naki sangat pintar, dia tidak membutuhkan waktu lama untuk mempelajari materi yang diberikan guru khusus. Dalam satu bulan pikiran Naki sudah layak disamakan dengan pikiran manusia normal.
"Naki, ada yang mau aku bicarakan denganmu." Nasya tiba-tiba datang menghampiri Naki saat sedang membaca buku di area taman.
Lelaki itu menoleh tepat saat Nasya duduk di sampingnya.
"Naki sebentar lagi kita akan bertunangan, tapi sepertinya ada yang tidak terima mendengarmu akan bertunangan denganku."
"Memangnya siapa?" tanya Naki penasaran.
Nasya sengaja diam sejenak supaya Naki makin penasaran.
Sebenarnya hari ini Nasya berniat membereskan soal Ana. Karena gadis itu terus memaksa untuk bertemu Naki, akhirnya mau tak mau Nasya akan mempertemukan mereka berdua.
Namun, sebelum itu Nasya ingin mengatur siasat dulu supaya Naki tidak berpihak kepada Ana.
"Jadi begini Naki ... Setelah Ana mencampakanmu, sekarang dia kembali mencariku. Dia bilang dia ingin sekali menemuimu. Lalu aku bilang kalau aku akan minta izin dulu padamu. Jika kau tidak mau, maka aku tidak akan memaksa," jelas Nasya.
Alis Naki mengkerut nyaris menyatu. Dia sedikit heran dan bingung dengan penjelasan Nasya.
"Mau apa dia bertemu denganku? Bukannya dia sendiri yang awalnya tidak mau menemuiku, kok sekarang jadi berubah pikiran?" tanya Naki.
__ADS_1
Di titik ini Nasya makin gencar mencuci otak Naki. Dia terus berpikir bagaimana caranya Naki membenci Ana sampai tak ada kesempatan untuk mereka kembali.
"Dia mau menemuimu karena harta Naki! Kalau tebakanku dia sudah tahu kalau kamu adalah orang kaya."
"Hmmm. Sudah aku tebak. Dia pasti akan datang kepadaku seperti yang ada di adegan drama itu," ujar Naki percaya dengan kata-kata Nasya begitu saja.
"Iya Naki! Lalu bagaimana? Kalau menurutku sebaiknya kamu temui saja dia. Tapi jangan sampai kamu kepancing sama rayuannya."
"Rayuan?"
"Iya Naki. Dia pasti akan merayu dan membohongimu dengan berbagai cara. Makannya kalau bisa kamu jangan sampai kemakan omongannya."
"Tenang saja Nasya. Sekarang aku sudah jauh lebih pintar, aku pasti tidak akan mempan di bohongi."
"Aku harap begitu, Naki."
Drama pun dimulai ....
Nasya mendongakkan kepalanya. Dia tatap wajah Naki dengan air mata yang sudah berderaian.
"Aku takut kehilanganmu Naki. Aku harap pertemuanmu dengan Ana tidak akan membuat aku sakit hati."
"Jangan menangis, aku janji tidak akan tergoda oleh tipu muslihat Ana lagi, Nasya. Aku juga takut kehilanganmu. Untuk saat ini hanya kamu yang aku cintai, jadi kamu tidak perlu khawatir."
Keduanya berpelukan kembali. Dalam diam Nasya tersenyum licik.
__ADS_1
"Dasar lelaki bodoh! Bisa-bisanya dia percaya dengan air mata palsuku ini," batin Nasya.
_
_
_
Di sebuah restaurant privasi yang sudah disiapkan oleh Nasya, Ana duduk sambil menunggu kedatangan Naki. Dia sudah tidak sabar ingin memeluk lelaki itu seperti biasanya.
"Selamat siang, Bestiee!" Suara perempuan yang tidak asing di telinga Ana membuat gadis itu menoleh ke ambang pintu.
Ana mengernyit saat melihat Nasya ikut masuk ke ruangan itu dengan Naki. Tapi Ana berusaha tidak peduli.
Dia langsung berlari dan memeluk Naki sekencang mungkin.
"Akhirnya aku bisa ketemu sama kamu Naki!"
Rasa haru tak tertahankan lagi. Aroma tubuh Naki masih sama meski sekarang sudah tercampur bau parfum mewah.
Perempuan itu kemudian melepas pelukan. Ia perhatikan setiap inci tubuh Naki yang sudah banyak sekali mengalami perubahan.
"Kau semakin tampan Naki!" Ana menangkap wajah Naki dengan dua tangannya. Sorot mata gadis itu dipenuhi binar kebahagiaan. Namun, tiba-tiba Naki mendorong tubuh Ana dengan gerakan kasar.
"Jangan sentuh aku!"
__ADS_1
Bentakan itu spontan membuat Ana terkejut. Bersamaan dengan itu sudut hatinya terasa ngilu.
"Ada apa Naki? Kenapa kamu jadi begitu?" ucap Ana dipenuhi tanda tanya.