
Adam menarik napas panjang. Niatnya membawa Ana ke sini supaya suatu hari tidak ada kesalahpahaman dengan Tania. Tapi nyatanya dua gadis itu salah paham dan terlibat baku hantam.
Adam mati-matian mencegah Tania memukuli Ana karena gadis itu tidak tahu apa-apa. Namun, Tania malah menganggap apa yang Adam lakukan adalah sebuah kejahatan untuknya. Tania merasa tidak terima melihat suaminya membela perempuan lain.
"Stop, apa kamu tidak bisa memberikan waktu untuk menjelaskan, Tania? Niatku membawa dia ke sini bukan untuk melihat adegan baku hantam. Justru aku ingin memperkenalkan kalian berdua supaya kalian bisa akrab."
"Enak saja kamu berharap aku akrab sama selingkuhan kamu. Dasar laki-laki gila," maki Tania.
Kesabaran Adam nyaris habis. Entah harus berapa kali ia menjelaskan kalau Ana bukan selingkuhannya. Adam pun terpaksa melepaskan Tania, membiarkan perempuan itu melakukan apa pun yang ingin dia lakukan terhadap Ana.
"Baiklah kalau kamu tidak percaya. Silakan pukuli Ana sampai mati. Dengan begitu aku bisa benar-benar mencari perempuan lain setelah kamu dipenjara," ucap Adam kesal.
Melihat Adam bersikap begitu, Tania malah urung menghajar Ana.
"Aku tidak tahu ada hubungan apa antara kalian berdua. Tapi apa yang kamu lakukan tadi jelas menyakiti mataku," ucap Tania sambil menatap Ana. Dia sudah tidak menggila seperti tadi.
"Maaf, Mbak! Aku sungguh tidak bermaksud. Yang tadi sumpah hanya murni bercanda," balas Ana. Dia benar-benar menyesal dengan sikapnya yang lancang.
Kepala mereka berdua sepertinya mulai sedikit dingin. Terbukti Ana dan Tania bisa sama-sama bicara tanpa saling memukul.
"Bercanda ada batasnya. Apalagi bercanda sama suami orang." Tania tak mau kalah. Maua bagaimanapun Ana memang bersalah.
"Nah, itu dia masalahnya. Suamimu bilang padaku masih single. Kalau tahu dia sudah menikah, aku mana sudi bercandaan dengan dia," sungut Ana kesal.
Semua rasa bercampur jadi satu adonan dalam tubuh Ana. Malu, kesal, capek, sakit, semua itu tak bisa digambarkan lagi.
"Semuanya memang salahku, sebaiknya kita masuk ke dalam. Aku akan meluruskan kesalahpahaman ini," ucap Adam.
Mereka bertiga pun terpaksa masuk. Tania agak marah saat Adam menyuruhnya membuat tiga minuman, tapi dia tetap melakukannya.
Tania kemudian memberikan kotak obat. Dia menyuruh Ana mengobati beberapa luka cakaran yang ada di tubuh Ana. Setelah keadaan mulai membaik, Adam pun mulai bercerita.
Adam menggenggam tangan Ana. "Izinkan aku cerita pada Ana dulu. Dia adalah pihak yang paling bingung di antara semuanya," ucap Adam. Ana langsung merapikan duduknya. Dia bersiap mendengarkan penjelasan Adam.
Pertama-tama, aku sungguh minta maaf padamu, Ana. Karena ketidak jujuranku, kamu jadi harus terkena imbasnya," ucap Adam.
"Sebenarnya aku sudah punya istri, tapi tak ada satupun yang tahu kalau aku sudah menikah karena suatu alasan. Maka dari itu aku ragu memberi tahu kamu, tapi pada akhirnya aku berpikir untuk memberi tahu kamu dan membawamu ke sini," jelas Adam.
Ana cukup kecewa. Tapi Nasi sudah menjadi bubur. Dia hanya bisa merasakan betapa sakitnya tubuh yang harus menahan bekas-bekas luka itu.
"Kenapa harus disembunyikan? Kalau sejak awal aku tahu kalau Om sudah menikah, aku pasti bakalan jaga jarak. Tapi Om ngaku single, makanya aku santai aja pas ngajakin Om nikah."
