
Satu Minggu berlalu.
Semenjak Ana tahu Naki sudah tiba si dunia manusia ia terus menghubungi Nasya. Berkali-kali perempuan itu datang ke apartemen Nasya hanya untuk memohon dipertemukan dengan Naki. Dan berkali-kali juga Nasya menolak dengan alasan Naki tidak mau bertemu dengan siapa pun.
Tit ... Tit ... Tit.
Tit ... Tit ... Tik
Itu adalah bunyi tombol pintu apartemen yang sedang dipencet Ana. Hari ini perempuan itu berniat menunggu Nasya pulang. Ia juga sudah menyiapkan bekal makanan untuk jaga-jaga bila mana hari ini Nasya tidak pulang.
Pokoknya dengan cara apa pun Ana harus meyakinkan Nasya untuk mempertemukan dirinya dengan Naki.
"Loh, ko paswordnya salah?"
Ana mematung di depan pintu dengan wajah kebingungan. Kepalanya mulai celingak-celinguk, dia takut di kira sedang maling oleh orang lain. Gadis itu pun segera merogoh ponsel untuk menghubungi Nasya.
"Mbak.
Seorang petugas tiba-tiba datang sambil menepuk pundak Ana. Reflek gadis itu berjingkit karena kaget.
"Mau cari siapa Mbak?" tanya si petugas itu.
"Oh ini, aku mau nunggu temenku. Dia tinggal di apartemen 202."
__ADS_1
Petugas kebersihan itu pun tersenyum. "Apartemen ini sudah dijual Mbak. Semua barang-barangnya juga sudah diangkut tadi malam."
"Hah? Mbak gak salah lihat kan? Masa dijual si? Kemarin sore aja saya masih di sini loh."
"Buktinya pasword yang Mba masukin tadi salah 'kan? Berarti informasi yang saya berikan tidak salah. Saya tahu karena saya adalah petugas," jelas perempuan itu.
Ana menggaruk kepalanya canggung. "Ya udah deh, Mbak. Maaf soalnya saya tidak tahu kalau temen saya sudah menjual apartemen ini."
Sambil menahan malu Ana berlalu meninggalkan petugas itu. Dia menarik napas panjang. Kini harapan Ana makin tipis karena Nasya masih tidak bisa dihubungi sejak kemarin. Di tambah apartemennya sudah dijual.
"Sebenarnya ada apa si, kenapa sekarang Nasya jadi berubah?"
Lagi-lagi Ana mendesahkan napas, kasar. Dia membuka chanel vlog Nasya. Di sana ada vlog Nasya ketika menyelamatkan Naki. Ana membaca beberapa komentar netizen yang menjodoh-jodohkan Naki dengan Nasya. Mereka bilang keduanya memiliki chemistry yang sangat baik.
Apa karena ini Nasya jadi berubah?
"Nggak mungkin! Aku tau banget selera Nasya kayak gimana. Dia nggak bakalan mau sama cowok polos kaya Naki. Tapi---" Dia mengatungkan argumentasinya.
"Tapi kira-kira kenapa ya, Nasya tiba-tiba ngilang dan ga mau bales pesan aku? Apa ini karena aku yang terlalu memaksakan diri untuk bertemu Naki? Itu sebabnya Nasya kesal sama aku?"
Dia terus bertanya-tanya di sepanjang jalan. Rasa aneh bila tiba-tiba Naki menolak bertemu dengan dirinya.
*
__ADS_1
*
*
"Hmmm. Apartemenya bagus banget. Seumur hidup aku nggak pernah nyangka kalau nasibku bakalan berubah seperti ini," guman Nasya.
Dia melirik sumber uang yang tengah berdiri di dekat jendela kaca. Naki terlihat melamun sambil memandangi pemandangan di luar gedung.
"Naki, apa kamu senang tinggal di rumah baru kita?" tanya Nasya. Mengetahui Naki sedang sedih, dia berjalan mendekati sumber kekayaannya itu.
"Aku kangen rumahku yang ada di hutan," ucap Naki.
"Kalau kamu kangen, kapan-kapan kita bisa main ke sana."
"Benarkah!" Mata Naki langsung berbinar cerah. Nasya ini tipikal manusia yang pandai mengambil hati sesama manusia. Jadi tidak heran kalau Naki selalu termakan omongan perempuan itu.
"Iya Naki. Aku akan mengajakmu ke sana. Tapi dengan satu syarat, kamu harus kembali pada kakekmu," ucap Nasya.
"Kembali ke kakek?" Naki membeliak tidak senang. "Aku tidak mau. Aku hanya mau bersamamu saja," lanjut lelaki itu.
Mendengar Naki masih saja kekeh Nasya langsung membuang tatapan kesal. Ia benar-benar tidak tahu harus dengan cara apa merayu Naki.
Dua hari yang lalu Nasya dan Naki bertengkar masalah ini. Nasya berusaha menjelaskan soal keinginan Kakek Buranaphan, tapi Naki malah berburuk sangka dan langsung menolak keinginan itu.
__ADS_1
"Ayolah Naki. Kakekmu bilang sendiri kalau kau kembali semuanya akan aman terkendali. Toh sudah tidak ada ibu tirimu yang jahat itu. Jadi apa yang kau takutkan lagi?"
"Kalau aku bilang tidak mau ya tidak mau!" pungkas Naki.