
Pada kenyatannya, apa yang Ana ucapkan tidak sesuai dengan yang ada dalam perasaan.
Sesampainya di rumah Ana menangis seperti orang gila. Dia sakit hati dengan sikap Naki, juga sakit dengan penghianatan yang dilakukan oleh sahabatnya.
"Dasar pria sialan! Pria bodoh! Gak punya otak," maki Ana.
Ayah dan Ibunya yang sedang mengintip hanya bisa mengernyit sembari saling pandang satu sama lain.
"Yah, coba kau teleponkan anak juragan beras itu. Rasa-rasanya Ana patah hati lagi."
"Sepertinya karena pria hutan itu, Bu " bisik Ayah.
Brakk!
Sebuah toples berisi astor melayang ke pintu. Buru-butu mereka lari sebelum Ana semakin jadi. Astor itu berserakan di lantai kamar Ana hingga tak bisa dimakan lagi.
"Aku benci kamu Nasya! Aku benci kamu!" teriak Ana.
Rasanya apa yang ia alami saat ini seperti sebuah mimpi.
"Naki sialan. Tidak seharusnya kamu kembali ke dunia manusia. Manusia bodoh macam kamu emang pantasnya di hutan aja, hu hu hu hu," tangisnya menderu-deru.
Di dapur, Ayah dan Ibu sibuk berdiskusi soal putrinya. Mereka memikirkan kelakuan Ana yang semakin hari semakin melenceng di luar nalar.
"Lama-lama Ana kayak pasien rumah sakit jiwa. Bukannya jadi perawat, bisa-bisa Ana yang nantinya dirawat," gerutu Ibu.
"Diapain sebenarnya dia sama si manusia hutan itu, Bu? Apa jangan-jangan Ana diperkosa?"
"Halahhh, nggak mungkin! Dari logatnya pasti itu ditinggalin. Memangnya Ayah tidak tahu kalau pria hutan itu dekat dengan temannya yang selebgram itu."
"Oh, si Nasya? Iya si Bu, kalau dibandingkan Ana Nasya jauh lebih cantik. Wajar kalau pria hutan itu lebih memilih Nasya dibanding Ana."
__ADS_1
Mendengar itu, sontak Ibu melempar tatapan garang pada suaminya.
"Kalau ngomong jangan sembarangan ya, kamu! Jelek-jelek gitu Ana adalah hasil fermentasi kecebong Ayah."
Ayah langsung mencicit tanpa suara. Ibu semakin mencak-mencak sampai ke puncak.
"Bukan Ana yang jelek, tapi benih kecebong Ayah yang kurang berkualitas makanya lahirnya anak macam it--"
"Stop!"
Tiba-tiba suata teriakan menggema di dapur itu.
"Cukup, Bu, Yah! Cukup kalian hina anak kalian sendiri. Aku memang gak secantik Nasya, tapi hati aku engga busuk. Setidaknya biarpun anak kalian tidak cantik, dia punya hati dan atitude yang baik."
Semuanya diam. Ekor mata ayah dan ibu terus memperhatikan Ana. Perempuan itu mengambil sebotol air dingin lalu melenggang pergi ke kamar lagi.
*
*
*
"Yah, gimana sama anak juragan beras itu, apa sudah dihubungi?"
"Sudah, Bu. Tapi kata ayahnya dia gak suka cewek."
"Ya ampun Yah! Terus gimana dengan Ana? Ibu benar-benar takut anak itu bunuh diri," ujarnya.
"Pokoknya ibu selalu di rumah. Pastikan Ana tidak melakukan hal macam-macam. Kalau perlu ajak dia melakukan hal-hal positif."
"Hal-hal positif versi Ana itu yang seperti apa, Yah? Ibu mana tahu kesukaan Ana."
__ADS_1
"Ya apa kek, Bu. Nyeblak juga boleh."
"Hmmmm. Ya nanti Ibu coba," ujar perempuan paruh baya itu.
Bu Mia lalu masuk ke kamar Ana sambil membawa segelas air jahe hangat. Dia meletakkannya di atas nakas, lalu membangunkan Ana yang masih tertidur pulas sambil memeluk guling apek kesayangannya.
"An, bangun dulu! Ibu bawa jahe anget buat kamu."
"Bawa pergi lagi aja, Bu. Aku lagi nggak doyan apa-apa."
"Ya Tuhan anak ini. Kamu jangan bodoh Ana. Masa gara-gara laki hutan itu kamu sampai putus asa?"
"Wake up Ana. Wake up. Masa depanmu masih panjang. Ayah dan Ibu pasti akan berusaha cariin jodoh yang lebih baik dari manusia hutan itu," ujar Ibu.
"Justru itu, Bu!" Ana terduduk. Pandangannya beralih ke samping menatap sang Ibu.
"Semakin kalian jodoh-jodohin aku, semakin aku stress karena merasa jelak dan gak laku. Yang ada nanti aku jadi perawan tua kalo kebanyalan minder."
Mendengar itu Ibu menganga sejenak. "Trus mau kamu apa?"
"Berhenti jodohin aku, Bu. Biarin aku bangkit dan mencari jodohku sendiri."
"Yakin?" Ibu memiringkan sebelah kepalanya.
"Yakinlah, Bu. Aku yakin suatu saat aku bisa menemukan kebahagiaanku sendiri meski engga bersama Naki."
"Ya sudah. Cowok hutan itu memang nggak ada pantes-pantesnya sama kamu. Cowok bego pantesnya memang sama cewek licik kaya temen kamu itu."
"Iya, Bu. Maka dari itu aku biarin aja. Suatu saat dia juga bakalan nyadar kalau dia itu oon."
"Sip! Semoga acara resepsinya hujan petir dan gagal total!"
__ADS_1
***