"Jadi kamu sudah sampai melamar Adam?" Tania langsung menyergah tanpa bisa dicegah.
"Ini hanya bercandaan anak muda, Mba. Saya sama sekali tidak tertarik dengan Om-Om, apalagi Om-Omnya sudah menikah," tegas Ana.
__ADS_1
Tania agak menarik napas lega. "Syukurlah."
Dalam diam Ana bersungut-sungut. Tania adalah wanita muda yang umurnya paling-paling tidak beda jauh dengan Ana. Wajah perempuan itu sangat cantik, bahkan jauh sekali dengan Ana.
Sejenak Ana merasa malu karena pernah ngajakin Adma menikah. Pantas saja Adam bilang kalau Ana bukan tipenya. Ternyata tipe Adam sendiri jauh-jauh di atas Ana.
"Lagi pula kalian ngapain si, menikah diam-diam?"
Tania dan Adam saling pandang ketika mendengar pertanyaan Ana berikutnya.
"Karena Kakek tidak setuju dengan Tania. Dia adalah anak dari almarhum musuhnya Kakek. Itu sebabnya kami diam-diam menikah tanpa restu ataupun memberi tahu siapa pun."
"Ya ampun, ternyata pernikahan kalian lebih dramatis daripada pernikahan Naki dan Nasya. Terus mau sampai kapan disembunyikan terus?" tanya Ana.
"Akhirnya poin pertanyaan Ana sampai di titik yang paling ditunggu Adam. Dia bisa sekalian menjelaskan pasa Tania setelah ini.
"Secepatnya aku ingin menjelaskan. Tapi setelah masalah Naki kelar dahulu. Aku ingin melihat Naki bahagia."
"Kenapa harus menunggu Naki bahagia?" tanya Ana heran.
"Karena jika Naki belum bahagia, Kakek pasti tidak akan setuju. Setidaknya aku bisa mulai mencari kebahagiaanku setelah menebus dosa ibuku kepada adikku. Kamu paham bukan?"
Ana memanyunkan bibirnya. Kemudian sedikit ber Oh ria sambil memperhatikan ekspresi Adam yang tampak malu.
"Oh, jadi sejak awal memang sudah ada udang di balik batu ya? Om sengaja nyariin aku supaya Om bisa gunain aku. Selain untuk Naki, Om juga mencari aku untuk kepentingan Om sendiri," ujar Ana.
"Om sengaja ingin melakukan sesuatu yang besar di keluarga Buranaphan supaya mendapat restu. Iya, 'kan?"
Adam mengangguk pelan. Ana ini kalau soal tebak menebak memang pintar sekali.
"Maaf karena sejak awal tidak jujur padamu. Tadinya aku pikir kita bisa melakukan sandiwara itu tanpa melibatkan Tania, tapi lama kelamaan aku merasa bersalah. Jadi aku memutuskan untuk mempertemukan kalian berdua. Tania, ini adalah Ana."
Adam menarik tangan Tania supaya mau berkenalan.
"Ana adalah mantan pacar Naki. Aku dan Ana sengaja pura-pura pacaran supaya Naki cemburu, dan apa yang kami lakukan sedikit membuahkan hasil."
"Hmmm. Kenapa tidak bilang dari awal?"
Tania mengernyit kecewa.
"Jujur aku tidak yakin dengan kalimat pura-pura itu. Aku takut kalian terlibat perasaan, dan aku tidak mau menjadi korban.'
Adam menggenggam tangan Tania. " Tania, percayalah. Apa yang aku lakukan demi kebaikan bersama. Seperti yang Ana bilang, setidaknya aku harus mengambil hati kakek dulu supaya kita bisa mendapat restu," ujar Adam.
Tania hendak marah dan pergi, tapi Adam buru-buru menarik perempuan itu kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Untuk kali ini saja, tolong percaya padaku Tania."
Tania menarik napas panjang. Dia melepas pelukan Adam, lalu mencium bibir pria itu tanpa peduli ada Ana yang melihatnya.
