
"Tunggu dulu!" Suara seram Naki membuat asistennya menghentikan langkah.
"Lepaskan dia!" ucap Naki dingin.
Mendengar itu Ana sedikit mengernyit. Hatinya bertanya; kemana Naki yang dulu hangat dan selalu bertutur kata lembut?
Apakah semua perubahan itu karena Nasya? Atau karena dia sudah pindah ke dunia manusia?
"Ada apa Tuan? Wanita ini sepertinya sedang menggunakan nama Kakak Anda untuk melindungi diri. Kita tidak bisa percaya kepadanya begitu saja," ujar Asisten Naki. Lelaki bernama Ramon itu berusaha meyakinkan majikannya untuk tidak mudah percaya pada Ana.
Ramon adalah asisten Naki yang selama ini selalu ada di dekatnya. Dia pula yang melindung dan mengajari Naki belajar banyak hal. Jadi sudah sepatutnya Ramon melindungi Naki dari perempuan yang penuh dengan tipu muslihat seperti Ana.
"Aku bilang lepaskan ya lepaskan! Aku mengenalnya. Dia adalah perempuan yang dulu tinggal di hutan bersamaku. Dia orangnya," ucap Naki.
Mendengar itu Ramon terkejut. Dia baru menyadari kalau Ana adalah perempuan yang dulu dikabarkan pernah dekat dengan Naki. Tapi putus entah karena hal apa.
"Baik, Tuan!" Ramon mulai melepaskan tangan Ana perlahan. Meskipun begitu tangan Ana sudah terlanjur sakit bahkan sampai memerah.
"Ikut aku!" Naki pun menyeret Ana ke ruangan lain. Meninggalkan Adam yang masih berdiri terpaku di posisinya.
Di sebuah taman yang cukup luas. Naki mulai melepaskan cekalan kuatnya pada tangan Ana.
__ADS_1
"Ngapain kamu ke sini?"
"Aku ke sini bersama adam," ujar Ana sok sewot.
"Ya, ngapain?" tanya Naki penuh nada menyelidik.
Sebenarnya ini adalah kesempatan emas untuk Ana pura-pura mengaku kalau Adam adalah pacarnya. Tapi dia butuh instruksi Adam. Takutnya Ana salah bicara dan membuat rencana mereka jadi gatot.
"Mau apa pun, itu bukan urusanmu!"
"Ini rumahku. Apa yang ada di sini sudah menjadi urusanku," ujar Naki masih dengan nada berapi-api.
Bentakkan tak ber etika itu membuat Ana meradang. Kepalanya terus berpikir bagaimana caranya membalas kesombongan lelaki itu. Tapi otaknya terlalu buntu untuk diajak kompromi.
Sial, kenapa setelah sekian lama tidak bertemu dengan Naki dia malah makin tampan, batin gadis itu. Ia benar-benar kesal dengan matanya yang tidak bisa diajak kompromi.
"Ayo katakan. Ngapain kamu di sini? Apa kamu sengaja ingin mengganggu kebahagiaanku dengan Nasya? Kamu iri dengan keluarga kecil kami?"
Pertanyaan Naki memang 100 persen benar semua. Ana sangat iri. Tapi tidak mungkin juga 'kan, Ana menjawab iya?
Sementara itu, mulut Naki yang jahat membuat Ana sadar kalau lelaki itu bukan lagi Naki yang Ana kenal dulu. Dia harus bersikap tegas agar bisa melawan kesombongan lelaki itu.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan kamu ngarepin aku balik sama kamu? Kamu menyesal udah ninggalin aku? Kamu masih sayang sama aku?" cecar Naki lagi.
"Kamu terlalu percaya diri Naki. Untuk apa aku mengharapkan sampah seperti kamu."
"Hei, jaga bicara kamu! Kamu lupa ini rumah siapa?"
"Cih!" Ana menyunggingkan bibirnya geli. "Tanpa aku kamu tidak mungkin bisa ada di rumah ini. Kamu lupa siapa orang pertama yang membujuk kamu untuk kembali ke habitat manusia?"
"Orang pertama itu adalah kamu. Tapi kamu malah memanfaatkan aku buat kepentingan kamu sendiri. Memangnya aku bodoh?" maki Naki.
Hal itu membuat Ana mendekat. Mereka saling tatap dengan jarak yang cukup dekat sekali.
"Kamu memang bodoh! Itu sebabnya hati kamu engga bisa ngerasain ketulusan aku."
Sontak Naki terdiam.
"Tapi sudahlah. Engga enak juga ngungkit masa lalu. Toh sekarang kamu sudah bahagia sama anak dan istri kamu. Jadi aku harap ke depannya jangan ganggu aku. Biarin aku bahagia sama hidup aku yang sekarang."
Ana pun maju satu langkah kemudian menepuk dua bahu Naki. Kepala lelaki itu langsung dipenuhi tanda tanya besar. Alisnya mengernyit heran.
Setelah itu Ana berbalik untuk pergi. Tapi baru tiga langkah ia berhenti. Tubuhnya kembali memutar seiring dengan mata yang juga kembali menatap pria itu.
__ADS_1
"Oh ya, adapun orang yang seharusnya menyesal adalah kamu. Aku nggak pernah meninggalkan kamu. Aku cuma kesulitan meyakinkan lalat kalau bunga jauh lebih indah dari pada bangkai. Sampai sini paham, 'kan?"
Sebelah Alis Ana meninggi. Sementara Naki terpaku tanpa bisa berkata-kata lagi.