Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Hari Pertunangan


__ADS_3

Entah apa maksud dan tujuan seorang Nasya, yang jelas saat Ana membuka sebuah undangan di tangannya, ia masih punya kesadaran penuh untuk tidak mengeluarkan air mata berharganya.


Ia baca selembar undangan pertunangan yang terbuat dari kertas sutra tersebut. Mata Ana membeliak sempurna melihat nama Nasya dan Naki bersatu dalam selembar kertas itu.


Saat itu juga Ana baru tahu kalau Naki memiliki nama panjang yang sangat bagus.


Morgan Sebastian El Buranaphan.


Nama yang panjang, dan tentunya punya kandungan arti yang baik di dalamnya.


"Apa sebenarnya rencana Nasya sampai ngirim undangan seperti ini ke aku? Apa dia sengaja ingin balas dendam karena aku tampar waktu itu?" gumam Ana.


Di sisi lain gadis itu tersenyum melihat nama keluarga besar Naki tertera di bawahnya. Ana memang tidak tahu persis seperti apa keluarga Buranaphan itu, tapi ia turut bahagia melihat Naki pada akhirnya bisa kembali pada keluarga.


"Aku akui kamu berperan besar dalam menyatukan Naki dan keluarganya, Sya. Tapi cara kamu ngerebut dia dari aku teramat salah. Kamu licik, dan aku yakin apa yang kamu dapatkan dengan cara tidak baik engga akan bisa bertahan lama. Kita liat saja apakah kamu berhasil naik ke pelaminan atau tidak," ucap Ana lagi. Kali ini ia tidak berguman.


Ana lalu melempar benda itu ke tempat sampah. Ia tidak berniat datang ke sana sama sekali.


"Loh, kenapa dibuang?" Ibu datang memungut benda sampah tersebut. "Kamu harus bisa buktikan ke mereka kalau kamu sudah move on Ana."


"Tapi, Bu."


"Kalau kamu tidak datang, itu artinya kamu mengaku kalah!" tukas Ibu lagi. "Kamu harus bisa buktiin ke mereka kalau kamu baik-baik aja liat semua ini. Itu baru putri ibu yang hebat," ujar perempuan paruh baya itu sambil menepuk pundak Ana.


Keraguan datang mendera-dera. Tapi apa salahnya jika ia ikuti saran dari sang Ibu.


Apakah sebaiknya aku datang saja?

__ADS_1


Maka di sinilah Ana sekarang. Perempuan itu berkaca-kaca saat melihat Naki menggandeng Nasya dengan begitu mesra.


"Seharusnya aku emang gak usah datang! Ternyata hatiku gak sekuat itu melihat dua manusia sialan yang ada di pelaminan sana," gumam Ana seraya menahan emosi.


Mata perempuan itu beralih pada aneka stand makanan yang cukup menggiurkan. Ia pun mengambil beberapa makanan lalu membawanya ke tepi kolam renang.


Di tempat yang sepi itu Ana mulai memakan beberapa potongan dimsum yang tadi ia ambil. Ia masukan pelan-pelan sambil sesekali mengusap air mata yang berderaian.


"Andai saja hatiku lagi baik-baik aja, pasti aku bakalan ngabisin dimsum ini sama panci-pancinya," gumam Ana.


Ia terus saja memasukan potongan demi potongan meski perutnya sudah sangat mual sekali.


Di titik ini Ana baru menyadari bahwa dimakan macan jauh lebih baik daripada diselamatkan oleh perjaka tampan dari hutan.


Andai saat itu Ana tidak diselamatkan, Naki. Pasti hatinya tidak akan sesakit ini.


"Mau apa kamu ke sini?"


Suara dingin yang tidak asing itu sontak membuat Ana menoleh. Perempuan itu menelan potongan dimsum terakhir di mulutnya, lalu mengusap air matanya dengan cepat sebelum ada yang menyadari.


"Aku diundang," jawab Ana dengan suara dingin juga.


Ia tatap tubuh jangkung pria yang ada di depannya lekat-lekat. Semakin dia mendekat, rasanya semakin jauh untuk Ana mengejarnya.


"Nasya mengundang kamu karena dia masih menganggap kamu teman, tapi bisa-bisanya kamu menampar temanmu sampai terluka parah. Apa kau tahu?"


Naki semakin mendekat hingga jarak berdiri mereka kurang dari satu meter.

__ADS_1


"Gara-gara kamu Nasya sampai harus operasi wajah ke rumah sakit Singapur. Kamu keterlaluan," ucap Naki.


Mendengar itu dua bahu Ana mengedik.


"Dia operasi wajah bukan karena aku, tapi karena wajahnya jelek."


"Beraninya kamu menghina tunanganku seperti itu! Memangnya kamu tidak sadar kalau kamu itu lebih jel--?"


"Jelek?" potong Ana cepat. "Mau kamu hina aku jelek, aku buluk, aku gak cantik. Aku engga peduli Naki!"


Ana tersenyum miring.


"Toh semua itu nggak akan merubah kenyataan kalau aku adalah wanita pertama untukmu. Wanita pertama yang kamu bilang cantik, dan wanita pertama yang kamu cintai. Ck!" Dia berdecak setelahnya.


Naki spontan terdiam. Kesombongan lelaki itu seolah lenyap dalam sekejap waktu.


"Ups, Sorry! Bukannya aku bermaksud mengungkit masa lalu kita. Aku cuma pengin ngingetin kamu takutnya lupa l."


Mendengar itu Naki mengepalkan dua tangan. Harga dirinya seolah terkoyak oleh kata-kata Ana.


"Seharusnya kamu ngaca dulu sebelum menghinaku Naki. Ingat, siapa orang pertama yang selalu ada buat kamu! Tanpa aku mungkin kamu nggak akan bisa ada di titik ini."


Ana melenggang pergi setelahnya. Ia benar-benar sudah muak dengan pesta dan segala yang ada di tempat ini.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2