Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Bolong


__ADS_3

"Kamu lapar tidak?"


"Laparlah, dari pagi aku cuma makan buah. Memangnya kamu ada makanan yang bisa dimakan?"


Lelaki itu menggeleng. "Kalau makanan si tidak ada. Cuma aku bisa menangkap ikan untuk dibakar. Kamu suka ikan tidak?"


"Suka ... Suka!" Ana tersenyum girang. Tentu saja wajahnya langsung berubah semangat. "Kalau begitu tolong tangkapkan ikan yang banyak untuk aku, Naki."


"Sip!" Dia menunjukkan jempol kebalik pada Ana.


"Ish, bukan begitu cara pakenya. Tapi begini. Menghadap ke atas."


"Oh, maaf." Lelaki itu menggaruk kepalanya dengan ekspresi bodoh. Selain mengajari bahasa santai, dia juga mulai belajar bahasa isyarat seperti berjabat tangan dan mengacungkan jempolnya ke atas. Pelan-pelan Naki berusaha menyesuaikan diri dengan Ana supaya gadis itu tidak berisik terus.


Naki kemudian membangunkan gajahnya yang tengah tidur. Gajah itu tampak mengibaskan telinga, kemudian masuk ke area hutan seolah mematuhi perintah Naki.


"Naki. Kamu lagi ngapain ...." Ana berlari ke arah pria itu. "Itu tadi kamu ngomong apa sama gajahmu? Kok kayaknya dia nurut dan langsung pergi!"


" Aku menyuruh dia pulang untuk mengambil bara api. Kita 'kan mau masak ikan bakar."


"Hah? Cara ngambilnya bagaimana? Memangnya gajah itu tidak takut panas? Kalo belalainya melepuh gimana?" Ana melongo cengo. Meskipun dia tahu gajah itu hewan pintar, tetapi ia belum pernah lihat gajah membawa bara api.


"Tenang saja. Dia sudah terbiasa." Naki tersenyum.


Sebenarnya Naki menaruh bara dalam sebuah gentong yang terbuat dari tanah liat.


Bara itu tertutup rapat, dan untuk membawanya, gajah hanya tinggal mengangkat kayu yang sudah diberi pengait. Tidak panas dan tidak berbahaya jika sudah terbiasa.


Meskipun otak Ana tidak sampai ke sana. Namun, gadis itu berusaha menyesuaikan diri.

__ADS_1


"Terus macan kamu yang dari tadi kerjanya cuma tidur mulu bisa nangkep ikan gak?" tanya Ana penasaran.


Naki mengangguk sambil tersenyum lucu. "Tentu saja bisa, tapi karena hari sudah sore, aku akan menyuruh dia menemanimu."


"Eh, yang bener aja. Masa kamu masrahin aku sama macan?" Ana merapatkan tubuhnya ke arah Naki sambil bergidik ketakutan.


"Nggak mau, ah!" Tolak anak itu.


"Dia tidak akan memakanmu Ana."


Gadis itu tetap menggeleng. Lagian orang bodoh mana si yang maung berduaan dengan macan?


"Tapi macan itu hewan buas Naki. Meskipun gak makan aku tapi dia pasti bisa gigit!"


"Percayalah padaku, dia sudah terlatih bertahun-tahun. Kalau kamu bersama macan aku yakin tidak akan ada beruang liar yang menerkammu."


Gadis itu menepuk jidat. Otaknya masih terlalu waras untuk duduk berdampingan dengan macan.


Naki kemudian menggandeng tangan Ana dan berjalan ke arah si macan. Dia mendudukan Ana di samping macan itu secara paksa.


"Ya Tuhan ... Ya Tuhan! Aku belum mau mati," lirihnya.


Tersenyum lagi, Naki kemudian berjalan menuju air. Ana celingak-celinguk seperti orang bodoh.


"Huaaaaa ...." Dia berteriak saat macan itu menguap. Macannya kaget dan langsung menerkam kaki Ana tanpa ngomong permisi.


"Arghhh, sakit!"


"Naki ... Naki ... Aku dimakan macan," teriak gadis itu kencang-kencang. Naki yang baru saja hendak menyeburkan diri ke air langsung menoleh.

__ADS_1


Tampak Ana sudah dalam posisi tidur. Dan macan itu menunggangi tubuh Ana dari atas.


Naki segera beralir dan menendang macan itu dengan satu kaki. Itu bukan gerakan menyakiti, tapi semacam peringatan bahwa Ana adalah bidadari yang harus dilindungi.


"Kamu tidak apa-apa, Ana?"


"Tidak apa-apa bagaimana? Kamu telat sedikit saja pasti aku sudah jadi tulang," sungut anak itu. Ia agak meringis menahan sakit pada lengannya.


"Maaf Ana."


"Nggak segampang itu minta maaf, Naki. Ini masalah nyawa, dan macan yang kamu bilang terlalu baik itu doyan makan manusia," sungut Ana lagi.


Naki tak menjawab. Ia melihat tangan Ana yang baru saja digigit macan. "Lukanya tidak terlalu dalam, hanya bolong empat."


"Hanya?"


"Bolong empat kamu bilang hanya?" Gadis itu menggeleng tak percaya. Kok bisa ada orang beloon macam ini, pikirnya geram.


"Bisa ya, kamu bicara seenteng itu," ujar Ana.


"Maaf Ana. Sepertinya macanku mau ngajak kamu kenalan. Dia sama sekali tidak berniat memakanmu, kok. Itu hanya bercanda."


"Oh, jadi bercandanya macan sampai membuat tanganku bolong kena taringnya ya?" Gadis itu mendengkus.


Baru sehari di tempat ini saja sudah nyaris mati, apalagi kalau nanti, pikirnya.


"Maaf Ana."


"Nggak usah minta maaf terus! Belum juga lebaran." Ana mendelik ketus. Naki malah tersenyum. Sepertinya dia mulai suka dengan karakter manusia aneh yang cerewet ini.

__ADS_1


__ADS_2