Perjaka Tampan Dari Hutan

Perjaka Tampan Dari Hutan
Bicara Empat Mata


__ADS_3

"Bisakah kita bicara di tempat lain?" izin Adam terlihat tidak nyaman. Soalnya mereka sekarang ada di tempat ramai. Beberapa orang terlihat lalu lalang, dan sesekali melirik Adam ataupun Ana yang cukup menghalangi jalan.


Ana mengerutkan dahinya. Jelas dia tidak setuju karena hari ini ada janji dengan seseorang.


"Tapi hari ini saya ada janji dengan orang lain," ucap Ana merasa sungkan. "Kalau boleh bicaranya lain kali saja," ucap Ana menolak secara tidak halus.


"Aku tahu kamu ada janji dengan Fikri, kan? Fikri itu supir aku. Aku bisa dengan mudah ngelarang dia pergi nemuin kamu kalo aku mau."


"Eh?"


Mendengar itu, dua alis Ana semakin tertaut. Dia benar-benar tidak mengerti maksud dan tujuan pria berumur itu mengajaknya bicara.


"Tapi setelah kita bicara, apakah aku boleh bertemu dengan Fikri?"


"Silakan," jawab Adam santai. "Yang penting sekarang aku mau bicara empat mata denganmu dulu. Tidak lama kok, paling setengah jam," ujar Adam.


Kepala Ana sedikit mengangguk meski ia tak tahu maksud dan tujuan Adam menemuinya untuk apa.


"Tunggu aku di kantin rumah sakit, aku mau ganti baju dulu."


"Baiklah, aku ke sana sekarang." Adam langsung nyelonong pergi setelah mengatakan itu. Masih dalam posisi berdiri yang sama, Ana terus memperhatikan langkah adam yang terus menjauh darinya.


"Sebenarnya siapa om-omo itu? Perasaan aku gak kenal! Apa ada memoriku yang rusak dan terlewat?" Ana menarik napas panjang. Dia pun segera pergi ke ruang ganti.


*


*


*

__ADS_1


Setelah ganti baju, Ana menyeret langkahnya menuju kantin. Tak susah menemukan laki-laki bernama Adam itu. Penampilan dan tubuhnya paling mencolok. Hanya dalam sekali mengedarkan pandangan Ana langsung tahu kalau adam ada di pojok kiri, tepatnya duduk di depan warung nasi goreng langganan Ana. Sayangnya warung itu sudah tutup karena hari sudah sore.


Ana pun mendekat perlahan. Dia berusaha memutar memori dan mengingat-ingat sesuatu yang terlewat.


Sebenarnya siapa dia?


Sudah ribuan kali Ana memperhatikan pria bernama Adam itu, tetapi sampai detik ini ia masih saja bingung. Mau dibolak-balik seperti apa pun Adam tetaplah lelaki asing yang belum pernah Ana temui.


"Permisi," ucap Ana.


Gadis itu pun duduk. Pandangan mereka saling bertemu sebelum akhirnya Ana melempar tatapannya ke arah lain.


Adam sendiri paham kalau Ana merasa canggung pada dirinya. Itu jelas tidak aneh karena mereka belum pernah ketemu sebelumnya.


"Mau langsung ke intinya apa bagaimana?" tanya Adam.


"Kalau begitu perkenalkan sekali lagi. Namaku adalah adam ... Aku adalah Kakak tiri Naki."


"Naki?"


Akhirnya Ana menyebut Nama keramat yang sudah lama sekali tidak ia ingat-ingat.


"Maksud Om Naki suaminya Nasya? Yang dari hutan itu?" Ana pun mengubah panggilannya. Setelah di pikir-pikir Adam terlalu tua untuk dipanggil menggunakan bahasa aku kamu.


"Tepat sekali," ucap Adam. "Tapi kalau bisa jangan panggil aku, Om. Usiaku baru 45 tahun, aku juga belum menikah."


"Ah, maaf!" Ana mengatupkan bibirnya. "Usiaku 28 tahun, berarti kita beda 17 tahun. Menurutku terlalu tua jika aku memanggil dengan sebutan kamu," ucap Ana lagi.


"Kamu boleh memanggilku Kakak," ujar Adam.

__ADS_1


"Tapi kamu bukan Kakakku!"


"Aku juga bukan Om kamu!"


Keduanya malah berdebat dan melupakan tujuan utama Adam mendatangi Ana.


"Ah, sudahlah! Kamu mau memanggilku apa saja terserahmu. Yang jelas tujuanku ke sini karena aku ingin minta bantuan sama kamu."


"Bantuan apa? Kalau ada hubungannya dengan Naki aku tidak mau," tolak Ana secepat kilat.


Dari wajah Adam yang berubah, Ana bisa menebak kalau tujuan Adam menemuinya memang ada hubungannya dengan Naki. Untungnya Ana langsung sigap menolak.


"Wah, bagaimana ini? Belum apa-apa sudah ditolak. Padahal aku memang mau menemuimu karena ada hubungannya dengan Naki."


"Memangnya Naki kenapa?" tanya Ana penasaran.


"Naki baik-baik saja. Rumah tangganya dengan Nasya sangat tentram, dan sekarang mereka sudah dikaruniai anak perempuan yang lucu sekali. Umurnya 2 tahun lebih," ucap Adam.


Mendengar itu, napas Ana menderu dipenuhi emosi. Lantas untuk apa dia mendatangi Ana kalau hanya untuk pamer kebahagian Naki?


Tanpa sadar tangannya di bawah meja mengepal secara perlahan.


"Kalau rumah tangganya harmonis begitu kenapa minta bantuan aku? Dasar aneh," maki Ana. Dia langsung berdiri. Sambil menghentakkan kakinya dia berbalik dengan maksud ingin meninggalkan Adam.


"Ana, tunggu!" Adam menarik tangan perempuan itu. "Eh, maaf!" Buru-buru dia melepaskannya kembali.


"Tolong jangan pergi dulu, Ana. Aku benar-benar butuh bantuanmu."


***

__ADS_1


__ADS_2