
***
Esok paginya. Matahari sudah bertengger cantik di ufuk timur. Siap menyambut aktifitas Ana yang katanya mau membuat sinyal SOS. Ana mulai terbangun, matanya mengerjap pelan karena terkena pantulan sinar mentari pagi.
"Aaaaaa ... Dasar meesum, sialan! Ngapain kamu tidur di samping aku?"
"Hei ... Hei ... Pergi kau! Pergi....."
Ana menjerit sekencang-kencangnya saat melihat Naki tengah tidur tepat berhadapan dengannya. Ia langsung memukul-mukul tubuh keras Naki dengan kedua tangannya. "Apa yang kamu lakukan?"
Gadis ketakutan itu segera bangun sambil menutupi kedua badannya. Ia melirik baju hoodie bergambar spongebob yang masih rapi seperti semula. Hanya sedikit kotor, yang artinya Naki tidak melakukan apa pun terhadap gadis itu.
"Kamu kenapa berteriak Ana? Ini masih pagi." Tentunya Naki kebingungan melihat Ana seperti orang kesurupan di pagi hari dan sampai memukul-mukulnya.
"Kamu tidur di sampingku. Bagaimana aku tidak kaget?"
Dengan polosnya Naki menjawab,
__ADS_1
"Semalam kamu tidur di samping batu, jika saya membiarkan kamu tidur di luar sampai pagi, kamu bisa dimangsa oleh kawanan serigala liar. Memangnya salah ya kalau di bawa masuk. Saya benar-benar tidak paham dengan manusia aneh satu ini?" gumam Naki.
"Dibawa masuk si dibawa masuk, Naki!Ya tapi ngga tidur bareng gini juga dong, Kampret! Dempet-dempetan pula," gerutu Ana.
Ana berbicara dengan gaya santai yang lagi-lagi membuat Naki tidak maksud artinya apa. Pria itu hanya terpaku diam sambil menetralkan pikirannya.
"Saya tidak mengerti. Saya selalu mencoba berbuat baik kepadamu, tapi kamu selalu memarahi saya. Memangnya salah saya apa?" Dengan polosnya Naki bertanya.
"Aish! Susah ya ngomong sama manusia hutan." Ana mengacak-acak rambutnya kesal. Naki hanya bergeming, tertegun dengan sorot mata setengah belum paham.
Baru saja berhasil menetralkan pikirannya, tiba-tiba Ana dikejutkan oleh benda tumpul yang bergerak liar di bawah panggalkal paha Naki.
Ah, sialan! Kenapa aku harus melihat ke arah situ lagi sih?"
Naki tertunduk dalam sambil menutupi miliknya dengan kedua tangan. "Maaf ... saya juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Dari semalam sudah begini, setiap berdekatan dengan kamu dia jadi memberontak. Biasanya tidak pernah, kok."
"Ugh, sial!" Ana menggigit kepalan tangan saking geregetannya.
__ADS_1
Naki benar-benar pria polosan no debat. Andai ada internet di hutan ini, ingin rasanya Ana mengajak Naki nonton video porno bersama-sama agar ia paham tentang kromosom x yang terkandung dalam dirinya.
"Itu namanya Sang—" Ana menghentikan bicaranya sambil menutup mulut. Tidak baik mengotori otak polos manusia. Jangan lakukan itu Ana. Sugesti gadis itu segera menyadarkan sebisa mungkin.
"Sang apa?" tanya Naki menunggu kelanjutannya dengan seksama. Ia tampak cuek, walau anunya masih memberontak di bawa sana.
Sangat menyebalkan dan membuat Ana ingin lari lantaran takut khilaf.
"Pisang ... Aku mau makan pisang! Aku lapar," seloroh Ana jadi malu sendiri.
Anjim banget ini manusia emang! Pasti seumur hidup belum pernah ngerasain main solo pake mentega, deh.
"Kenapa wajahmu merah?" tanya Naki lagi. Ia sudah hampir menyentuh tapi tidak berani takut dipukul Ana.
"Tidak-tidak! It's okey, Naki. Aku pasti bisa melalui semua ini." Ana mengalihkan pandangannya dari benda menonjol yang mengganggu mata tersebut.
Duh, kenapa harus diingatkan segala sih. Sebagai wanita cerdas Ana 'kan jadi malu. Ini lagi Naki, kenapa pula dia bisa sesantai itu sementara warung sembakonya kelihatan sampai membuat Ana keringatan.
__ADS_1
Ya Tuhan, kenapa sih otakku salah server mulu. Jadi mikirin pedang kegelapan lagi, 'kan?
Siapa yang tidak gila coba? Kalo pagi-pagi begini sudah disuguhi sarapan rudal Afrika! Batinnya.