
*
*
Istri matamu! kau saja tidak ada di sampingku saat aku bangun, batin Ana.
"Waduh, sepertinya ada kesalahan teknis. Tadi kami sudah melakukan beberapa pemeriksaan, dan kami sudah menyatakan tidak ada gangguan apa pun pada kepalanya, Pak. Istri Anda juga bisa menjawab semua pertanyaan kami dengan lancar," ucap si Dokter.
Naki menarik napas panjang. Mengenal watak Ana dari sejak tinggal si hutan membuat ia tahu harus mengambil langkah apa berikutnya.
"Bisa tinggalkan kami berdua dulu, Dok? Ada hal yang ingin saya bicarakan secara pribadi dengan istri saya," pinta Naki dengan nada memohon.
"Sebenarnya saya masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut mengenai anggota tubuh pasien. Saya kasih waktu Anda lima menit," ucap Dokter lantas mengajak semua perawat yang lian keluar.
Sekarang tinggallah Naki dan Ana berdua saja. Dari wajah cemberut Ana, bisa ditebak kalau perempuan itu menyimpan sebongkah pikiran negatif.
Naki pun mendekat. Ie kembali menggenggam satu tangan Ana sambil mengusap-usap puncak kepala gadis itu.
"Aku salah apa?" tanya lelaki itu nada lemah. "Aku tahu kamu tidak benar-benar amnesia. Jadi aku ingin tahu apa salahku hingga membuat kamu tak sudi lagi mengenaliku," ucap Naki kemudian.
Hal itu membuat Ana menoleh. Wajah Naki yang tak berdaya membuat Ana semakin merindukannya. Ia ingin sekali memeluk Naki, tapi rasa gengsi di dalam diri terlalu tinggi.
"Tidak salah, aku hanya ingin kamu pergi!"
"Kenapa begitu? Kenapa di saat tidak ada satu pun orang yang bisa memisahkan kita kamu malah ingin berpisah? kita sudah berjuang sejauh ini, Ana. Apa kamu lupa?"
"Yang lupa itu kamu! Selama aku koma kau pasti selalu bersama Nasya bukan?"
__ADS_1
"Ya Tuhan! kenapa kamu berpikiran seperti itu?" Naki menunjukkan reaksi terkejut. Terakhir ia bertemu Nasya adalah saat perempuan itu digrebek oleh polisi bersama selingkuhannya. Setelah itu ia tak pernah lagi bertemu Nasya.
Naki kemudian mengambil sebuah akta cerai yang menunjukkan bahwa dirinya dan Nasya sudah tidak lagi bersama.
Dia memang sengaja menyimpan itu di bawah nakas supaya bisa langsung menunjukkan pada Ana ketika gadis itu sadar.
"Aku sudah resmi bercerai dengan Nasya, An. Sekarang satu-satunya istriku cuma kamu. Aku juga sudah mendaftarkan pernikahan kita. Sekarang pernikahan kita sudah sah secara agama dan juga hukum," ucap Naki.
"Kamu bohong! Aku tahu kalau sebenarnya kamu tidak peduli padaku. Buktinya saat aku bangun kamu tidak ada. Apa kamu tau betapa takutnya aku saat bangun tadi? Tak ada satu pun orang di sampingku, dan aku benar-benar kebingungan," ucap Ana. Dia terisak, dan itu membuat Naki semakin merasa bersalah.
"Maafkan aku. Seharian ini aku tidak makan sama sekali. Jadi aku memang keluar sebentar. Aku juga selalu pamit kepadamu setiap kali keluar," ucap Naki.
Ana melipat tangannya di dada tanpa menjawab.
"Aku serius ... kalau kamu tidak percaya sekarang juga aku akan pergi ke ruang CCTV itu meminta rekaman selama tiga bulan di sini," ucap Naki.
"Aku akan menunjukkan semuanya. Termasuk saat aku dirawat di rumah sakit karena aku kelelahan. Selama dirawat aku tidur di sampingmu. Aku tidak membiarkan siapa pun menjagamu karena aku tidak percaya lagi pada orang lain," ucap Naki.
"Oh ya, jika masalah kesalmu adalah Nasya. sekadar memberi tahu saja, sekarang Nasya dan selingkuhannya itu sudah dipenjara. Aku sudah membereskan semua kasus tabrak larimu, dan tersangkanya adalah mereka berdua. Sekarang kita hanya punya 3 anggota di keluarga kecil kita. Eh, salah, maksudnya empat.
"Empat?" Ana menatap bingung.
Melihat reaksi Ana sudah lebih mendingan, Naki pun tak ragu untuk mendekat. "Iya, Empat. Aku, kamu, Vanilla, dan calon bayi kita yang ada di perutmu."
"Apa, bayi?"
Ana nyaris berpikir jelek. Apakah Naki nekat menidurinya di saat koma? Tapi pertanyaan itu segera ditepis oleh jawaban Naki berikutnya.
__ADS_1
"Kamu hamil 4 bulan. Ternyata saat kamu tertabrak kamu sedang mengandung anakku. Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu," lirih Naki.
Mata mereka berdua mulai berkaca-kaca. Hilang semua kesalahpahaman Ana, dan kini berganti tangis haru dari keduanya.
"Jangan minta maaf. Di sini aku yang salah karena sempat meragukan perasaanmu. Aku cuma takut kamu terpengaruh oleh hal-hal lain seperti dulu," ujarnya.
"Sekarang aku tidak akan terpengaruh oleh orang lain lagi, Ana. Sejak awal Tuhan sudah mengatur semuanya untuk kita. Pertemuan itu, pertemuan ini, semuanya adalah bukti bahwa kita memang sudah ditakdirkan bersama sejak awal.
Mendengar itu Ana tersenyum. "Aku mencintaimu Naki."
"Aku juga!" jawab Naki. Keduanya saling berpelukan satu sama lain.
"Ehem. waktu kalina habis."
Sontak Ana dan Naki langsung mengendurkan pelukan mereka.
"Tapi sepertinya anggota tubuh pasien sudah berfungsi normal. Lanjutnya lagi saja pelukannya."
Dokter itu meninggalkan ruangan Ana. Membuat Ana dan Naki sama-sama tertawa melihat rona merah pada pipi si dokter.
TAMAT
FOLLOW IG @anarita_be
untuk info kelanjutan, visual badannya Naki, atau novel lainnnya.
Terima kasih.
__ADS_1