Ana sedikit terkejut. Adegan ciuman mereka berlangsung cukup lama seolah Ana benar-benar dianggap kasat mata oleh keduanya.
Sialan, apa mereka tidak punya malu, batin Ana dalam diam.
Setelah ciuman itu terlepas Adam menoleh pada Ana.
"An, kamu boleh jalan-jalan di sekitar sini kalau bosen. Aku dan Tania ada urusan mendesak."
Adam kemudian menarik tangan Tania menuju kamar setelah mengatakan itu. Ana setengah menganga. Dengan tidak tahu dirinya Adam berpamitan untuk melakukan adegan uh ah kepada Ana yang notabene masih seorang gadis.
Tak lama kemudian terdengar suara ganas dan ranjang yang berdecit. Karena Villa itu terbuat dari kayu, jadi suaranya cukup mengganggu dan membuat Ana merinding sendiri.
Ana memutuskan untuk keluar dan berjalan-jalan sejenak. Melihat pantai dan suasana pepohonan yang indah membuat Ana teringat kenangannya saat tinggal di hutan dulu.
Ya, momen itu adalah momen paling indah sebelum Naki berubah. Kini Ana tak yakin apakah dia bisa kembali merasakan momen itu lagi atau tidak.
Hari menjelang sore saat Ana dan Adam pamit pulang. Ana turut sedih melihat Tania menangis saat mobil Adam meninggalkan pelataran villa tersebut.
Dia baru tahu kalau Adam jarang sekali berkunjung. Pantas mereka tidak keluar kamar sampai sore menjelang. Di situ Ana harus menahan lapar dan haus karena tidak diberi makan dan minum.
"Dulunya Tania adalah gadis kesayangan Kakekku. Tapi semenjak orang tuanya menjadi penghianat, Kakek sangat benci sekali terhadap Tania." Adam mulai buka suara.
"Memangnya orang tua Tania berkhianat apa?"
"Mereka membuat perusahaan Kakek nyaris bangkrut. Gara-gara mereka membocorkan data rahasia PT Mahameru grup, perusahaan itu nyaris gulung tikar, dan parahnya lagi, nenek meninggal karena terkena serangan jantung."
"Wah, pantas Kakek sangat membenci Tania."
Adam tersenyum kecut. "Tapi dia tidak bersalah. Saat semua itu terjadi, Tania hanya gadis kecil yang tidak tahu apa-apa. Bahkan Tania merasakan dampak yang buruk. Karena ulah orang tuanya yang memilih bunuh diri demi lepas dari tanggung jawab, dia harus hidup sebatang kara dan menderita seorang diri."
Mulut Ana terbuka sedikit. Ternyata masa lalu Tania sangat kelam. Pantas saja Adam begitu menyayangi gadis itu, pikirnya.
"Saat itu akulah yang menyemangati Tania. Diam-diam aku menyembunyikan Tania dan merawatnya sampai besar. Usiaku dan Tania terpaut 10 tahun. Tapi itu tak menggoyahkan perasaan kami. Kami saling jatuh cinta, tapi sayangnya saat aku membawa Tania ke hadapan Kakek, dia malah memaki Tania sebagai perempuan tidak tahu diri. Dia mengusir Taniaku dengan keji," ujar Adam.
Ana tak bisa berkata-kata lagi. Cerita Adam tentang Tania terlalu menyakitkan. Pantas saja dia menyembunyikan pernikahannya.
"Tania sempat ingin bunuh diri. Itu sebabnya aku sengaja menikahi dia meski belum direstui oleh Kakek. Setidaknya aku harus memberi dia kepastian meski Tania sering kesepian dan harus tinggal sendirian."
"Lagian kenapa harus ditinggal jauh-jauh si, Om? Om kan bisa menyewa apartemen yang dekat dengan perkotaan."
"Tidak semudah itu, Ana. Jika Kakek tahu nyawa Tania akan terancam. Apa kamu tahu, kita berdua bahkan sudah lebih dari setengah tahun tidak bertemu.
__ADS_1
"Oh, pantes kalian ganas sekali." Ana menjawab dalam hati.
***