Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Menggema


__ADS_3

Ana sudah mengemasi barang-barang yang akan ia bawa. Dia bersiap pergi mengadu nasibnya di keluarga Buranaphan. Apa pun yang terjadi nanti, Ana akan berusaha kuat demi membalas budi.


Mungkin bisa dibilang hutang nyawa harus dibayar nyawa.


"Apakah Kakek Anda tidak akan marah jika aku tinggal di sana?" Pertanyaan itu lolos dari bibir Ana. Ia hampir lupa kalau di rumah itu masih ada sosok kakek.


"Justru Kakek adalah orang pertama yang mendukung. Dia merasa bersalah karena membiarkan cucunya menikah dengan orang yang salah. Oh ya, di sana juga nanti kamu tidak hanya akan menjadi pacarku saja. Tak tik yang kita mainkan adalah, kau datang ke sana untuk membantu merawat kakekku."


"Ah, jadi intinya aku berperan sebagai perawat pribadi?"


"Iya. Perawat pribadi sekaligus pacarku. Tapi kegiatan menjadi perawat hanyalah tameng saja. Kau bebas melakukan apa pun yang kamu inginkan," ujar Adam. Ana mengangguk-angguk paham.


"Pokoknya kamu tidak perlu sungkan. Santai saja jika Nasya atau Naki membuatmu tidak betah. Kita akan mendukungmu dari belakang," ujarnya lagi.


"Oh gitu." Bibir gadis itu membentuk huruf O. Ada banyak sekali hal yang Adam bicarakan kepada Ana secara pribadi sebelum mereka berangkat. Semua itu dilakukan supaya mereka tidak terkesan berbohong saat memulai sandiwaranya nanti.


Di rumah juga Adam sudah woro-woro bahwa dia akan membawa pacarnya untuk pulang. Adam mengumumkan mulai saat ini pacarnya akan membantu merawat sang Kakek.


Tibalah acara perpisahan. Ana memandang sendu kedua orang tuanya yang tampak tidak rela melepas anaknya pergi.


Ya Tuhan!


Untuk kali pertamanya Ana melihat wajah sang Ayah terlihat sedih sekali. Hampir seluruh hidupnya ia habiskan bersama orang tua. Ana nyaris tidak pernah tinggal di luar kecuali saat ia tersesat di hutan kala itu. Sejak kecil Ana selalu tinggal bersama orang tuanya. Dan sekarang, mereka harus dipisahkan karena faktor balas budi. Emmm, dan mungkin ada sedikit faktor cinta juga.

__ADS_1


"Kenapa kalian nangis. Bukannya ini mau kalian?" sungut Ana.


Cih! Meskipun merasakan kesedihan yang sama Ana tidak mau memperlihatkan itu ke hadapan mereka.


"Orang tua mana yang tidak sedih melihat anaknya akan pergi."


"Ini mau kalian!" Sambil melipat tangannya di depan dada.


"Ya sudah aku pamit dulu. Lanjutkan acara tangis-tangisan itu berdua saja," ujarnya malas.


Ana begitu bukan karena kesal terhadap orang tua. Dia hanya tidak mau ikut menangis kalau terlalu lama berhadapan dengan mereka.


-


-


-


Tes.


Air mata gadis itu menetes seketika. Akhirnya cairan bening yang sejak tadi ditahan-tahan mulai tumpah perlahan membasahi pipinya yang cabi.


Sekarang Adam mengerti kenapa Ana buru-buru naik mobil. Ternyata gadis itu sedang berusaha menyembunyikan perasaan sedihnya dari Ayah dan Ibu.

__ADS_1


"Sudahlah jangan menangis. Kamu masih boleh mendatangi mereka kapan pun kamu mau. Aku tidak akan melarangmu." Adam berusaha menghibur walau kalimatnya mungkin tidak bisa merubah suasana hati Ana.


"Oh ya, apakah kamu mau tau fakta tertentu?"


"Fakta apa?" Alis Ana mengernyit. Dia langsung menoleh secepat jarum detik.


"Aku sudah memindahkan pekerjaanmu dari perawat rumah sakit ke perawat pribadi. Maaf, tadi aku lupa bilang ke kamu."


"Hah, jadi sekarang aku bukan karyawan di sana lagi?"


"Masih kok. Anggap saja kamu sedang bekerja di luar area rumah sakit," ujar Adam. Ana terlihat membuang mukanya kesal.


"Harusnya masalah seperti ini kamu bicarakan dulu padaku. Bukan malah memutuskan seorang diri."


"Maaf. Aku hanya tidak ingin kamu banyak urusan. Jangan marah oke, nanti aku berikan fakta berikutnya," ucap Adam coba merayu.


"Apa lagi? Kalau tidak menarik aku tidak mau," tolak Ana cepat.


"Ini sangat menarik. Pasti kamu tidak menyangka bahwa Naki pernah meminta asistennya untuk mencarikanmu pekerjaan. Sebenarnya kamu bisa kerja di rumah sakit ternama itu karena bantuan Naki."


"Hah? Om yakin? Sebelah alis Ana meninggi.


" Untuk apa aku bohong. Naki diam-diam membantumu supaya kamu tidak jadi pengangguran. Tapi setelah kamu bekerja, dia memilih fokus ke keluarga termasuk merawat anaknya. Dia membantumu hanya sampai sebatas kamu dapat pekerjaan."

__ADS_1


Mendengar itu, suasana hati Ana terasa berbeda. Seperti ada perasaan tidak rela yang menggema di mana-mana. Lebih jelasnya lagi Ana merasa cemburu.


__ADS_2